Kopi, Kampung Halaman, dan Rantau

Seorang lelaki sedang minum kopi di tepi pantai.
Seorang lelaki sedang minum kopi di tepi pantai. © Nody Arizona

Sejak merantau ke Padang untuk berkuliah pada 2006 hingga lulus pada 2012, kemudian lanjut bekerja sejak 2013 sampai sekarang, saya jarang pulang ke kampung halaman di Kabupaten Pesisir Selatan. Persoalannya karena banyak urusan yang harus saya kerjakan. Jawaban ini mungkin hanya alasan, saya memang tipe orang yang malas pulang kalau sudah pergi dari rumah. Saya pulang kampung kalau Mama sudah sering menelepon atau kalau rindu saya sudah tebal terhadap rumah. Paling cepat saya pulang kampung sebulan sekali atau dua bulan sekali. Paling lama enam bulan sekali. Paling sering tiga bulan sekali.

Sesuai namanya, Pesisir Selatan adalah daerah di sepanjang pesisir pantai yang menghadap ke Samudera Hindia. Sebagaimana budaya masyarakat pantai, orang kampung saya juga memiliki kebiasaan minum kopi. Masyarakatnya yang mayoritas bekerja sebagai pelaut, petani, dan sebagian lagi pedagang, singgah di kedai kopi sepulang bekerja.

Keluarga saya mungkin pengecualian kebanyakan masyarakat pantai. Budaya minum kopi tidak ada dalam keluarga saya. Contoh lain bahwa keluarga saya berbeda dari masyarakat pantai pada umumnya, tak satu pun anggota keluarga yang pandai berenang. Padahal, berenang merupakan kepandaian alami masyarakat pantai, seperti anak ikan baru lahir yang bisa langsung berenang.

Tidak adanya kebiasaan minum kopi dalam keluarga saya, agaknya berkaitan dengan ketidakbisaan berenang anggota keluarga saya. Saya tidak tahu pasti kenapa kebiasaan ngopi tidak ada di rumah saya. Yang jelas, sejak saya kecil, minuman yang selalu dibuatkan Mama setiap pagi adalah susu atau teh panas. Sedangkan penyebab anggota keluarga saya tidak bisa berenang karena Papa tidak pandai berenang sehingga tidak bisa mengajarkan anak-anaknya berenang. Satu lagi, orangtua saya tidak pernah memiliki inisiatif agar anak-anaknya bisa berenang. Misalnya dengan mencarikan orang yang bisa mengajarkan berenang, karena terutama Mama, takut anak-anaknya tenggelam.

Kesimpulan yang saya tarik dari “kopi” dan “berenang” itu, bahwa semuanya tidak dibiasakan dalam keluarga.

Keluarga saya adalah keluarga PNS. Mama adalah guru di SD dan Papa guru di SMP. Sebagai keluarga PNS, kedua orangtua saya mengatur segala sesuatu tentang anak-anaknya. Dari mulai makanan, minuman, pakaian, jam belajar, tidur siang, tidur malam, jadwal salat, dan sebagainya. Ketidakhadiran kopi dalam menu minuman di keluarga saya mungkin karena Mama menganggap kopi itu minuman tidak bermanfaat dan citranya lekat dengan preman yang suka begadang.

Waktu kecil, Mama selalu menyuruh saya minum susu. Katanya, biar otak saya cerdas. Belakang saya tahu bahwa orang tidak akan pernah cerdas kalau dia tidak banyak belajar, baik dari buku, pengalaman, maupun apa saja yang memberikan pengetahuan. Padahal kopi memiliki banyak manfaat. Orang-orang cerdas juga banyak yang minum kopi. Ada juga orang cerdas yang tidak minum kopi. Jadi, intinya tidak ada hubungan antara kecerdasan dengan minuman. Hal seperti ini cuma ada dalam iklan susu di televisi. Bahkan ada orang yang banyak minum susu, tapi goblok.

Salah satu alasan kuat kenapa di rumah saya tidak ada kopi, bahwa Mama tahu kopi bisa membuat mata terus melek. Kalau ada kopi, mungkin anak-anak akan meminumnya dan akan sulit tidur setelah itu. Sementara jadwal tidur di rumah saya adalah jam 21.00 WIB atau jam 21.30 WIB paling lama. Keesokan harinya, Mama membangunkan semua penghuni rumah pagi-pagi sekali.

Saat saya merantau ke Padang untuk kuliah, pola hidup saya berubah drastis. Hari pertama di Padang, saya tidur di kosan teman yang baru saya kenal. Padahal ketika di kampung, saya hampir tidak pernah tidur di rumah teman karena dilarang Mama. Begitu pula menu minuman saya. Kopi menjadi minuman wajib saat berkumpul dengan teman-teman. Maklum, awal kuliah adalah masa-masa seru untuk berteman. Perubahan menu minuman ini berdampak pada jadwal tidur saya: tidak teratur.

Perubahan minuman ini tak hanya bertautan dengan jadwal tidur, tapi juga terhadap jadwal bangun tidur, pergi kuliah, dan tentu saja Indek Prestasi Komulatif (IPK). Gara-gara sering tidur di atas jam 00.00 WIB, saya sering telat bangun pagi dan telat masuk ruang kuliah, bahkan tidak kuliah sama sekali. Di ruang kuliah pun, saya lebih sering tidur ketimbang mendengarkan ceramah dosen. Ini salah satu penyebab saya lama diwisuda.

Saat bekerja sebagai wartawan, kopi bagai menjadi minuman wajib. Saya inginkan atau tidak, kopi hampir selalu hadir di hadapan saya. Di kantor, di tempat-tempat nongkrong bersama teman-teman wartawan, di tempat-tempat bercerita dan berdiskusi dengan teman-teman penulis, di bengkel dan basecamp anak-anak motor klasik (komunitas terakhir yang saya masuki), dan di hampir semua tempat nongkrong yang saya kunjungi, hampir selalu ada kopi.

Saat menulis dan membaca, kopi dan rokok menjadi teman yang klop. Seperti ada letupan ide dalam tiap seduhan kopi dan hirupan asap rokok. Menulis pun menjadi lancar saat mengopi dan merokok. Efek yang paling terasa bahwa kandungan kopi menimbulkan semangat sehingga membuang rasa tidak percaya diri akan tulisan yang sedang saya tulis dan menimbulkan sikap optimis saat mengirimkannya ke media.

Kembali ke persoalan pulang kampung, salah satu penyebab saya tidak punya keinginan kuat untuk pulang kampung selain betah di rantau, karena mungkin tidak ada kenangan ngopi di rumah yang bisa membuat saya rindu berada di rumah. Saya membayangkan, pasti menyenangkan sekali ngopi di rumah saat bangun pagi. Ngopi di tengah suasana yang tenang, udara yang sejuk, dan pandangan yang tak terbatas bangunan-bangunan kota, agaknya menimbulkan suasana nyaman. Tapi kenangan itu tidak ada.

Untuk pergi ke suatu tempat, ada kenangan yang memanggil seseorang untuk pergi ke tempat tersebut. Rumah dan kampung halaman sebagai tempat saya dilahirkan dan dibesarkan, seharusnya menghadirkan banyak hal yang bisa membuat saya rindu pulang. Akan tetapi, kenangan saat berada di rumah dan di kampung sebelum merantau ke Padang, seringkali membuat saya sedih. Di rumah, terlalu banyak aturan. Saat saya kecil, Mama selalu melarang saya bermain ke luar rumah dan lebih sering menyuruh saya belajar. Saat saya SMA, Mama melarang saya untuk pergi keluar malam, bahkan saat malam minggu. Mama takut pengaruh pergaulan yang buruk menimpa saya. Masa kecil dan remaja saya dirampas oleh aturan di rumah. Meskipun ketika saya berada di kota dan bebas pergi ke mana saja dan bergaul dengan siapa saja, saya baik-baik saja. Tak sekali pun saya pernah menyentuh minuman beralkohol dan masuk ke diskotik atau pub. Semakin lama berada di kota, saya bahkan lebih suka menyendiri ketimbang berbaur dengan ingar bingar keramaian kota.

Demikian juga kenangan bersama teman-teman di kampung. Saya tidak pernah bisa menyatu dengan pergaulan teman-teman di kampung, yang membuat saya menjadi terkucilkan. Waktu kecil, saat teman-teman bercerita soal berenang, memancing, memikat burung, bermain gundu, dan kegiatan-kegiatan anak-anak lainnya, saya tidak bisa ikut bercerita karena saya tidak ikut melakukannya. Waktu remaja, saat teman-teman bercerita tentang kegiatannya mereka nongkrong di sebuah tempat, saya juga tidak bisa ikut bercerita karena saya tidak hadir di sana. Cap yang melekat pada diri saya adalah “anak mami”, walau pada akhirnya saya lebih dulu berdikari dari sebagian besar mereka yang masih menadahkan tangan kepada orangtua untuk meminta uang jajan.

Ketika Mama tidak lagi melarang saya pergi keluar malam dan tidak membatasi jam berapa pun saya pulang, malah saya yang enggan bergabung dengan pergaulan teman-teman di kampung. Di kampung, anak-anak muda nongkrong di kedai kopi untuk bermain domino dan ceki sambil mengobrol seputar kegiatan mereka pada siang hari. Saya bisa bermain domino dan tidak bisa bermain ceki. Namun, saya tidak ikut memainkan permainan tersebut karena hal itu kontra-produktif dengan kesukaan saya. Kalau pulang kampung, saya lebih suka berdiam diri di rumah untuk membaca, menulis atau menonton film. Saya tidak suka berada di kedai bersama teman-teman yang bercerita dan bercanda tentang hal-hal yang tidak saya pahami.

Namun, sesekali saya ikut nimbrung juga kalau ada teman yang mengajak. Selama berada di kedai, saya sebenarnya tersiksa karena ketika tidak ada lagi yang bisa diobrolkan, saya tidak tahu lagi mau mengerjakan apa. Saya orang yang tidak bisa duduk diam atau mengamati apa yang orang lakukan, tanpa melakukan sesuatu. Kecuali kalau ada ponsel pintar, saya tidak akan bosan berada di kedai. Saya akan berselancar dalam jaringan tanpa mempedulikan apa yang diperbuat orang di sekitar.

Kalau nanti saya sudah berkeluarga dan punya anak, saya tidak akan mengekang anak-anak saya seperti orangtua saya mengekang anak-anaknya. Sebab saya sudah merasakan bahwa bahaya pengekangan itu bisa membuat anak-anak terkucilkan dari pergaulan.

Kalau nanti saya sudah berkeluarga, saya akan membangun kebiasaan ngopi dalam keluarga saya. Mungkin kenangan ngopi bisa membuat anak-anak saya kelak merindukan rumahnya.

Holy Adib

Wartawan Harian Haluan, salah satu surat kabar di Sumatera Barat.

  • nice artikelnya mas, bener bener nyes di hati.. semoga doanya terkabul, untuk membangun kebiasaan ngopi bersama keluarga.

  • Holy Adib

    Amin. Terimakasih, Mas.

  • Untuk “urang awak” kopi merupakan hal yang wajib,
    apalagi klo nongkrong di lapau, kopi paik atau kopi pahit merupakan menu wajib,
    saya juga termasuk orang yang jarang ngopi kecuali klo lagi nongkrong sama teman-teman

    • Holy Adib

      Wajib apa sunnah? Hahaha..

      • wajib sepertinya, sekere-kerenya,
        kopi sakarek, hahaha

  • Holy Adib

    Tahu pula istilah “kopi sakarek” ya. Hehehehe..

    • ambo urang awak juo, cuma sedang marantau ke jakarta 🙂

      • Holy Adib

        Oh urang awak kironyo. Mudah-mudahan sukses marantau di Jakarta. Kalau alah sukses, pulang kampuang lai, Bang, bangun kampuang ko lai.