Kopi Hitam Mbah Surip

Obat untuk menjaga stamina dan awet muda adalah kurangi tidur dan perbanyak minum kopi.

~ Mbah Surip

Siapa sih yang tidak kenal dengan sosok Mbah Surip. Kehadirannya dalam jagat seni musik secara fenomenal. Muncul kali pertama lewat lagu yang sederhana dan mampu menghipnotis orang se-antero negeri.

Perawakan yang sederhana, humoris, dan sedikit nyentrik dengan rambut panjang gimbalnya, dan tidak lupa satu properti yang selalu ia bawa, gitar tua. Mbah Surip mampu membawa musik reggae banyak dinikmati. Hit lagu Tak Gendong juga membawa ia dalam puncak popularitas.

Dilahirkan dengan nama Urip Achmad Rijanto, pada 6 Mei 1957 di Mojokerto, Jawa Timur, yang lebih populer dengan panggilan Mbah Surip.

Kata “mbah” bukan berarti, tua secara umur dan fisik, tapi hal itu lain menurutnya. Mbah, suatu ikon yang berisikan template kehidupan, dari calo tiket bioskop hingga artis sudah ia lakoni dalam setiap drama kehidupannya.

Ia bukan saja jenius dalam bermusik, tapi memainkan peran dalam ruang-ruang kehidupannya ia sanggup jalani dengan luar biasa.

Ragam peran yang ia harus mainkan dalam dunia ini tak satu pun yang membuat ia gentar, tersirat dari keunikan cara ia tertawa, lepas tanpa beban, hidup bukan untuk dipikir saja tapi keikhlasan dan kerelaan hati dalam menjalani.

Mbah Surip
Mbah Surip © Viva.co.id

Jakarta, bagi sebagian orang sebuah arena pertarungan melawan kegagalan, keniscayaan, dan kesendirian. Lain halnya kisah Mbah Surip, beliau mampu melunakkan hati Jakarta dengan peringai lugu, jujur dan riang yang selalu tersirat dalam kesehariannya. Jakarta memberinya ruang eksklusif baginya untuk memberi warna dalam ingar-bingar Jakarta.

“Mbah Surip ha, ha, ha…i love you full!”

Sembari nyruput kopi dan sebatang rokok di tangan dia mulai beraktifitas di pagi hari. Kegemaran akan kopi dan rokok tidak bisa dihilangkan, dari bangun pagi hingga menjelang tidur malam, selalu kopi hitam harus tersaji.

Mbah Surip sudah lama hidup berteman kopi hitam dan sebatang rokok, beliau menghabiskan kopi rata-rata 6 sampai 7 gelas sehari, bahkan pernah mencapai 20 gelas, belum lagi rokok kreteknya.

“Saya itu mengisap rokok ini sejak lama. Waktu masih muda, Saya suka minum kopi dan merokok, keduanya saling melengkapi: jodoh,” kisahnya sambil mengisap rokok kretek buatan Kediri, Jawa Timur.

Ia sangat menyukai kopi hitam dengan sedikit manis, diminumnya saat, pas, bangun tidur, sebelum dan sesudah makan, sebelum kerja dan tidur. Kebiasaan minum kopi ekstrem itulah dia dijuluki “manusia luwak”. Baginya lewat kopi, rokok, dan keikhlasan hidup inilah yang membawa pada kemulian hidup.

So, apa pun kata orang tentang kebiasaan minum kopi Mbah Surip, i just can said i love you full.

Kini, kita hanya bisa mengenang kebersahajaan hidup dari seniman seperti Mbah Surip. Jakarta, 4 Agustus 2009 silam pada umur 52 tahun, seniman ini meninggal.

Selamat jalan Mbah Surip, saya bersyukur karena engkau telah mengajarkan kopi hitam, rokok dan tawamu serta lagu Tak Gendong dalam menghadapi kehidupan yang semakin tak beraturan.

Salam sruput. I love you full!

Tejo Lumaksono Adi

Bapak dari satu istri dan satu anak, KTP probolinggo domisili Jakarta.