Kopi Rempah di Warkop Modjok

Bagian dalam warkop
Bagian dalam warkop © Fransisca Agustin

Nama warungnya, mengingatkan saya pada cowok-cowok jomblo sederhana tapi cerdas nan gemar membaca pengasuh website saudara kandung minumkopi.com. Warkop ini letaknya di pojok jalan utama Perumahan Pondok Hijau, perumahan cukup wah di Bandung Utara. Warkop baru.

Dulu kegiatan ngopi identik dengan bapak-bapak yang nongkrong di pinggir jalan raya sambil ngudud dan ngobrol ngalor-ngidul, diseling ngemil gorengan dan rebusan. Ngobrol segala macam dari politik sampai urusan ranjang, tentang hal-hal yang tak kunjung selesai dan dianggap gak asyik untuk didiskusikan dengan ibu-ibu dan anak-anak.

Itu konsep warkop jadul yang gak move on.

Jaman kiwari, ngopi milik semua. Seperti yang saya lihat waktu saya datang berkunjung kemarin sore. Sengaja saya datang hari biasa, supaya gak terlalu penuh. Areanya mungkin sekitar 150 m2, tapi asli fotogenik!

Tempat ngopi keren bertebaran di Bandung, dengan harga dan rasa bersaing ketat. Semua harus terus memutar otak mencari ide baru dan gesit menangkap trend pasar. Ada satu dua warkop legendaris yang bisa bertahan, lainnya patah tumbuh hilang berganti. Trend teranyar adalah warkop modern minimalis, atau semi outdoor yang bikin bersyukur sekarang bisa foto-foto cukup bagus pakai telepon genggam: kecil, ringan, dan gak boros beli film + cuci cetak lalu harus di-scan buat dikirim lewat email. Kalau lebih pede, malah bisa bikin video pendek bernarasi layaknya video klip.

Warkop Modjok
Warkop Modjok © Fransisca Agustin

Nama warkop ini tradisional beudh, tapi arsitektur luarnya bergaya rumah Laura Ingalls Wilder di Little House on the Prairie. Dibuat dari kayu palet bekas bercat biru muda, dikelilingi pohon dan kembang-kembang kosmos putih, kuning, dan merah muda. Di tangan orang-orang kreatif, sebuah sepeda mini bekas pun tinggal dicat putih dan bim salabim! Jadi objek instagram yang menarik.

Sebelum bisa masuk, saya harus menunggu lima orang mahasiswi mengambil foto ceria di pintu gerbang. Selesai itu, baru saya hendak melangkah, eh empat orang ibu-ibu usia gocap-an berpose gaya ABG sambil bersandar di tiang gerbang. Setelah foto grup, 2 orang diantaranya ingin foto sendiri-sendiri. Memegang tiang gerbang yang sama. Ckckck…

Lolos dari gerbang, gantian saya yang foto-foto.

Di dalam rumah biru itu, sekitar 10 meja kayu kecil disusun berjajar. Kursinya dari bekas drum biru. Di pojok kiri, ada 4 orang sedang rapat santai sambil memilah-milah contoh kain. Di pojok kanan, dua orang bapak-bapak mengobrol dalam bahasa Korea. Di luar sebelah kiri, sepasang muda-mudi berseragam SMA mojok di meja dekat sungai dan rumpun bambu. Di luar sebelah kanan, dengan meja-meja yang lebih panjang, ibu-ibu yang tadi berfoto, ngerumpi dengan asyik.

Di dalam ruangan, sebagai vocal point, di atas peti bergambar bendera Inggris, ada plang bertuliskan;

Coffee doesn’t ask silly questions.
Coffee understands.

“Buku” menunya berupa papan tulis kapur berwarna-warni. Perabot piring, gelas, termos, dan jajanan tempo doeloe disusun artistik. Pilihannya campuran menu kampung dan modern. Tentu saya pesan menu kampung. Saya coba kopi rempah (15K), teh tawar panas (10K), pisang goreng (15K), dan bala-bala (12K). Di ujung meja, ada bermacam biji kopi Jawa dan kopi luwak dalam bungkus kedap udara. Katanya, bisa dijual per sekian gram.

Biji kopi yang dijual
Biji kopi yang dijual © Fransisca Agustin
Kopi pisgor bala-bala
Kopi pisgor bala-bala © Fransisca Agustin

Saya gak yakin, para mahasiswi, ibu-ibu, dan sepasang anak SMA itu bisa membedakan rasa robusta (10K) dan arabika (15K), latte (28K) dan cappuccino (25K), apalagi mengapresiasi kopi luwak (50K). Tapi saya kira, memang gak perlu mengerti kopi untuk menikmati ngopi sambil ngemil, ngobrol ngalor-ngidul, dan foto puluhan frame.

Lima belas menit kemudian pesanan matang. Tidak ada nomor meja. Waiter memanggil-manggil nama yang tertulis. Kopi rempah wangi dalam cangkir seng jadul. Cangkirnya kecil tapi ampas kopi giling kasar satu senti mengendap di bawah. Kental dan enak, tidak manis. Manisnya dari pisang kepok goreng tepung dengan taburan gula aren, serta gurih bala-bala (kol-wortel-waluh goreng tepung) asin renyah bumbu kacang.

Hmmm… Angin dingin Bandung Utara menghembus perlahan…, gemerisik bambu…

Tiba-tiba di luar mulai gerimis, dan kenangan mantan datang tanpa permisi…

Kenangan akan kopi dan bunga kosmos, yang dulu dia petik dan tekuk menjadi cincin di jari manisku.

Fransisca Agustin

Pemusik kuli yang masih terus berusaha menggabungkan antara jurus-jurus Kungfu Hustle dengan David Foster.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Syarifa Nurfadilah

    ikonik sekali tempatnya, gram biji kopinya ada yang isi sedikit sekali ya itu, sengaja begitu kah?
    btw alamat lengkap warkopnya boleh tau?

    • Fransisca Agustin

      Alamatnya Jl. Pinus Raya no. 73B, Komplek Perumahan Pondok Hijau Indah, Isola – Sukasari. Ada kok di Google Maps. Iya, biji kopinya sedikit, mungkin krn mereka belum fokus jual coffee beans. Gak ada price tag, tapi si Mas nya sih bilang bisa beli di-gram, harga nanti tanya dulu sama ownernya.