Kopi Gucialit

Kopi Gucialit
Sardi dan pohon kopinya. © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Sardi seperti ditakdirkan menjadi seorang petani kopi. Sedari kecil hingga usianya kini yang memasuki 48 tahun, ia tetap mencintai tanaman kopi. Seluas tiga hektar kebunnya ditanami kopi bersama tumpangsari pisang, durian, dan sengon.

Kebunnya itu terletak di lereng gunung Semeru, dan berada di ketinggian antara 400 mdpl sampai dengan 600 mdpl. Daerah teduh yang pas ditanami kopi jenis Robusta. Dan memang begitu, daerah Gucialit dikenal sebagai daerah penghasil kopi di Lumajang.

Tetapi sayang lahan tanaman kopi terus-menerus berkurang di sana, berganti tanaman lain yang lebih menjanjikan. Sejak 2010 banyak petani yang menebang tanaman kopi mereka, sebagian menanam tebu dan tanaman lainnya. Sekarang, di sekitar perkebunan Gucialit milik Sardi banyak ditemui tanaman tebu, kopi, sengon, jati, dan pisang.

Sardi salah seorang yang tetap ingin mempertahankan tanaman kopi di kebunnya. Kopi yang sedari kecil telah dikenalnya. “Saya lahir di kebun ini, hidup dari kopi, dan untuk selanjutnya akan terus mempertahankan kopi,” kata Sardi di rumahnya yang di tengah-tengah kebun kopi.

Sardi bercerita, pada 2007, kebun kopi rakyat Gucialit didatangi perusahaan mitra dari Malang. Herannya, mitra itu bisa menemukan rumahnya yang akses jalannya masih berupa susunan bebatuan. Mereka memberikan pembinaan dan mengajak kerjasama. Tawaran kerjasama itu disambut dengan sangat baik oleh petani kopi, termasuk juga Sardi.

Sardi dan petani kopi lainnya membentuk asosiasi petani kopi Gucialit. Atas dasar kesepakatan dengan perusahaan mitra tersebut mereka menghentikan pupuk kimia dan menggantinya dengan pupuk organik. Dari kotoran sapi, kambing, dan ayam yang mereka pelihara.

Biji Kopi Gucialit
Biji Kopi Gucialit © Dian Teguh Wahyu Hidayat
Biji Kopi Gucialit
Biji Kopi Gucialit © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Sardi terlihat begitu bersemangat menceritakan semuanya. Semangat itu terlihat ketika dia mengajak saya ke kandang. Ia menunjukkan langsung hasil pupuk organik miliknya. Segenggam pupuk kotoran hewan itu diambil, kemudian dia memperlihatkan tangannya dengan menjulurkan ke arah saya. “Ini kami buat sendiri,” kata Sardi dengan terus menerangkan cara pembuatan pupuk organik.

Hasilnya, kopi Gucialit semakin disukai penikmati kopi. Perusahaan mitra menambah jumlah permintaan. “Kami mampu mengirimkan setiap satu hektarnya satu ton biji kopi. Itu pun sudah kami olah sendiri,” papar Sardi.

Selain penggunaan pupuk organik, dia mampu menilai mana kualitas biji kopi yang bagus. Dan menghafal semua karakteristik kopi-kopinya. Mulai dari buah yang dihasilkan pohon tertentu, warna buah, tekstur, rasa, sampai aroma.

Sardi mengatakan bahwa kopi Gucialit mempunyai karakteristik yang khas. Tidak ditemukan di daerah lain. Kekhasan itu dimiliki oleh tujuh varietas kopi lokal jenis Robusta di Gucialit.

Ketujuh varietas Robusta tersebut adalah BP, Tugusari, Kalisari, Bangkelan, Marwas, Iskanda, dan Krembyang. “Ada datanya semua, dan orang-orang asosiasi harus hafal,” kata Sardi.

Banyaknya varietas ini ditemukan dari upaya para petani dan mitra mencari kualitas biji kopi terbaik. Tahan hama, produktif, dan mudah dipanen. Akhirnya pihak mitra memberikan bibit dari luar yang disilangkan dengan kopi lokal.

Kemudian, berbagai persilangan itu juga saling-disilangkan hingga sampai terbentuk tujuh varietas yang berbeda tersebut. “Parameternya ya pasar, jadi kami mencoba untuk mencari bibit yang sesuai dengan keinginan pasar,” ungkap Sardi.

Hingga mereka menemukan empat varietas untuk diekspor. Yaitu, BP, Tugusari, Kalisari, dan Iskanda. Dari keempat varietas itu yang asli tanaman kopi Gucialit adalah Iskanda. Sedangkan varietas lainnya hasil dari persilangan.

Kopi Gucialit
Perbedaan daun disebabkan varietas yang tak seragam. © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Seperti antusias yang dia tunjukkan tadi. Sardi kembali mengajak ke kebun depan rumahnya yang berjarak hanya sepuluh meter. Sardi kemudian menunjukkan perbedaan tujuh varietas itu. “Ini daunnya Iskanda, berbeda kan dengan yang ini? Yang ini Kalisari. Buahnya pun lihat, juga beda,” terang Sardi dengan memetik dan mengumpulkan daun di telapak tangannya.

Sardi kemudian kembali mengajak saya kembali ke rumahnya. Menikmati sajian minuman teh dalam gelas. Kemudian tiba-tiba berkata kalau sebenarnya dirinya tidak minum kopi lagi. Saya pun kaget. Padahal sedari tadi dia bercerita banyak hal tentang kopi dan karakteristiknya.

Melihat raut penasaran saya, Sardi menceritakan bahwa dulu ada satu varietas yang menurutnya paling baik kualitasnya, yaitu Kencis. Namun sayangnya Kencis sudah tak ditanam oleh para petani. “Padahal Kencis itu paling enak,” ungkap Sardi.

Kepunahan Kencis tidak terlepas dari kesalahan para petani sendiri. Kopi yang dianjurkan oleh perusahaan lebih banyak ditanam. Lebih tahan penyakit, pohonnya lebih pendek, dan buahnya banyak. Tapi tidak demikian dengan Kencis. Pohon Kencis terlalu tinggi, menyulitkan dalam pemanenannya. Selain itu, Kencis juga rentan terhadap hama dan penyakit. “Apa boleh buat, masalahnya Kencis kurang menguntungkan untuk ditanam,” kata Sardi menampakkan kekecewaannya.

Semakin hari, Kencis semakin tidak diperhatikan. Para petani, termasuk juga dirinya, semakin melupakan Kencis yang pernah menjadi kopi favorit Sardi. “Dan sekarang Kencis sudah punah,” keluh Sardi.

Sardi sebenarnya berupaya mencari lagi Kencis. Namun sampai sekarang, tidak ada tanda-tanda keberadaan kopi varietas Kencis. Asosiasi juga terkendala teknis dan biaya. Karena jika Kencis masih ada pun harus mencarinya di pedalaman hutan.

“Sangat sulit untuk mencarinya. Dan lagi kalau sudah ketemu, sulit mempertahankannya. Sekarang, kopi asli Gucialit ya tinggal Iskanda ini,” kata Sardi, kemudian menyeruput teh di depannya.

Dian Teguh Wahyu Hidayat

Masih jadi jurnalis, dan seorang wiraswasta yang ingin mengeksplor tempat kelahirannya, Demak, Jawa Tengah.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405