‘Kopi Persahabatan’ dan ‘Kutukan Balzac’

Hujan baru reda di pertengahan Oktober tahun lalu. Kota Bantaeng, salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, terasa sejuk. Seorang laki-laki berambut panjang dari jasa pengiriman barang datang sore itu. Ia mengantarkan kiriman kopi. Persis yang dikatakan pengirimnya: kopi akan datang dalam waktu tiga hari. Pengirimnya seorang sahabat yang bertemu di Facebook.

Tentu aku bahagia menerima kiriman itu. Belum pernah dalam hidupku aku menerima kiriman istimewa berupa sebungkus kopi dari seseorang yang begitu hangat, meski kami tak pernah bertemu secara langsung. Kopi itu dari Jambi, tepatnya dari Lembah Masurai. Kopi Robusta, tanpa label, dibungkus sederhana dan dihekter kuat di bagian mulutnya. Bibitnya berasal dari daerah Pagar Alam Sumatera Selatan. Bibit kopi ini yang banyak ditanam di Lembah Masurai.

Kiriman kopi kemudian aku masukkan ke dalam lemari plastik di kamar. Sungguh, bukan berniat tak ingin berbagi, tapi aku punya beberapa rencana kecil untuk ‘membayar’ kiriman ini. Aku ingin memotret bungkusan kiriman tersebut sebelum dibuka. Aku juga ingin menjadi yang pertama menyesapnya. Dan terakhir, aku ingin membuat tulisan sederhana soal kiriman kopi itu. Sementara tiga hal tersebut tak mungkin aku lakukan pada hari itu. Aku sedang panas tinggi dan sakit kepala.

Keesokan hari saat sakitku mulai reda, aku mengambil kamera dan memotretnya. Aku unggahfoto itu di Facebook dan menautkan nama pengirimnya. Esok harinya lagi, aku mulai berencana menepati janjiku, menulis.

* * *

Paket kopi persahabatan.

Dani Rimba. Begitu ia menamakan dirinya di Facebook. Entah bagaimana ‘pertemanan’ kami bermula. Dalam ingatanku, ia mulai sering menautkan foto-foto yang menampilkan gambar petani dan aktifitasnya. Khususnya petani kopi di Jambi, tempat ia beraktifitas. Foto-fotonya nyaris memenuhi dinding Facebookku. Alih-alih mengabaikannya atawa menyembunyikannya dari dinding, aku malah tergoda untuk melihat-lihat lalu berkomentar. Siapa yang tahan tak berkomentar jika menyaksikan pohon-pohon kopi dengan buah memenuhi semua tangkai? Siapa yang bakal menahan diri tak berkomentar jika menyaksikan anak-anak bergembira mengeringkan biji kopi yang mengilap karena sinar matahari? Suatu hari saya berkata, “Saya tergoda dengan biji-biji kopi ini. Suatu saat Bung Dani harus menuntun saya melihat-lihat kopi di sini.” Tak lama kemudian, ia pun mengirim pesan via inbox, “Kirimkan alamat Bung. Saya rencana mengirimkan kopi spesial!”

Aku kirim alamat. Aku senang sekali. Aku berdebar-debar menunggu kiriman kopi darinya. Mungkin ia tahu aku bakal menunggu, ia juga mengirimkanku satu artikel untuk dibaca. “BERTAHAN HIDUP DI LEMBAH MASURAI, LAPORAN EKSKLUSIF: Operasi Pengusiran Petani Kopi di Lembah Masurai, Kabupaten Merangin, Propinsi Jambi, 12 Nopember s/d 26 Nopember 2010”.

Ia ternyata tak hanya mengirimkan kopi, namun kisah para petani yang menanam dan mengolahnya juga ia ikut-sertakan. Hmmm…

Dalam kiriman itu terdapat foto-foto yang penuh kisah haru dan tragis. Ada foto pemandangan lembah Masurai yang hijau berkabut; ada foto beberapa petani tengah berkumpul di kebun kopi; kopi-kopi yang siap dipetik dan dikeringkan; polisi hutan dengan senjata lengkap mengelilingi pemukiman warga; dua bocah sedih berdiri di samping sebatang pohon kopi yang ditebang polisi hutan; rumah-rumah petani kopi yang hangus terbakar; dan sebagainya.

Lalu aku pun membaca seksama artikel tersebut. Membaca itu seperti membaca satu kisah perlawanan yang terkalahkan, namun tak pernah mati. Barangkali Dani bermaksud mengirimkan aku ‘buku sejarah perlawanan petani kopi Lembah Masurai’ dalam sebungkus kopi dan sebuah artikel pendek. Ia sedang menyebarkan kisah perlawanan para petani kopi mempertahankan kehidupan mereka. Dituntun naluri alami seorang penyebar propaganda yang turut terlibat mengadvokasi di lapangan. Ia pun menggunakan segala macam simbol yang ada di sekeliling para petani untuk menjadi media penyebaran solidaritas. Ia mungkin sangat berharap aku menangkap isyarat yang diberikan. Jika benar, maka Dani berhasil: aku sungguh menangkap isyarat itu.

Dalam artikel 28 halaman itu, Dani menuliskan singkat kronologi pengusiran petani kopi Lembah Masurai, serta kilas-sejarah keberadaan dan aktifitas penanaman kopi para petani. Dua komponen yang berseteru di dalam tulisannya: petani dengan pemerintah. Masalah pemerintah adalah mengusir para petani keluar dari kebun dan lingkungan tempat tinggal mereka. Masalah bagi petani adalah ancaman pengusiran yang tak lagi punya ruang kompromi. Maka ditugaskanlah Ruswendi menjadi kepala operasi itu. Ruswendi berasal dari Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Harimau. Ia akan ‘mengeksekusi’ bersama dengan Tim Gabungan yang terdiri dari Polisi Hutan Prop Jambi, Polda Jambi, Tim dari Kejaksaan Tinggi Jambi dan TNI dari Korem Garuda Putih Prop Jambi. Operasi dijadwalkan berlangsung selama dua minggu, dari tanggal 12-26 November 2010.

Maka bayangkanlah hal ini: akan terjadi penghancuran besar-besaran kepada kurang lebih 5000 KK petani atau setara dengan 15.000 jiwa di Lembah Masurai, ribuan rumah, ribuan mesin giling kopi, puluhan masjid, puluhan jembatan besar kecil dan yang pasti ada lebih dari 30 juta pohon kopi siap panen. “Seperti perang Vietnam,” tulis Dani.

Dan ‘Perang Vietnam’ versi Lembah Masurai ini mulai dijalankan pertama-tama dengan penghancuran kopi milik petani di Sipurak Hook, sebuah kawasan seluas 14.160 hektar yang terletak di Kecamatan Lembah Masurai Kabupaten Merangin Prop Jambi. Kawasan tersebut menjadi arena konflik antara Petani Kopi dengan Balai Taman Nasional Kerinci Seblat (BTNKS) sejak tahun 2004.

Sipurak Hook, tulis Dani, adalah nama yang cukup membingungkan masyarakat yang tinggal di sana. Mereka sama sekali tak tahu menahu asal kata ‘Hook’. Ternyata, itu adalah pemberian sebuah lembaga asing asal Inggris bernama Fauna dan Flora International (FFI). Kawasan Sipurak dalam peta memang sangat menyerupai mata-kail, yang dalam bahasa Inggris adalah ‘hook’. FFI bersama BTNKS, pada 3 Juni 2002 mengusulkan kawasan HP ex HPH PT Serestra II seluas 14.160 menjadi bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat. Itu usaha mereka membendung masuknya petani kopi. Alasannya tempat itu adalah wilayah dengan aneka satwa endemik dan tumbuhan yang langka.

Sejak perintah pengusiran mulai dijalankan oleh polisi hutan dengan mengintimidasi warga, sekolah-sekolah mulai kehilangan guru dan murid. Dani dan kawan-kawannya berusaha mengumpulkan mereka lagi, namun yang terkumpul hanya enam orang. “Padahal ada 1000-an orang seusia sekolah yang ada di Lembah Masurai ini,” kata Dani.

Penulis sambil rehat minum kopi Masurai.

Singkat cerita, penghancuran ini berjalan mulus. Dari foto-foto yang ada, tergambarkan bagaimana petani menjadi aktor yang kalah: 30 hektar kebun kopi atau setara dengan 9000 batang pohon kopi hancur dan tumbang; rumah-rumah penduduk yang dibangun tempat berlindung dari dingin bersuhu 15 derajat celcius roboh; gembok-gembok beberapa rumah warga rusak dan mereka mengaku kehilangan golok, handphone dan lain-lain. Setahun sebelumnya, 2009, beberapa rumah warga dibakar petugas—mereka dengan tanpa panik menyaksikan rumah yang terbakar. Padahal, menurut Dani, sampai saat ini, belum ada satu undang-undang pun yang memberi wewenang bagi polhut atau SPORC Brigade Harimau sekalipun untuk membakar rumah petani. Tidak juga UU no 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Tapi di Sipurak Hook dan di kawasan Lembah Masurai lainnya ritual pembakaran semacam ini sudah dilakukan sejak tahun 2004 dan terakhir dilakukan tahun 2009. Tragis!

Apakah cerita tragis ini berakhir di sini? Ternyata tidak! Kata Dani: Bupati Merangin, Kepala Balai Taman Nasional Kerinci Seblat, Kadishut Kabupaten Merangin tetap berambisi untuk mengeluarkan mereka semua dari Kawasan Hutan. Mereka terobsesi untuk terlibat secara aktif dalam program pengurangan emisi sampai 25%.

Lalu bagaimana dengan tahun 2012 ini? Apakah petani kopi benar-benar ‘punah’? Aku tak mendapat cerita detail soal itu. Saya menebak perlawanan mereka belum usai. Ini tersirat dari kata-kata Dani seusai ia mengirim kopi spesial buatku: “Besok aku ke Jakarta menemani petani-petani kopi Lembah Masurai Jati Permana Kurniawan bertemu Menteri Kehutanan.”

Dalam rasa haru seperti itu, aku berhenti menulis sejenak, lalu menyeruput kopi kirimannya yang aku beri nama, ‘kopi persahabatan’. Slurrrpppp….

* * *

Seperti Balzac, kopi senantiasa menemani proses berkarya.

Kopi juga mengingatkanku pada seorang teman perempuan. Kami sering ngobrol banyak hal—mulai dari diri kami sendiri, diskusi film, sastra dan sebagainya—via email. Aktifitas mengobrol itu kerap kami lakukan larut malam. Kebetulan saat itu ia sering begadang mengerjakan tugas kantor, dan aku sibuk mengerjakan urusan skripsi. Klop! Sepasang ‘makhluk nokturnal’ bertemu di dunia maya.

Suatu ketika kami mendiskusikan seorang sastrawan legendaris Perancis, Honoure de Balzac. Dan kebetulan saya langsung teringat kebiasaan tidur si pengarang yang di luar kebiasaan orang awam. Ia tidur jelang siang, lalu bangun saat maghrib. Mulai dari dia terbangun sampai jelang siang berikutnya, ia akan menulis tanpa henti. Di tengah aktifitas menulisnya, kopi adalah satu-satunya benda yang tak pernah alpa berada di depannya. Kemudian aku mengirimkan ia kutipan Balzac yang terkenal soal kopi. Kurang lebih seperti ini: “Kopi masuk ke dalam perutmu. Lalu tiba-tiba otakmu terbangun. Ide-ide mengalir bagai batalion di medan perang. Dan pertempuran pun dimulai!”

Sejak saat itulah, jika ada di antara kami terjaga entah ditemani atau tanpa ditemani kopi, kami menyebut aktifitas dini hari itu sebagai ‘kutukan Balzac’. Frase itu kemudian menjadi kata kunci kami yang bisa dimodifikasi sesuai konteks. “Apakah malam ini kamu berencana berteman dengan Balzac?” “Hei, apakah semalam Balzac berhasil mengutukmu?” “Berhasilkah kamu mendapatkan mantera pengusir kutukan Balzac?”

Saat tiba di paragraf ini, azan Subuh terdengar dari masjid-masjid. Aku tahu, aku telah terkena kutukan Balzac (atau lebih tepatnya ‘berkah Balzac’). Aku membiarkan kepalaku terbangun oleh sesapan-sesapan kopi dari Lembah Masurai. Aku biarkan ide-ide mengalir. Aku biarkan imajiku mengantarku pada ‘batalion’ petani kopi di ‘medan perang’ mereka, mempertahankan apa yang menjadi hak mereka. Aku ingin rasakan pahit perjuangan mereka melalui pahit kopi yang mereka olah.

Pada akhirnya: aku ingin meminum kopi sambil mempelajari sejarah mereka yang menanamnya.

Dedy Ahmad Hermansyah

Pegiat Komunitas Ininnawa, Makassar.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • eko

    Petani kopi mirip dengan petani tembakau; selalu ditindas. Kopi dan tembakau adalah pasangan serasi bagi penikmatnya, dan itu akan dipisahkan oleh penguasa melalui antek-anteknya. Kisah yang mengharukan dari petani kopi ditulis dengan bagus. Salam kopi, dab. 

  • Rinelko

    sebagai pecinta kopi, sangat mengutuk aksi pemprov Jambi…apa tidak ada solusi lain mereka, atau win win solution?! 

  • Aku pernah sekali waktu sekitar tahun 99an menemui di perjalanan Jember ke Kalisat dimana disana banyak pohon kopi dan kakao…. Dalam perjalanan naek angkot ke Kalisat, sebuah pagi angkot berhenti di tengah jalan, diikuti mobil2 lain dibelakang kami.. Di depan, puluhan orang berdiri di pinggir jalan, melihat ratusan pohon kopi dan kakao ditebang oleh orang2 berseragam polisi hutan… Aku masih remaja waktu itu, dan tak terlalu paham konflik apa yg terjadi waktu itu…

  • dirga

    sadhumuk bathuk sanyari bumi…