Kopi Jo: Kedai Kopi Racikan Keluarga

Johanes melayani pembeli
Johanes melayani pembeli. | © Eko Susanto

Johanes (43 tahun) masih mengaduk racikan kopi di dalam kendil saat saya datang di area Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Dia memang menyewa booth di arena FKY itu. Letak boothnya di sebelah belakang pintu masuk di Taman Kuliner Condong Catur. FKY ke-28 kali ini berlangsung di Taman Kuliner Condongcatur Yogyakarta. Lelaki ramah ini menyambut saya dengan senyuman dan menawarkan kopi. Hangat atau dingin, katanya. Hangat, saya jawab. Sambil berbincang dia mengambilkan kopi dari kendil untuk saya. Saya mengeluarkan kamera dan dia melayani pembeli. Kami ngobrol tentang kopi yang disajikannya.

Saya pertama kali melihat Kedai Kopi Jo di Pasar Kangen Jogja, yang setiap tahun diadakan di Taman Budaya Yogyakarta. Namun, merasakan nikmat kopi racikannya, baru saat berada di Prambanan Jazz beberapa waktu yang lalu, saat saya meliput acara musik jazz yang heboh itu. Setelah itu saya selalu mampir ke kedainya jika datang pada sebuah event. Kedai Kopi Jo selalu hadir dalam setiap event seni dan musik yang berlangsung di Jogja.

Rasa kopinya ringan dan bahkan cenderung rasa coklatnya yang menonjol. Kopi Jo memang dibuat seringan mungkin buat siapa saja yang tidak terbiasa minum kopi berat. Sehingga jangan heran jika di boothnya selalu saja banyak remaja yang nongkrong sambil menenteng cangkir kaleng khas Kopi Jo.

Kopi Jo di Pasar Kangen Prambanan Jazz Festival 2016
Kopi Jo di Pasar Kangen Prambanan Jazz Festival 2016 | © Eko Susanto
Meracik kopi saat di Prambanan Jazz 2016
Meracik kopi saat di Prambanan Jazz 2016 | © Eko Susanto

Johanes mengenal kopi sejak usia belia. Dia bercerita, jika perkenalannya dengan kopi karena ketularan mamanya di rumah. Mamanya gemar melakukan eksperimen atas masakan. Dan dia mencoba bereksperimen dengan kopi. Kopi robusta dicampur dengan beberapa rempah, seperti kayu manis, kapulaga dan lainnya, lalu dirasakan sendiri dan diujicobakan pada keluarganya.

Johanes pertama kali mengenalkan Kopi Jo saat Biennale Jogja X di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) tahun 2009. Saat ditawari pertama kali pada event Biennale Jogja X dia tidak menyangka jika sambutan penikmat kopi begitu antusias. Kemudian berlanjut sejak adanya Pasar Kangen yang digagas oleh seniman Ong Hary Wahyu. Kedai Jo pun selalu hadir saat event Pasar Kangen berlangsung.

Penyajiannya yang unik dengan cangkir kaleng yang khas membuat pembeli banyak yang iseng. Sudah ratusan cangkir kaleng minuman yang tidak kembali selama limakali event Pasar Kangen, katanya sambil tertawa. Tapi Johanes menganggap hal itu biasa saja. Dia malah senang. Artinya apa yang sudah disajikan begitu menarik minat penggemar kopi. Sehingga pada event FKY kali ini dia menyediakan khusus cangkir kaleng yang bisa dibeli dengan hanya 10 ribu saja.

Racikan kopi dalam kendil dan cangkir penyajian
Racikan kopi dalam kendil dan cangkir penyajian | © Eko Susanto
Pembeli melihat cangkir kopi jo
Pembeli melihat cangkir kopi jo | © Eko Susanto

Harga secangkir kopi Jo 5 ribu rupiah. Sedangkan yang berminat pada cangkirnya sebagai koleksi hanya dihargai 10 ribu saja. Kopi yang disajikan merupakan kopi Robusta Lampung dan kopi Temanggung. Robusta dirasakannya cocok jika dipadupadankan dengan rempah seperti kapulaga, kayumanis, dan coklat juga susu, serta beberapa rempah yang tidak bisa dia sebutkan. Sehingga bagi penikmat kopi yang sensitif terhadap asam lambung dapat menikmati kopi bikinannya.

Lelaki asal Sleman berputra dua ini tidak membuka gerai di rumahnya. Dia hanya membuka gerai secara reguler pada event Jazz mben Senen di Bentara Budaya Jogja. Jika tidak ada event besar di Jogja, Johanes selalu hadir di sudut belakang Bentara Budaya jalan Suroto saat pergelaran Jazz Mben Senen yang rutin diadakan seminggu sekali.

Jadi, sudahkah kamu mencoba Kopi Jo? Datang saja ke arena FKY yang diadakan di Taman Kuliner Condong Catur yang akan berlangsung hingga tanggal 9 september 2016.

Eko Susanto

Fotografer partikelir, penikmat kopi robusta.