Kopi Hujan Mati

Minum Kopi di Taman KB Semarang
Minum Kopi di Taman KB Semarang

Suatu pagi kami berharap hujan mati. Hujan yang sesuai proporsi mungkin indah. Tapi hujan yang kelamaan benar-benar menyebalkan.

Saat itu kami sedang ngopi-ngopi pada suatu warung kopi di Taman KB, Semarang. Di sana tersedia seduhan kopi beserta sejumlah kudapan. Kami rasa keindahan sebuah taman sudah selayaknya dirayakan bersama secangkir kopi. Sebuah taman laksana impian, sementara secangkir kopi akan selalu mengingatkan kita pada kenyataan-kenyataan.

Kami ngopi di sana sedari malam buat membicarakan kenangan-kenangan. Kenangan, kita tahu bakal terasa semakin meradang apabila dibicarakan seraya menyeruput secangkir kopi. Kopi yang hitam, legam, kental, dan pahit. Kopi semacam itu selalu berhasil meringkus kenangan-kenangan supaya, jikapun mesti dipercakapkan, tak lantas jadi sendu. Sebab sendu kependekan dari seneng duit.

Kopi yang hitam, legam, kental, dan pahit. Tentu kopi secadas itu bukan milik saya. Hanya kawan saya berambut kribo saja yang menyukai kopi semacam itu. Kopi saya kopi cupu belaka, rasa moka yang pas manisnya, lantaran kenangan saya seperti kopi saya itulah, pas manisnya.

Malam itu malam terakhir saya di Semarang. Kali kedua dalam setahun pulang ke kampung halaman. Cukuplah buat bujangan perantauan seperti saya mudik dua kali dalam satu tahun. Sudah cukup kenyang saya dengan kota tua itu. Hijrah ke tempat baru adalah impian saya sedari dulu.

Unu, cowok berambut kribo itu, sudah lama tak saya jumpai. Terakhir ketemu saat Lebaran dua tahun lalu. Bagaikan intel, kami selalu berbagi informasi dalam saban perjumpaan. Unu menceritakan perkembangan Semarang beberapa bulan terakhir dan saya membeberkan hipotesis mengenai makelar kebudayaan di Bumi Lancang Kuning.

Selebihnya, kenangan tentang peristiwa dan orang-orang yang, sungguh mati, punya andil tak kecil pada hidup kami hari ini.

Sungguh asyik bergunjing soal manusia, peristiwa, dan ide-ide sembari ditemani kopi, kretek (khusus Unu), kentang goreng, dan gorengan di tengah hujan yang tak mati-mati. Hujan memang tak mati-mati dan angin dingin sesekali berembus membawa tempias hujan. Awalnya hujan turun rintik-rintik saja, tapi kian lama kian deras dan awet dan udara di sekitar kami jadi semakin dingin.

Pohon asam besar di depan sebuah sekolah bekas rumah sakit melambaikan dahannya seakan sang pohon asyik menyimak percakapan kami. Dan hujan pun semakin enggan mati dan semakin larut malam semakin jayalah dia.

Kemarin lusa, saya pun telah berjumpa dengan beberapa kawan dan sempat pula ngopi-ngopi di Sampangan, Semarang. Saya suka bercakap-cakap dengan mereka, kawan-kawan saya itu. Bocah-bocah gila hola-holo kluntang-klantung yang menggandrungi ilmu, kesenian, dan kemanusiaan sampai-sampai tak menghiraukan hidup mereka sendiri.

Memandang mereka kadang-kadang membuat saya mewek. Saya selalu baper pada orang-orang yang berusaha jujur menjadi manusia, melawan diri sendiri, kedangkalan masyarakat dan lingkungannya, untuk sebuah gagasan yang nampak utopis. Sungguh mati, betapa langkanya orang-orang semacam itu.

Saya sesap caffè latte dan saya sadari bahwa tak banyak lagi sekarang manusia dengan kegilaan seperti Unu, Rian, Galang, Indra, Rasyid, dan Fajar. Saya bosan hidup di dunia yang penuh dengan selubung kepura-puraan, kepalsuan, kemunafikan. Saya jengah melihat sesama manusia saling menjegal. Saya lelah terus menerus coba menyamai manusia lain yang diburu waktu dan tak sempat lagi memikirkan eksistensi kemanusiaannya.

Bercakap-cakap dengan bocah-bocah gila hola-holo kluntang-klantung itu adalah ekstase yang sungguh mati sangat menyenangkan. Seperti kopi, kentang goreng, dan mi ayam.

Mereka, dalam hal tertentu, memang gila. Kurus, ceking, gondrong, kemproh, jarang mandi, urakan, slengekan, leda-lede, dan tak jarang sangat ita-itu kepada orang lain. Namun, mereka jujur——terutama kepada hidup dan diri mereka sendiri. Justru dari kegilaan itulah mereka dianugerahi kesadaran yang tak dapat direngkuh oleh manusia paling waras sekalipun. Atau, justru karena kegilaan itu mereka memperoleh kewarasan dan kesadaran.

Mereka hampir mewarisi karakter Meursault dalam Orang Asing-nya Albert Camus. Lelaki absurd yang menembak mati seorang pria tanpa alasan. Lelaki sama yang tak merasakan sedikit pun kesedihan saat ibunya meninggal. Namun, Meursault juga lelaki yang merdeka, jujur, dan terlalu terus terang. Lelaki yang marah pada, tetapi tak pernah bisa membenci, masyarakatnya——kendati masyarakat itulah yang selalu salah paham kepadanya.

Justru hanya dengan orang-orang seperti itulah saya selalu ingin ngopi-ngopi. Meskipun hujan tak mati-mati.

AP Edi Atmaja

Pembaca buku, pendengar radio, menulis untuk senang-senang.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405