Kopi Mank: Pasar Minggu Rasa Kemang

Kopi Mank tampak depan
Kopi Mank tampak depan | Sumber: Instagram Kopi Mank

MANK. Sebuah nama dipilih oleh Indra Lesmana D., satu dari dua pemilik kedai kopi yang terletak di Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan. “Panjang ceritanya. Tapi akan saya ceritakan ke Mas Em dan semoga Mas Em bisa belajar dari kisah saya,” tutur laki-laki berumur 34 tahun itu.

Saya tersenyum seraya menyeruput brulee coffee bikinan Sodip, laki-laki yang saya tanya pertama kali ketika mengunjungi Kopi Mank. Jika Anda memesan menu ini, saran saya mintalah agar gulanya dipisah. Brulee coffee yang Anda minum bisa jadi lebih manis dari kenangan bersama mantan.

Sebelum mengobrol banyak dengan Mas Indra, saya juga berkesempatan bertanya-tanya pada pemilik satu lagi. Ia bernama Coki, panggilan akrab dari Nardy Hendryatno. Sosoknya begitu ramah, bahkan untuk seorang pemilik kedai kopi. Saya mengira ia juga pengunjung seperti saya karena hanya mengenakan kaos lengan pendek dan celana tiga perempat. Sebentar saya tertipu penampilan, kemudian Mas Coki agak malu-malu menjawab bahwa ia juga bagian dari pemilik tempat ini. Saya pun iseng mengajukan beberapa pertanyaan lain ke Mas Coki. sambil menunggu single espresso dengan menggunakan biji kopi Gayo, minuman pertama yang saya pesan.

Suasana Kopi Mank
Suasana Kopi Mank | © Tri Em

Kurang lebih enam bulan. Ya, bulan ini (Juli) genap enam bulan Kopi Mank. Mas Coki sedikit berbagi kisah kepada saya tentang kedai kopi ini.

Pada November 2016, Kopi Mank resmi ada di Pasar Minggu—sebelum renovasi tempat satu setengah bulan kemudian. Pernah di Dago (Bandung) bersama kawan-kawan, lantas Mas Coki memilih bergabung bersama Mas Indra mendirikan Kopi Mank di Jakarta. Sayang, saya hanya mendapat sedikit cerita dari Mas Coki. Saat itu kakak saya yang sedang dirawat di rumah sakit minta dibelikan makan, sementara malam hampir larut. Namun, cerita tentang Kopi Mank lebih lengkap disampaikan oleh Mas Indra, yang akan saya tulis pada beberapa paragraf berikutnya.

Mas Coki sedikit bercanda saat menjawab pertanyaan saya mengenai hubungan kopi dan buku. Menurut pengakuan Mas Coki, orang-orang yang datang ke Kopi Mank lebih akrab dengan gawai tinimbang ngobrol soal literasi. Tapi bukan berarti minat baca orang Indonesia rendah loh ya. Toh, kamu masih suka baca status-status mantanmu kan? Sudah, ngaku saja.

Anak-anak muda yang datang biasanya melakukan ritual curhat berjamaah dan bersenda gurau bersama minuman dan kudapan mereka. Kadang anak-anak muda itu bersama pacar masing-masing, membuat Kopi Mank jadi salah satu tempat yang layak kenang. Para pengunjung Kopi Mank juga banyak dari para pengendara motor yang setiap pulang kerja rela bermisuh-misuh ria di jalur macet sepanjang pertigaan Taman Makam Pahlawan Kalibata sampai Stasiun Tanjung Barat arah Depok. Oh, betapa indah Jakarta kita. Ah, kita? Kamu saja sama mantan-mantanmu yang sudah jadi pacar orang atau bahkan bini orang.

Kopi Mank, Dulu dan Sekarang

Mas Indra banyak bercerita tentang sejarah Kopi Mank kepada saya. Dari ikut di beberapa festival di Bandung sampai punya kedai kopi berdua dengan Mas Coki. Dari Culinary Night sampai International Coffee Day lewat undangan dari Ridwan Kamil. Ketika ikut bergabung di acara-acara itu, Mas Indra tak menyangka bahwa usaha kopinya bakal laris. Untuk ukuran kopi enak atau kopi ala kafe, kopi buatannya ia jual di kisaran harga belasan ribu. Mas Indra bilang ke saya, para pengunjung memberi tepuk tangan, karena kopi yang dipakai memang ultimate street coffee.

Nama Kopi Mank dipilih Mas Indra sewaktu dalam perjalanan ke Bandung. Malam itu sisa uang Mas Indra dan istrinya Rp300.000. Istrinya baru melahirkan sementara Mas Indra harus ke Bandung untuk turut dalam sebuah festival. Akhirnya Mas Indra menyisakan setengah dari uang mereka sebagai pegangan istrinya. Setengah lagi ia gunakan untuk bensin Rp100.000 dan Rp50.000 untuk jaga-jaga.

Mana saya belum nyiapin banner untuk stand kopi saya. Kacau lah! Tapi kalau niat kita baik mah pasti ada aja jalannya. Sekitar kilometer 80 atau 90 di tol menuju Bandung, saya agak lupa, kawan saya di Bandung menelepon. Dia nanya nama usaha kopi yang akan dibuka di stand, mau dibikin banner katanya. Mati saya! Jujur aja saya enggak kepikiran nama Kopi Mank. Nah, saya kan suka banget nih sama batagor. Saya ingat kalau tukang jualan di Bandung dipanggilnya Mang. Kenapa akhirnya Mank, itu saya keingat kepercayaan saya. Jadi dalam kepercayaan saya, huruf depan dan huruf belakang itu harus sama. Itu awal mula nama Kopi Mank. Desainnya juga saya buat di pinggir jalan tol pakai tab saya, panjang lebar Mas Indra bercerita.

Ia seorang pekerja yang gigih dan kalau bisa dikatakan orang besar, ya, saya mengiyakan hal ini. Dalam bidang food market, Mas Indra pernah terlibat sebagai direksi di beberapa perusahaan besar. Ia mengembangkan bisnis mereka sampai kenyataan berkata—dunia kerja sering kali menawarkan godaan untuk mengeruk harta sebanyak mungkin. Contoh konkret terhadap pernyataan ini, yaitu saat tagihan motormu belum lagi lunas, ternyata partner bisnis kita sudah punya mobil keluaran terbaru. Seperti itu dunia kerja, dan laki-laki itu lebih memilih terjun bebas dari “dinasti” yang pernah dikembangkan olehnya.

Enggak gampang pindah dari zona nyaman,” ucap Mas Indra lirih. Orang tahunya mah kita tinggal di apartemen, di Kelapa Gading lagi. Kopi Mank ini malah saya bikin saat saya lagi lapar-laparnya, lanjut Mas Indra.

Begini, Mas Em. Saat itu saya dihadapkan dengan dua pilihan: keluar dari perusahaan-perusahaan besar yang saya kembangkan, atau melanjutkan usaha-usaha saya? Sudah lama saya ada di food market, saya juga pernah membuat distro dan tutup karena tidak saya manajemen penuh. Kenapa saya akhirnya memilih kopi?

Saya menggelengkan kepala, tersenyum, lalu menghisap rokok kretek di sela jari tangan kanan.

Mas Indra menerangkan bahwa ia lebih dari sekadar jatuh cinta terhadap kopi. Bersama kopi ia terbang ke Hongkong, Cina, dan Australia selama beberapa tahun. Ia mempelajari berbagai jenis dan cara penyajian kopi. Pada 2014, Mas Indria kembali ke Indonesia dan mengembangkan beberapa perusahan membesar. Tapi hal itu tidak membuatnya berpisah dengan kopi. Ia justru makin mengenal cintanya itu sampai kepada para petani kopi di Jambi.

Suatu waktu, Mas Coki yang pulang dari pesiar menemui Mas Indra. Ia ingin tahu usaha yang sedang dijalani oleh sahabatnya itu. Tentang Kopi Mank, ternyata hal itu mengesankan bagi Mas Coki, tapi ia belum bisa bergabung penuh. 2015 Coki berangkat pesiar ke Amerika, sampai setahun berikutnya kembali menemui saya untuk mengembangkan Kopi Mank bersama-sama.

Dua barista Kopi Mank
Dua barista Kopi Mank | © Tri Em

Itu cerita dua pemilik Kopi Mank, yang mana saat saya temui Kopi Mank memiliki dua awak yang juga punya peranan penting. Menyoal Mas Sodip sudah sedikit saya ceritakan di awal. Tidak punya latar belakang barista, tapi ia terus belajar dari Mas Indra dan Mas Coki menyajikan minuman bagi para pelanggan Kopi Mank. Awak satu lagi adalah Pak Budi. Tak dinyana, ia punya pengalaman pesiar ke Jerman. Ah, saya jadi baper. Jangankan ke Hongkong, Cina, Australia, seperti pengalaman Mas Indra. Tidak juga seperti Mas Coki dan Pak Budi yang pernah pesiar sampai ke Amerika dan Jerman. Ke pelaminan saja saya belum diizinkan oleh Yang Maha Kuasa. Eh, curhat lagi!

Dulu, menurut cerita Mas Indra, Kopi Mank belum seramai seperti sekarang. Sempat renovasi selama satu setengah bulan supaya lebih nyaman buat para pengunjung. Yang menarik yaitu harga kopi di Kopi Mank. Kebutuhan ngopi Anda tetap bisa terpenuhi hanya dengan Rp8.000,-. Anda juga tidak perlu bingung jika baterai ponsel Anda habis. Kopi Mank menyediakan banyak colokan dan Anda juga tak perlu khawatir ponsel hilang, karena letak tempat ini di dekat meja kasir. Kalau tak suka asap rokok, Anda bisa minta untuk duduk di dalam; biasa diperuntukkan untuk meeting.

“Kopi Mank bisa seperti sekarang ya berkat kerja keras kami. Saya, Coki, Sodip dan Pak Budi saling bantu mengembangkan Kopi Mank. Intinya, saya gak mau lah kita kerja tuh terlalu mengedepankan keahlian. Barista atau apa pun itu, kalau gak bisa berinteraksi dengan pelanggan ya buat apa? Itu Sodip aja saya ketemunya di terminal, Mas Indra memaksa saya sedikit tertawa.

Tentang Kopi Mank, Mas Indra juga melihat sosok Pak Jokowi. Ia berani ya karena sepak terjang beliau. Dari walikota bisa jadi presiden, ini orang keren juga. Harapan saya mah semoga ia menepati janjinya untuk membantu UKM-UKM di Indonesia supaya berkembang. Ya, siapa tahu Pak Jokowi mau mampir ke Kopi Mank. Karena saya mau buat Kopi Mank ini seperti Pasar Minggu Rasa Kemang, tutup Mas Indra.

Datanglah ke Kopi Mank jika Anda ingin merasakan Pasar Minggu rasa Kemang. Ingat, rasa Kemang—bukan rasa sakit yang tidak bisa tidak dikenang.

Tri Em

Penikmat kopi dan kenangan.