Kopi Guraka: Kopi Rempah, Nyanyian Ombak, Dan Eksotisme Kota Ternate

Kalau bukan karena Nody Arizona yang tiba-tiba mengabarkan tentang kenikmatan kopi rempah khas Ternate, yang disajikan bersama pisang goreng hangat dengan pemandangan pantai uang seribu didepan mata, mungkin saya tidak akan pernah memaksa suami saya untuk pergi berburu kopi malam itu juga.

Saya bukan penggila kuliner, jujur saja. Dan sudah sejak lama saya menanggalkan kopi dari jenis kenikmatan surgawi yang saya puja selama ini. Bukan saja karena suami saya tidak doyan kopi, tapi juga karena ada jabang bayi dalam kandungan saya, yang sebisa mungkin tidak banyak mendapatkan asupan kafein dari lidah ibunya.

Tapi kali ini berbeda. Saya berada di suatu pulau yang pada masanya dikenal sebagai pusat rempah dunia, dengan panorama alam mengagumkan, dan ragam kuliner baru yang patut diburu. Akan menjadi hal yang memalukan apabila saya tinggal di dalamnya tanpa sekalipun mencicipi sajian khas pulau ini, terlebih lagi soal si kopi. Maka dengan bekal iming-iming dari Mas Nody, dan alasan sedang “ngidam”, saya membujuk suami saya agar mau mengantarkan istrinya menjelajahi kuliner khas Negeri Kie Raha.

Petang kala itu begitu cerah. Langit yang mulai lembayung merambat gelap tampak anggun berpadu dengan cahaya lampu-lampu di sepanjang jalan provinsi Kota Ternate. Dengan siluet Gunung Gamalama di satu sisi, dan bunyi kecipak air dari Laut Pasifik di sisi yang lain, motor kami melaju.

Tujuan kami malam itu bukanlah Floridas Restaurant, satu resto yang menyajikan beragam kuliner khas Ternate dengan bangunan menghadap langsung ke arah Pantai Fitu, pantai uang seribu, seperti yang dikabarkan Mas Nody. Melainkan ke tapak-tapak di sepanjang garis laut sebelah utara Jatiland Mall menuju arah Hypermart. Sebab Floridas Restaurant terlampau jauh untuk kami jangkau dalam naungan petang.

Rumah yang kami tinggali berada di Kecamatan Ternate Utara, 10 menit berkendara dari Bandar Udara Sultan Babullah Ternate. Sedangkan Pantai Fitu terletak di ujung selatan kota. Kami harus menempuh jarak sekitar 30 kilometer (sekitar 40 menit perjalanan) untuk sampai ke sana. Cukup jauh dibandingkan dengan tapak-tapak yang hanya 5 menit dari rumah.

Tapak ini mirip dengan rumah makan sederhana yang ada di kota-kota di Jawa. Dengan dapur sekadarnya, ragam menu masakan, sejumlah penyaji, dan kursi-meja yang ditata sedemikian rupa memenuhi sepetak ruang yang tak lebih dari 5×5 meter luasnya. Hanya saja, di seberang tapak-tapak yang berjejer rapi ini terbentang laut yang indahnya bikin sendu. Dan para penjual di masing-masing tapak sengaja meletakkan kursi-meja di trotoar tepi laut, agar pengunjung bisa memilih; ingin menyantap kudapan sambil ngobrol di dalam ruangan beratap, atau duduk-duduk kenyang sembari menikmati hembusan angin laut yang kencangnya mampu mengaburkan ingatan pada mantan.

Deretan kursi di sepanjang trotoar tepi laut
Deretan kursi di sepanjang trotoar tepi laut. | © Ophand Albana

Menu yang ditawarkan di tapak-tapak ini juga didominasi oleh makanan-minuman khas Ternate, seperti pisang lumpur, pisang goreng mulut bebek, berbagai olahan ikan cakalang, popeda, sambal dabu-dabu, dan air guraka. Yang terakhir inilah yang mengundang rasa penasaran saya.

“Air guraka itu apa, Mas?” Saya bertanya pada suami, ketika kami sama-sama melihat daftar menu yang terpampang di dinding ruangan.

“Air jahe, dengan toping kacang kenari,” jawab suami saya. “Tapi jahenya pakai jahe merah asli Halmahera. Jadi lebih panas rasanya.”

Saya ber-Oh-ria. Sedetik kemudian, “Ada versi kopinya?”

“Ada. Kopi guraka.”

Mata saya berbinar. Inikah kopi rempah yang dimaksud oleh Mas Nody? “Aku mau itu satu, ya! Sama pisang lumpur.”

Perempuan muda yang melayani pesanan kami sempat menanyakan apakah kopi gurakanya ingin ditambah susu atau tidak, sebelum kami beranjak dari meja kasir. Setelah menjawab “tidak”, saya dan suami pun segera mencari tempat duduk. Kami memilih duduk di salah satu deretan kursi di sepanjang trotoar tepi laut. Menikmati eksotisme bentangan air dari Laut Pasifik di sisi kiri, dan lalu lintas jalanan kota yang makin ramai di sisi kanan; satu sensasi yang belum pernah saya temukan di tanah kelahiran.

Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Suami saya memesan air guraka dan pisang epe—pisang bakar khas Indonesia Timur yang disajikan dengan gula merah, coklat, dan taburan kacang kenari—sedang pesanan saya sudah saya sebutkan di atas. Kudapan ringan saja. Kami memang sedang tidak berselera untuk menyantap makanan berat. Sebagaimana kami tidak pernah ingin menjalani hidup ini dengan pikiran-pikiran yang memberatkan.

Kopi guraka di hadapan saya tampak mengepul. Dengan taburan kacang kenari yang dicincang asal, penampilan kopi ini sungguh menggiurkan. Aroma jahenya begitu kuat, berpadu dengan harum kopi yang melenakan. Menghirup wanginya saja sudah menghangatkan jalan napas sampai ke tenggorokan.

Kopi guraka tanpa susu
Kopi Guraka | © Ophand Albana
Pisang Lumpur
Pisang Lumpur | © Ophand Albana
Pisang Epe
Pisang Epe | © Ophand Albana

Saya menyeruputnya perlahan. Mungkin benar bahwa jahe merah asal Halmahera memang lebih panas dari jahe-jahe yang dihasilkan di tanah lainnya. Pada kecapan pertama lidah saya, hangat jahe dari kopi guraka ini langsung terasa. Hangat, nyaris pedas. Disusul nikmat kopi, manis gula aren, dan gurihnya kacang kenari yang menyempurakan kolaborasi. Ada sensasi kayu manis yang sekilas saya rasakan, yang alih-alih mengganggu, justru menambah kenikmatan.

“Gimana? Suka?” Tanya suami saya. Saya mengangguk bersemangat.

Dibandingkan dengan kopi tahlil khas Pekalongan—kota tempat saya dilahirkan—yang komposisi rempahnya lebih banyak; cengkeh, jahe, pala, kapulaga, serai, kayu manis, gula merah; kopi guraka terasa lebih segar dan ringan. Kopi guraka hanya mengandalkan tiga bahan utama, yaitu kopi, jahe, dan gula aren. Kadang diberi sedikit kayu manis, juga campuran susu kental manis tergantung selera.

Biji kopi yang digunakan dalam meracik minuman khas Ternate ini bukanlah hasil tanam dari tanah lokal. Ternate tidak memiliki perkebunan kopi. Satu-satunya tanaman kopi yang ada di pulau ini tersimpan sebagai warisan leluhur di hutan lindung daerah Marikrubu. Itupun belum pernah dikembangkan. Wacana pengelolaan tanaman kopi oleh sejumlah tani HKM (Hutan Kemasyarakatan), yang didukung oleh Pemerintah Kota melalui Dinas Pertanian, baru akan direalisasikan tahun 2017 mendatang. Selama ini, penjaja kopi di Ternate mendapatkan biji kopi dari dataran Sulawesi atau Maluku, untuk kemudian diolah mandiri secara tradisional.

Akhir bulan nanti, pada puncak perhelatan Hari Jadi Ternate ke-766 tanggal 29 Desember 2016, akan berkumpul tokoh-tokoh penting dan ragam masyarakat yang merupakan perwakilan dari wilayah Segitiga Emas: Ternate, Tidore, dan Kabupaten Halmahera Barat. Ada yang menarik di sini. Kabarnya, Pemerintah Tidore akan mempersembahkan atraksi penyajian kopi dabe, kopi rempah asli Tidore, sebagai ajang promosi sekaligus mengeratkan komitmen diantara tiga daerah Maluku Utara tersebut. Pun demikian dengan Jailolo, Ibu Kota Halmahera Barat, yang akan turut memeriahkan acara dengan mengenalkan kopi rempah khas daerahnya. Ini akan menjadi momentum bersejarah bagi saya, sebab belum tentu agenda yang sama digelar tahun depan. Belum tentu pula, di tahun-tahun mendatang, saya masih berada di tanah Ternate.

Puas menikmati seduhan kopi guraka dan cemilan pisang, kami pun pulang. Hangat jahe merah dan nyanyian debur ombak yang terdengar sepanjang petang itu masih membekas, bahkan ketika kaki telah menginjak pelataran rumah.

Ra’ufina

A wife. Mom soon to be.