Kopi Kahayya: Bukan Hanya Perkara Rasa

Kopi Kahayya

    Kopi Kahayya | © Ayu Adriyani

Setelah membaca sajian Miko beberapa hari lalu dan karena belum kesampaian menonton Filosofi Kopi 2, saya jadi teringat kata-kata seorang kawan beberapa bulan lalu. Ia menimpali saya dengan beberapa pertanyaan, sesaat setelah saya bertanya rasa dari kopi yang saya minum. “Kalau saya, lebih penting untuk menanyakan di mana tempat tumbuh kopi? Tanaman apa di sekitarnya? Dan, bagaimana para petani merawatnya?”

Saya menanyakan ke dia, karena kami meminum kopi racikannya. Sebenarnya saya hanya ingin mengonfirmasi rasa rempah yang sekilas melintas di lidah menuju tenggorokan.

Kawan saya ini mengiyakan. Kopi Kahayya yang kami seruput pagi itu ditanam di tengah perkebunan warga yang menanam cengkeh, merica, dan berbagai rempah lainnya. Kondisi ini yang kemudian membuat kopi yang kami minum memiliki rasa rempah yang khas. Saya bahkan sempat mencecap rasa yang sedikit pedas dalam tegukan kopi.

“Kopi itu tanaman yang mudah menyerap rasa,” kata seorang kawan yang lain.

Dua orang kawan saya ini penikmat kopi yang cukup tahu banyak tentang kopi. Mereka bersama dengan kawan-kawan yang lain juga membantu pengelolaan dan pemasaran kopi hasil petani di Desa Kahayya. Sedang saya? Saya tidak lagi minum kopi sasetan, tapi masih setia sama satu kopi kalengan, meski tetap merumahkan Kopi Kahayya dan Kopi Gayo pemberian kawan. Iya, selemah-lemahnya penikmat.

“Kopi itu, meski sejenis (Arabika ataupun Robusta), namun beda lahan tanam, beda orang-orang yang meraciknya, beda suhu airnya, beda baristanya, maka rasanya bisa beda”. Pernyataan kawan saya ini menjawab pertanyaan kami, mengapa meminum kopi yang sama pada saat itu masih sempat menyebut rasa yang berbeda.

Kopi Kahayya dalam Kemasan
Kopi Kahayya dalam Kemasan | © Ayu Adriyani
Koperasi di Dusun Tabbuakkang
Koperasi di Dusun Tabbuakkang | © Ayu Adriyani

Kopi Kahayya, sesuai namanya, adalah kopi yang ditanam oleh para petani kopi di Desa Kahayya. Desa ini terletak di lereng Gunung Bawakaraeng, salah satu pegunungan yang mengitari Provinsi Sulawesi Selatan. Desa Kahayya, tepatnya dusun Tabbuakkang adalah dusun yang menjadi pintu masuk Gunung Bawakaraeng ketika memilih jalur pendakian melalui Kabupaten Bulukumba, Kabupaten di ujung selatan, Sulawesi Selatan. Desa di lereng gunung ini terletak sekitar 1.600 mpdl dengan tiga dusun, yaitu Dusun Gamaccayya, Dusun Kahayya, dan Dusun Tabbuakkang. Jika dari Makassar, butuh waktu sekitar empat jam menuju Kabupaten Bulukumba, kemudian sekitar sejam lebih untuk bisa sampai ke desa ini.

Kondisi jalan belum 100 persen mulus. Beberapa tahun lalu banyak masyarakat yang ingin menuju Desa Tabbuakkang terpaksa harus menaruh kendaraannya berkilo-kilo meter dan memutuskan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Setahun terakhir ini sudah jauh lebih baik.

Namun, meski terbilang cukup jauh dengan medan yang cukup terjal dan jalan yang licin saat musim hujan, perjalanan menuju Desa Kahayya selalu berkesan. Bisa saja menuju desa ini dengan berkendara motor atau pun mobil. Hanya saja, memang butuh keahlian khusus untuk bisa membawa kendaraan sampai ke Dusun Tabbuakkang, dusun paling akhir di Desa Kahayya. Jika ragu, kendaraan boleh dititip di rumah warga, dan selebihnya bisa dilanjutkan dengan jalan kaki kurang lebih satu jam. Memang sedikit melelahkan, mengingat medan jalan yang terjal dan berbatu. Hanya saja, pemandangan yang hijau dari pohon-pohon yang terserak di atas pegunungan, hawa sejuk khas dataran tinggi, kabut yang acap kali turun adalah jeda manis bagi mereka yang terbiasa dengan garangnya perkotaan.

Nama Desa Kahayya diambil dari bahasa konjo. Kaha yang berarti kopi, dan penambahan partikel “yya” setelahnya adalah penegasan bahwa tanah ini memiliki persebaran kopi yang dominan. Mayoritas jenis kopi yang ditanam di Kahayya adalah varietas Arabika. Awalnya, petani kopi di desa ini hanya menjual biji kopi saja. Tentu dengan harga yang rendah. Namun setelah bekerja bersama dengan kawan-kawan komunitas, akhirnya koperasi berhasil didirikan. Mesin roasting bisa mereka manfaatkan dengan baik. Hasilnya, green bean dan Kopi Kahayya dalam bentuk bubuk dengan kemasan yang mumpuni mudah ditemui di banyak kedai kopi di Kabupaten Bulukumba, pun juga di berbagai daerah lainnya.

Meski segala proses produksi dan distribusi tidak selalu berjalan mulus sesuai harapan, namun suguhan Kopi Kahayya bagi kawan-kawan cukuplah untuk penawar segalanya. Sama seperti kopi-kopi lain dari tangan para petani kopi, kopi Kahayya bukan hanya menyoal tentang rasa.

Jika ada yang menyempatkan diri berkunjung ke Desa Kahayya, maka sungguh kopi bukan perkara rasa semata di sana. Kopilah yang mempertemukan orang satu dengan yang lain, berjejaring, dan justru berbuah kebahagiaan yang bisa dirasakan oleh lebih banyak orang di desa ini.

Anak-anak Desa Kahayya
Anak-anak Desa Kahayya | © Ayu Adriyani
Aktivitas di Taman Baca Tanjung
Aktivitas di Taman Baca Tanjung | © Ayu Adriyani

Di dusun Tabbuakkang, terdapat satu rumah baca, Taman Baca Tanjung namanya. Setahu saya, taman baca ini adalah inisiatif warga setempat yang kemudian dibantu oleh beberapa orang yang sudah sering berkunjung ke Kahayya. Di desa ini, orang-orang berdatangan dengan berbagai alasan, entah hanya ingin kabur dari sumpeknya dunia kota, entah penasaran dengan desa yang satu ini, dan sebagainya dan sebagainya. Namun sekali lagi, apapun alasannya, sulit untuk datang ke sini dan tidak disuguhi Kopi Kahayya oleh warga setempat.

Kembali ke taman baca. Hingga hari ini, penyediaan buku, kehadiran para volunteer untuk bermain dan belajar bersama dengan adik-adik di Desa Kahayya, sepenuhnya dibantu oleh kawan-kawan komunitas di Kabupaten Bulukumba. Berjejaring kemudian hadir sebagai modal sosial kuat yang menghidupkan kopi dan taman baca ini.

Tidak jarang, kawan-kawan dari berbagai kedai kopi di Makassar yang datang dengan niatan untuk mengambil biji kopi atau sekadar ingin menyegarkan kepekaan lidah dengan suasana pedesaan yang menyenangkan, juga menyempatkan diri untuk menjadi volunteer di Taman baca Tabbuakkang. Kopi dapat, senyum renyah bahagia anak-anak pun dapat. Itu, sudah.

Ya, kopi bukan hanya perkara rasa apalagi eksistensi semata. Dalam setiap bijinya, ada usaha dan harapan para petani dari berbagai penjuru Indonesia yang konon memiliki lahan kopi terluas di dunia. Dalam setiap prosesnya, terdengar sunyi yang mungkin terbungkam di tengah konflik agraria yang mendera dalam setiap cangkirnya, ada akumulasi kebahagiaan lain yang tidak berkesudahan. Bukankah membahagiakan sesama juga merupakan ibadah? Salam hangat dari Kahayya.

Ayu Adriyani

Sedang belajar banyak hal. Peminum Kopi dan pengagum dunia anak-anak.