Kopi Ibu dan Kamu


1

Sedikitnya sudah 25 tahun terakhir, aku rutin minum kopi yang bubuknya dibuat oleh ibu. Kopi cap kampung, yang disangrai bersama sepotong jahe, ditumbuk di lesung besi, lalu diayak sendiri oleh tangan ibu. Bubuk kopi yang sederhana. Menghirup aromanya akan selalu membawaku ke masa anak-anak, ketika hampir di setiap akhir pekan di sore hari, aku menyaksikan ibu menyangrai biji kopi di atas penggorengan tanah liat di atas tungku batubata di halaman luar di depan pintun dapur.

Aku sering membantunya menumbuk biji-biji kopi apabila selesai disangrai. Dan hal yang paling menyenangkan adalah saat menyaring biji-biji kopi yang sudah ditumbuk menjadi bubuk lewat ayakan. Tumpukannya yang menggunung di atas koran bekas, selalu aku khayalkan seperti gunung yang lembut. Kadang aku mengambil bubuk kopi itu sesendok. Meletakkannya di piring kecil lalu mencampurnya dengan gula. Aku menemukan kudapan: bubuk kopi campur gula.

Kopi yang dicampur jahe itulah yang selalu ibu kirimkan padaku setiap bulan, sejak aku meninggalkan kampung halaman dan menetap di Jakarta. Kadang hanya setengah kilo. Kadang sekilo. Tergantung keuangan ibu dan ketersediaan kopiku. Aku selalu berbunga-bunga setiap kali seorang kurir dari perusahaan ekspedisi muncul di halaman rumah dan menyodorkan sekardus bungkusan. Itulah kardus yang berisi kerupuk udang, petis, rengginang, kacang goreng, gula dan tentu saja kopi. Kopi yang aromanya selalu membawaku pada wajah ibu yang tak pernah lelah menyangrai kopi, menumbuk dan mengayaknya untukku.

Dan karena sudah selama kurang-lebih 25 tahun meminumnya, kopi buatan ibu telah menjadi darah bagiku. Seperti pengganti air susunya, yang dulu sekali, ketika aku masih orok dialirkan padaku dengan seluruh kasih akungnya. Ibu tahu, sejak aku mulai terbiasa minum kopi, aku tak berselera meminum kopi selain kopi buatannya, dan dia benar. Aku memang sanggup meminum kopi jenis apa pun, dari yang berkualitas paling buruk sampai konon kopi yang paling mahal, tapi bagiku kopi ibu adalah yang terenak dan terbaik. Mungkin karena ibu yang membuatnya, sehingga aku pun menyeduhnya dengan semua perasaan cintaku padanya.

Hingga lima tahun yang lalu, bila kebetulan aku berlibur ke kampung halaman dan ketika ibu masih cukup sehat untuk sibuk di dapur, dia akan selalu menyeduhkan kopi buatku setiap selesai subuh. Aku meminumnnya di teras dapur sembari menemaninya memasak. Lalu, kami akan membagi bercerita tentang banyak hal tentang manusia yang semestinya selalu hangat dan baik pada manusia lain. Mirip kopi itu, yang menurut ibu, harus diminum senyampang hangat, karena kopi hangat dapat menyegarkan otak, menenangkan pikiran, membuat mata terang, kepenatan pun bisa berkurang. Kopi hangat juga bisa membuat orang memulai hari dengan bahagia.

Tiga cangkir kopi.
Tiga cangkir kopi © Nody Arizona


2

Sudah 99 malam sejak aku menemanimu minum kopi di kedai yang sepi di pinggir danau, kita berbagai cerita tentang hidup, tentang cinta, tentang anak-anak kita. Malam itu aku tak sanggup menatap wajahmu sebab aku kuatir kamu tahu bahwa malam itu seusai minum kopi di kedaimu, aku ingin mencecap bibirmu. Aku jatuh cinta padamu, bukan karena kita minum kopi, tapi karena aku memang jatuh hati padamu sejak tiga tahun sebelumnya, ketika kali pertama kita berpandangan, berbicara, dan kamu membagi tembakau untukku.

Aku tak ingat, apakah kita minum kopi waktu itu. Aku hanya tahu, aku terus mencarimu sejak pertemuan pertama kita itu, seribu hari lamanya, hingga di sebuah sore kamu muncul di pelataran sebuah gedung kesenian. Aku melihatmu tapi aku segera dilanda dejavu.

Aku seperti mengenalmu [dan aku memang mengenalmu] tapi lupa namamu, dan perjumpaan kita kali pertama. Aku masih terkesima memandang, sewaktu dirimu berjalan penuh keyakinan ke arahku dan terus mendekat sembari mengembangkan senyum. Aku berusaha sekuat mungkin mengumpulkan daya ingat hingga di satu titik, aku menyadari, kamulah perempuan itu. Perempuan dengan mata rembulan yang seribu hari lamanya aku cari.

Hari-hari setelah itu, hampir selalu kita habiskan berdua. Di teras belakang rumahmu, di kamarmu, di kedai kopi, di mana saja. Tentu dengan minum kopi juga merokok. Kadang kamu membuatkan kopi untukku. Kadang aku yang menyeduhkannya untukmu. Hanya secangkir dan kita minum berdua sembari bercerita tentang rencana-rencana kita.

Aku tahu kemudian, ketika aku menciumi; leher , payudaramu, seluruh lekuk di tubuhmu semerbak kopi dan bunga tembakau. Aku menyukainya dan karena itu, aku selalu begitu lama menciumimu dengan sepenuh hasratku. Kamu lalu mengenalkanku pada banyak jenis kopi, cara menyangrai, menyeduh dan meminumnya.

Kita pernah singgah di sebuah kedai kopi di sebuah pasar, dan kamu memilihkan kopi untukku dan itulah kopi terenak yang pernah aku tahu, selain kopi buatan ibu. Kamu berjanji akan membawaku ke kedai-kedai kopi yang lain, atau membuatkan kopi untukku yang jauh lebih enak dari kopi yang pernah kau kenalkan padaku di kedai sebuah pasar itu. Kamu penuh perhatian, dan aku tak pernah menolak semua rencanamu, sebab sesungguhnya bukan minum kopi itu benar yang aku inginkan, melainkan dirimu. Selalu berdekatan dengan dirimu adalah gagasan yang tidak pernah selesai dikunyah oleh pikiran dan perasaanku.

Aku tahu, aku menyadari; tak ada kopi yang paling enak kuminum kecuali kopi buatan ibu; tapi aku pun tahu dan mengerti, aku sungguh mencintaimu dan selalu jatuh cinta kepadamu. Kamulah kopi hangat yang menyegarkan hidupku. Kopi yang membuatku selalu terjaga. Kopi yang bagiku, adalah segalanya.

Anja Zauza

Perantau, sekarang tinggal di Jakarta.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405