Kopi Kampung VS Kopi Lampung

20160315_171840
Kopi Kampung | © Neni Muhidin

Bibit kopi arabika dari Jember sudah ditanam di Desa Mekar Sari, Kecamatan Lore Timur di Lembah Napu, Kabupaten Poso sejak 1993. Bibit-bibit dari perusahaan Hasfarm itu ditanam bersama datangnya 200 kepala keluarga (kk) transmigran dari Pulau Jawa, Bali, dan Lombok, Nusa Tenggara Barat. Wagino (58 tahun) berkisah, tahun 1998 harga kopi pernah jatuh sampai hanya Rp 250 per kg.

Di Mekar Sari, petani yang sebagian besar berasal dari Banyuwangi itu membuka lahan dan menanam kopi, sayuran buncis, kol, dan lalu kakao. Yang paling menguntungkan dari tiga komoditi itu bagi petani di Mekar Sari adalah sayuran. Kebutuhan sayur itu untuk pasar-pasar tradisional di Poso, Parigi, dan Palu. Sebagian hasil panen sayuran bahkan dikirim ke Kalimantan dan Papua.

Kopi ada di urutan terakhir dalam tiga komoditi itu. Di urutan kedua ada kakao. Intensitas panen dan harga menjadi pertimbangan petani merawat komoditi. Panen sayur lebih cepat dan harga kakao masih lebih baik dari kopi 1 kg biji kering (kopi beras) robusta siap sangrai (roast), harga per April 2017 yang dibeli pengumpul Rp 23 ribu. Harga kakao per kg Rp 34 ribu.

Selain menanam robusta untuk kebutuhan pasar, petani masih merawat arabika untuk konsumsi keluarga. Aroma yang membuat mereka mempertahankan arabika. Buah merah (red cheery) robusta bisa sekaligus dipetik dalam jumlah yang banyak dibanding arabika.

Bibit kopi Lampung masuk di satu dekade terakhir. Hanya butuh maksimal 3 tahun untuk panen. Bijinya besar. “Itu yang membedakannya dengan kopi kampung,” kata Subani (58 tahun). Kopi kampung bijinya kecil.

Di Kabupaten Sigi, wacana moratorium bibit kopi dari luar khususnya Lampung didorong oleh Karsa Institute, lembaga swadaya masyarakat yang mendampingi petani di beberapa kecamatan sentra penghasil kopi. Selain agar meningkatkan pendapatan petani kopi dari pengolahan bibit lokal, kopi Lampung yang panennya cepat itu usia produksinya pendek, kata Rahmat Saleh, Direktur Karsa. Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Sigi, Mulyadi, mengatakan (12/5), tahun 2017 Sigi menyiapkan hampir 50 ribu bibit robusta dari Jember.

Beda antara kopi dari Sigi dengan kopi dari Mekar Sari adalah pasar. Robusta dari Mekar Sari telah merambah pasar nasional.

IMG-20170420-WA0027
Kopi Kojo, Bancea, Kabupaten Poso. | © Neni Muhidin
_DSC0055
Kebun kopi di Desa Mekar Sari, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso. | © Neni Muhidin

Di Bancea, Kabupaten Poso, sekitar 50 Ha lahan ditanami kopi oleh ibu-ibu rumah tangga di sana. Ibu-ibu itu didampingi oleh Lian Gogali dan para relawan di Mosintuwu Institute di Tentena. Kopi hasil panen dari Bancea bahkan telah dikemas bubuk dan biji (beans) dalam skala industri rumahan. Mereknya Kopi Kojo yang dalam bahasa lokal bermakna asli.

****

Jarak ke Mekar Sari dari Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah sekitar 120 km. Jarak itu melintasi jalur utara Kabupaten Sigi. Jalanan aspal menjadikan lama tempuh ke sana hanya membutuhkan sekitar 3 jam dengan motor atau mobil. Mekar Sari di Lembah Napu menjadi jalur alternatif yang menghubungkan Palu dan Poso, selain jalur Parigi. Pos aparat keamanan akan ditemui sejak dari Sedoa jika dari arah Palu, dan di Sangginora jika dari arah Poso.

Dari Palu udara dingin akan menyapa sejak dari kawasan Danau Tambing lalu penurunan terjal memasuki Lembah Napu. Butuh sekitar 30 menit dari penurunan terjal itu dan tiba di Mekar Sari yang berada di kaki Gunung Biru, pegunungan tempat perburuan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipimpin Santoso.

Neni Muhidin

Pegiat literasi di Perpustakaan Mini Nemu Buku (PMNB) Palu, penikmat kopi, dan bercita-cita menulis feature tentang kedai kopi yang paling dekat dari stadion Old Trafford di kota Manchester.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405