Kopi Lanang dan Kopi Pingit Mbok Bejo

Kini, kopi sudah mulai mendapatkan tempatnya. Meski dari sejarah vegetatifnya, kopi lahir di Afrika. Kopi sudah terlanjur menjadi budaya di sini. Tepatnya di Kecamatan Kalibaru Kabupaten Banyuwangi, jenis kopi yang dulunya hanya menjadi sisa pilahan untuk buruh kebun, sekarang mulai banyak dicari. Tidak hanya itu, keberhasilan itu memunculkan ide kreatif lain. Sang pengusaha dengan nalar tradisionalnya menemukan bagaimana setiap kopi punya nilai yang lebih. Khas, layaknya kedelai menjadi tempe.

Rasanya Lanang!

Namanya kopi lanang. Secara etimologi, lanang dalam bahasa Jawa punya unsur maskulin yang sangat kuat dan superior. Ternyata memang benar. Kopi lanang memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi dari kopi biasa.

Abdul Kholik, sang pemilik kedai memberitahukannya sesaat setelah bertemu. Ia menganalogikan kuatnya kopi lanang dengan begitu tegas. “Kalau kopi biasa hanya bisa melek sejam, kopi lanang bisa duapuluhempat jam!” serunya.

Perkatannya itu dibuktikan oleh seorang peneliti yang menyelesaikan disertasinya di tempat produksinya. Sekitar 2013 sampai 2014 mahasiswa program doktoral dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mendapatkan hasil menarik. Kopi lanang itu memiliki kandungan kafein yang jauh lebih besar dari kopi biasa.

Abdul Kholik memamerkan Biji Kopi Hasil Olahannya
Abdul Kholik memamerkan Biji Kopi Hasil Olahannya © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Abdul Kholik adalah anak dari pemilik kedai bernama Mbok Bejo Warung Lawas. Sebuah warung di pinggir jalan Kecamatan Kalibaru. Hanya berjarak sekitar satu kilometer di selatan stasiun kereta api Kalibaru. Untuk kedai ini, punya cerita sendiri yang juga tak kalah menarik.

Singkatnya, warung Mbok Bejo adalah warung generasi pertama di Kalibaru. Mbok Bejo itulah yang dulu saat terowongan kereta api di garahan dibuat, memasok makanan ke para pekerja. Sudah tiga generasi warung itu berjalan dan tetap menjaga kekhasan masakannya berupa sayur lombok. “Sebenarnya sayur lombok itu yang khas dari warung ini,” ujar Kholik.

Baru sekitar 2013 lalu, kopi lanang mulai masuk di Mbok Bejo. Saat itu, kopi lanang masih diambil dari perkebunan Malangsari, salah satu perkebunan BUMN di Kalibaru. “Saya awalnya ngambil kopi lanang dari sana,” katanya.

Kopi menjadi salah satu jalannya untuk survive. Dia mulai memasarkan sendiri kopi lanang di Mbok Bejo. Dia membuat kemasan yang bisa menarik pelanggan di warung bapaknya itu. Selain juga menyajikan gelas kopi lanang dalam gelas cangkir sederhana.

Semakin lama, kopi lanang semakin dikenal oleh banyak pelanggan. Karena sebelumnya sudah banyak pelanggan Mbok Bejo. Ketika ada menu andalan lainnya, praktis namanya mulai menyebar dari mulut ke mulut.

Apalagi ditambah dengan pemasaran kopi lanang lewat online. Semakin banyak yang mendengar. Bahkan tidak hanya di dalam Banyuwangi saja, nama kopi lanang terus bergaung hingga keluar negeri. “Pernah juga ada pesanan ke Malaysia,” katanya.

Kholik terus memperbaiki kopi lanangnya itu. Satu kemasan diganti seiring dengan pengetahuannya soal kemasan. Dari mulai dibungkus plastik biasa, kini sudah berubah menjadi kemasan yang dilapisi alumunium foil.

Kini dirinya juga tidak lagi tergantung dengan perkebunan yang dulunya menyuplainya. Kholik terus mengembangkan bisnisnya itu dengan langsung menemui petani. “Sekarang sudah tidak lagi ngambil di Malangsari,” kata Kholik.

Kholik mengatakan tidak mudah mendekat ke petani. Karena kopi lanang ini sulit untuk memilahnya. Kholik menjelaskan; kopi lanang adalah kopi cacat. Biji kopi yang normal memiliki dua keping biji (dua daun lembaga). Sedangkan kopi lanang hanya punya satu keping saja. Untuk menemukan kopi lanang hanya ada 3 sampai 5 persen dalam setiap seratus biji kopi yang dipanen.

Kopi Lanang dan Kopi Pingit dalam kemasan siap jual
Kopi Lanang dan Kopi Pingit dalam kemasan siap jual. © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Varietas kopi lanang yang diproduksi Kholik adalah dari jenis robusta. Kondisi dataran kebun yang masih di bawah 1000 mdl hanya cocok ditanami dengan robusta. Selain itu kopi lanang biasanya banyak ditemui untuk pohon kopi yang sudah berusia minimal 5 tahun.

Untuk mendapatkannya pun juga harus memilahnya satu persatu. Makanya tidak semua petani bisa menyediakan kopi lanang ini. “Biasanya yang memilah-milah itu petani-petani yang tua, yang nggak ada kerjaan,” katanya kemudian tertawa.

Soal harga, kopi lanang relatif lebih mahal dari kopi biasa. Jika kopi robusta dengan kualitas terbaik dihargai untuk greenbean Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogram dari petani, kopi lanang bisa mencapai Rp 75 ribu. Dia kemudian mengolahnya dan menjualnya hingga Rp 100 ribu per kilogram.

Kholik juga menyediakan kopi yang sudah disangrai. Dengan pengolahan tradisional, Kholik mematok harga Rp 40 ribu per 200 gramnya. Dari setiap 200 gram itu, Kholik menaksir bisa cukup untuk 25 cangkir kopi. “Yang nyangrai memang sudah berpengalaman,” katanya.

Setiap harinya minimal Kholik menyangrai kopi lanangnya 10 kilogram. Kalau sedang banyak orderan bisa mencapai 50 kilogram. Artinya jika diakumulasi, setiap harinya Kholik bisa mendapatkan minimal Rp 2 juta dan paling banyak Rp 10 juta.

Kopi lanangnya ingin terus dikembangkan oleh Kholik. Di pemasaran, pengolahan, dan untuk penyajiannya. “Kalau saya satu cangkir kopi sekitar 200 mililiter, kopinya sekitar 8 gram. Tapi setiap warung biasanya juga punya takaran sendiri. Karena kopi lanang ini kuat, 8 gram saya pikir sudah cukup,” katanya.

Apa yang dikatakan Kholik memang bukan omong kosong. Terbukti kopinya sudah dipakai di beberapa kafe. Baik di wilayah Banyuwangi sendiri dan juga sudah merambah ke Jember. Bahkan pesanan ke luar daerah tidak pernah sepi.

Kopi Pingit, Cara Menikmati Kesederhanaan

Inovasinya juga berkembang pada cara pengolahannya. Jenis kopi biasa dia sulap menjadi kopi yang punya cita rasa lain daripada yang lain.

Namanya adalah kopi pingit. Dikatakan kopi pingit karena kopi itu baru dikonsumsi setelah setahun disimpan dalam kondisi masih berupa greenbean. “Kopinya difermentasi,” katanya.

Jadi selama satu tahun itulah kopi akan mengalami fermentasi. Fermentasi itu akan mengurangi rasa asam dalam kopi. “Jadi bagi orang yang tidak kuat kopi bisa aman mengkonsumsi kopi pingit,” katanya.

Kopi pingit ini ia temukan sendiri. Karena prosesnya yang begitu lama. Sehingga stok kopinya juga masih belum terlalu banyak bila dibandingkan dengan kopi lanang.

Lamanya waktu proses itu membuat Kholik mencari cara lain. Kebetulan ia banyak belajar lewat internet. Kemudian ia mencoba-coba cara bagaimana agar proses itu bisa lebih cepat. Suatu hari ada seseorang yang memberikan cara yang lebih efektif.

“Prosesnya bisa 48 jam saja,” ujarnya. Caranya yaitu dengan menggunakan air sebagai media fermentasi. Kopi dimasukkan ke dalam air dan direndam selama dua hari. Hasilnya pun sama dengan proses fermentasi dengan cara disimpan selama satu tahun itu.

Kopi-kopi yang digunakan untuk kopi pingit adalah kopi biasa, bukan kopi lanang. Proses fermentasi itu bisa membuat perubahan secara kimiawi kandungan di dalam kopi. Rasanya pun juga akan berubah, yang paling mudah dilihat adalah kopi fermentasi kandungan asamnya bisa terkurangi.

Kopi pingit ini masih belum sebesar kopi lanang. Namun Kholik yakin, kedua kopi andalannya itu bakal bisa terus berkembang. Bahkan ia yakin sekali menuliskan sebuah slogan di Mbok Bejo. Kopi milik Kholik itu adalah kopi paling enak nomor dua di dunia. “Itu jelas. Yang paling enak nomor satu di dunia adalah buatan istri,” katanya.

Secara implisit Kholik ingin mengatakan bahwa apapun kopinya jika cara membuatnya dengan cinta, itulah yang paling enak. “Tidak ada yang lebih enak dari buatan istri. Iya kan?” pungkasnya.

Dian Teguh Wahyu Hidayat

Masih jadi jurnalis, dan seorang wiraswasta yang ingin mengeksplor tempat kelahirannya, Demak, Jawa Tengah.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Abdul Kholik

    Kerren makasih mas Teguh

    • Teno Arief

      Ini Cak Kholik yg jual kopi Lanang?