Kopi Janggut, Kopi Bersejarah Bagi Masyarakat Solok Selatan dan Tentara PDRI

Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat, merupakan salah satu deerah subur di Sumatra Barat yang cocok untuk tanaman kopi, terutama kopi robusta. Masyarakat di kabupaten ini sudah sejak lama menanam kopi dan mengolahnya sendiri, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Hal itu dibuktikan dengan adanya usaha kopi rumahan yang sudah berproduksi sejak tahun 1930. Usaha kopi itu adalah Kopi Janggut.

Kopi Janggut terletak di Sungai Lambai, Nagari Lubuak Gadang Selatan, Kecamatan Sangir. Setelah Solok Selatan mekar dari Kabupaten Solok pada 2004, Kecamatan Sangir tidak lagi mencakup wilayah Sangir Jujuan, Sangir Balai Janggo, dan Sangir Jujuan. Tiga wilayah tersebut kini menjadi kecamatan masing-masing.

Kopi Janggut
Rajiah, pemilik Kopi Janggut memperlihatkan kopi usaha keluarganya di rumahnya di Sungai Lambai, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan. © Holy Adib

Menurut Rajiah (73), Kopi Janggut sudah ada sebelum 1930. Namun diperkirakan mulai dikenal luas oleh masyarakat Sangir dan sekitarnya sejak 1930.

Rajiah adalah pemilik usaha Kopi Janggut saat ini. Ia adalah anak dari Pak Janggut alias Soleh, yang fotonya tertera di kemasan kopi itu. Rajiah bercerita, usaha bubuk kopi itu adalah usaha keluarganya sejak dulu.

“Ketika kecil, usaha kopi keluarga saya ini sudah berkembang. Dulu keluarga kami punya kebun kopi. Saya tak ingat berapa luas kebun itu. Yang jelas, dari kebun itu, ayah saya mengembangkan usaha bubuk kopi ini,” ujarnya.

Pada awal berdiri, usaha bubuk kopi keluarga Janggut memiliki alat olahan yang dibikin sendiri. Alat itu adalah mesin giling kopi yang diputar dengan tangan. Dalam perjalanannya, keluarga Janggut mengolah kopi dengan mesin giling yang diputar oleh kincir air yang terbuat dari kayu. Setelah makin berkembang, alat produksi pun diganti dengan mesin diesel.

Sejak awal, Kopi Janggut diproduksi memang untuk dijual, bukan untuk konsumsi keluarga. Kata Rajiah, motivasi keluarganya yang memilih membuka usaha bubuk kopi adalah karena di Sangir dan sekitarnya waktu itu belum ada usaha pengolahan kopi.

Kopi Janggut juga terkenal karena rasa yang khas. “Bubuk kopi kami dari biji kopi pilihan. Selain itu, bubuk kopi kami seratus persen dari biji kopi. Biasanya kan ada bubuk kopi yang dicampur dengan jagung atau kacang kedelai. Kemurnian itu yang kami jaga sampai kini karena itulah yang membedakan citarasa kopi kami dengan yang lain, selain karena sejarah dan nama besarnya,” tutur Rajiah.

Dalam melanjutkan bisnis keluarganya ini Rajiah dibantu anak-anaknya. Saat ini, untuk memproduksi kopi, keluarga Janggut membeli kopi dari tauke karena tak punya lagi ladang kopi. Tanaman kopi yang dulu ditanam Pak Janggut sudah mati semua dan tak ada peremajaan.

Menurut Rajiah, sejak awal berdiri sampai tahun 1990-an, usaha kopi keluarganya berkembang pesat karena tak ada saingan. Namun, sejak tahun 2000-an, banyak kopi usaha olahan kopi bermunculan di Solok Selatan. Selain itu, juga banyak produk kopi dari luar yang masuk ke Solok Selatan.

Keluarga Janggut memproduksi kopi berdasarkan besaran pesanan. Kalau banyak yang pesan, jumlah kopi yang diproduksi kurang lebih 100 kilogram. Namun jika tak yang pesan, sekali produksi hanya 80 kilogram.

Sekarang ini Kopi Janggut dijual di minimarket dan kedai-kedai kecil di Solok Selatan. Pemilik minimarket memesan Kopi Janggut sebagai dagangan oleh-oleh khas Solok Selatan. Para pemilik minimarket tersebut juga berperan mempromosikan Kopi Janggut sebagai buah tangan dari Solok Selatan kepada orang yang berkunjung ke kabupaten itu.

Jika dulu Kopi Janggut dipasarkan dengan kemasan yang sederhana, yakni dengan plastik saja, sekarang Kopi janggut sudah memiliki kemasan dari karton yang berbentuk kotak persegi panjang. Keluarga Pak Janggut mengemas kopi produksi mereka sejak tahun 2000-an. Kemasan itu dipesan dan dibikin di Padang dengan harga Rp 3.000 per kotak. Dengan kemasan demikian, Kopi Janggut telah menyamai kemasan kopi-kopi yang diiklankan di televisi. Artinya, Kopi Janggut siap dipasarkan di mana saja.

Selain dipasarkan di dalam kabupaten, Kopi Janggut sudah dipasarkan ke luar Solok Selatan, baik ke daerah kawasan Sumatra Barat, luar Sumatra Barat seperti Jakarta, mau pun sampai ke luar negeri seperti Malaysia, tentu saja berkat bantuan pelanggan yang memesan.

Saat ini Kopi Janggut berada dalam binaan Dinas Koperindag Solok Selatan dan Mitra KUR Bank Nagari. Salah satu keuntungan kerjasama itu adalah promosi. Kopi Janggut menjadi bagian apabila ada pameran produk usaha kecil menengah (UKM) dan produk kreatif asal Solok Selatan, seperti pameran yang digelar untuk menyambut Tour de Singkarak.

UKM seperti Kopi Janggut butuh dorongan besar dari pemerintah agar maju. Jika tidak, maka perkembangan usaha itu jalan di tempat seperti Kopi Janggut.

Kopi di Solok Selatan

Di Solok Selatan, terdapat dua jenis kopi, yakni robusta dan arabika. Perkebunan kopi robusta lebih banyak ketimbang perkebunan kopi arabika. Hal itu bisa dilihat dari luas perkebunan kopi robusta di Solsel yang mencapai 1.500 hektare, sedangkan luas perkebunan kopi arabika hanya 50 hektare.

Menurut Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Solok Selatan, Tri Handoyo Gunardi, sedikitnya perkebunan kopi arabika di kabupaten itu karena ketinggian tanahnya kurang cocok untuk ditanami kopi arabika.

“Kopi arabika cocok ditanam di kawasan dengan ketinggian 700-1.700 meter di atas permukaan laut. Kawasan dengan ketinggian seperti itu hanya terdapat di kawasan Gunung Kerinci yang termasuk Taman Nasional Kerinci Sebelat. Sementara itu, ketinggian tanah di Solok Selatan berada di bawah 700 meter di atas permukaan laut,” ujar insinyur kehutanan Universitas Gadjah Mada ini.

Saat ini, kata Tri, di Solok Selatan terdapat tiga perusahaan industri kopi rumahan, yakni Kopi Jangguik, Kopi Andini, dan Kopi Cap Mata. Yang tertua adalah Kopi Jangguik, sedangkan yang lainnya masih tergolong baru.

“Saya tidak tahu pasti apakah Kopi Janggut ini dikenal di luar Solok Selatan. Namun yang pasti, Kopi Jangguik dikenal di seantero kabupaten ini karena merupakan minuman turun temurun masyarakat di sini. Rasanya enak dan masih murni. Kalau berkunjung ke Solok Selatan, rugi kalau tidak mencicipi Kopi Janggut,” tutur kakak kelas Presiden Jokowi ini.

Tentara PDRI

Jika Kopi Janggut berdiri sejak tahun 1930, berarti tentara Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pernah berjalan melewati kedai kopi Kopi Janggut.

Berdasarkan catatan sejarah, Presiden PDRI Mr. Sjafrudin Prawiranegara bersama menteri dan pasukannya, tinggal selama kurang lebih 3,5 bulan di Nagari Abai (kini Kecamatan Sangir Jujuan) untuk bersembunyi dari kejaran pasukan Belanda pada tahun 1949.

Menurut, Ibnu Abbas (86), satu-satunya saksi sejarah PDRI yang masih hidup di Bidar Alam, selama aktivitas PDRI berpusat di Bidar Alam, tentara PDRI pergi berperang melawan Belanda di Alahan Panjang (kini Kabupaten Solok). Jumlah tentara itu lebih kurang 200 sampai 300 orang.

Jarak Bidar Alam ke Alahan Panjang lebih dari 100 kilometer, dengan kondisi waktu itu yang belum bisa dilewati mobil. Dari Bidar Alam ke Alahan Panjang, pasti melewati kampung Sungai Lambai, lokasi kedai kopi Kopi Janggut. Saya jadi bertanya-tanya, apakah bala tentara PDRI mampir di Sungai Lambai untuk minum Kopi Janggut. Dalam pikiran konyol saya, para tentara itu pasti lelah sehabis berperang. Seperti orang yang lelah sehabis bekerja, minum kopi pasti menyenangkan. Sayangnya saya tak menemukan catatan sejarah mengenai tentara PDRI yang mampir di kedai kopi setelah berperang melawan kumpeni itu.

Holy Adib

Wartawan Harian Haluan, salah satu surat kabar di Sumatera Barat.