Kopi Bubuk Berkualitas

Ini kali kedua saya mencicip produk Potum. Produk itu ikut membuka segmen baru: kopi bubuk premium.

Saya mencicip Potum pertama kali hampir setahun yang lalu. Bukan hanya sudah menjadi produk jadi tapi sejak dari biji sangrai. Memang belum sama kualitasnya dengan kopi dari kedai-kedai ternama. Tapi sudah terlihat mampu mengisi celah kebutuhan kopi berkualitas yang bisa disajikan dengan lebih cepat.

Kebanyakan penyuka kopi arabika berkualitas jika ingin minum kopi enak maka akan pergi ke kedai kopi. Hanya sedikit yang punya mesin kopi di rumah. Tapi menjadi persoalan ketika malas pergi atau tidak memungkinkan untuk pergi, bagaimana caranya bisa menyeruput kopi berkualitas? Pertanyaan itu yang kemudian membuat beberapa kedai kopi di Indonesia menyediakan kopi biji sangrai (roasted beans) dan kopi bubuk untuk dibawa pulang.

Potum
Potum, salah satu merek yang mengambil ceruk pasar kopi premium. Ceruk yang sebenarnya masih terbuka untuk dimasuki petani dan pedagang kecil. © Puthut EA

Sekarang makin banyak kedai kopi yang kemudian menjalankan bisnis biji kopi sangrai. Selain mengisi celah kebutuhan di atas, juga sebagai bagian dari marketing. Dongeng Kopi Jogja (DKJ) atau Klinik Kopi misalnya, tidak perlu diketahui karakter dan kualitas kopi mereka dengan harus datang ke Yogya. Cukup pesan ke teman Anda yang ada di Yogya untuk membelikan biji kopi sangrai sehingga Anda yang tidak tinggal di Yogya bisa menyeruput hasil karya kedua kedai kopi ini.

Potum lebih maju lagi dalam memindai kebutuhan pasar. Apa yang dilakukan kedai-kedai kopi tersebut belum mengisi kebutuhan peminum kopi. Potum menginginkan produknya muncul di gerai-gerai seperti Carefour atau bahkan di Alfamart maupun Indomaret. Keinginan yang masuk akal mengingat pertumbuhan konsumsi kopi domestik sangat tinggi dan konsumen makin peka terhadap informasi produk.

Berkembangnya dunia digital sekarang ini sebetulnya bisa mempercepat munculnya produk-produk kopi instan premium di Indonesia. Selain tidak semua penyuka kopi memiliki mesin kopi, mereka kadang juga terjebak dalam rutinitas yang serbacepat.

Saya selalu punya setidaknya 3 biji kopi sangrai di rumah. Tapi tidak setiap hari saya membuat kopi dengan menggiling kopi dulu, lalu meraciknya di mesin kopi. Saya tetap lebih sering membuat kopi tubruk dengan bubuk kopi yang sudah tersedia. Orang yang punya mesin kopi saja begitu, apalagi yang tidak punya.

Nah, dengan memaksimalkan kelebihan dunia digital, konsumen cukup browsing lalu melakukan transaksi. Produsen tidak perlu gerai jika modal mereka tidak cukup, dan tidak perlu juga mendistribusikan produk mereka lewat gerai-gerai konvensional. Cukup: klik dan sruput.

Saya yakin segmen penyuka kopi instan premium akan makin membesar. Dan ini kesempatan baik bagi para pebisnis kopi di Indonesia. Tagline-nya jelas: “ngopi enak, tanpa repot”. Silakan dipakai saja tagline tersebut bagi yang ingin membuka bisnis kopi di segmen ini.

Ini juga jauh lebih masuk akal untuk bertarung di segmen ini daripada di segmen kopi instan pada umumnya yang sudah sesak. Apalagi dua raksasa bernama Kapal Api dan Top Coffee terus bertarung dengan sengit.

Makin banyak kedai kopi atau pebisnis yang membuat kopi instan premium, maka konsumen juga makin punya banyak pilihan. Dan yang pasti, model bisnis seperti ini bisa dilakukan oleh petani, pebisnis kecil dan gabungan dari keduanya.

Makin ramai bisnis kopi di segmen ini, petani makin beruntung. Karena kebanyakan pebisnis kecil seperti ini tidak punya perkebunan kopi sendiri. Ketika mereka masuk ke perkebunan kopi rakyat, mereka harus bersaing dengan banyak pebisnis lain. Dengan begitu maka harga kopi petani menjadi nisbi tinggi dan tidak bisa dipermainkan oleh pedagang besar.

Di banyak tempat yang pernah saya datangi, petani kopi bisa lepas dari jeratan permainan pedagang besar jika sudah terintegrasi dengan para pebisnis kopi seperti kedai-kedai kopi yang marak tumbuh di banyak kota di Indonesia. Jadi jangan sepelekan kedai-kedai kopi di kota Anda. Terlebih jika mereka mengambil kopi langsung dari petani kopi, bukan dari distributor. Maka tidak ada salahnya sebelum Anda memesan bertanya: Kopi di kedai ini diambil dari mana?

Selamat menyeruput kopi…

Puthut EA

Anak kesayangan Tuhan.