Kopi Ek Bouw, Kopi Garut

Kopi Garut
Kopi ek bauw adalah jawara lokal dan sudah turun temurun menjadi langganan orang-orang Garut. © Farchan Noor Rachman

– Adakah kopi asli Garut?

Pertanyaan ini muncul karena Garut samar sekali dengan kopi, nyaris tiada dengung. Sejak era Walanda, Garut lebih dikenal dengan hijaunya perkebunan teh di bukit-bukitnya yang aduhai. Kembali ke pertanyaan semula. Saya justru mendapatkan informasi kopi garut ini dari pramubakti di tempat saya berkantor sebelumnya. Dia memberitahu bahwa ada kopi ek bouw, kopi dari Garut katanya.

Belakangan ini ketiadaan kopi asli Garut memang membuat beberapa perusahaan kopi lokal mengklaim produksinya sebagai kopi garut dan secara terbatas menitipkan jualannya di restoran-restoran dan toko-toko buah tangan yang banyak tersebar di Garut. Namun kebanyakan orang asli Garut hanya menganggap Kopi Ek Bouw sebagai kopi asli Garut. Kopi ini adalah jawara lokal dan sudah turun temurun menjadi langganan orang-orang Garut.

Untuk mencari tahu tentang kopi lokal ini, saya pergi ke Pengkolan, pertigaan paling ramai di Garut. Sejak dulu, persimpangan ini sudah dikenal sebagai persimpangan paling ramai. Tempat orang-orang yang hendak dan dari Bandung dan Tasikmalaya bertemu di Garut. Dan di Pengkolan ini pula berkembang simpul ekonomi yang pertama ada di Garut, toko-toko besar tempat menak Garut dan petinggi-petinggi kolonial berbelanja.

Kopi Garut
Kopi ek bouw biasa dijadikan buah tangan oleh pelancong yang singgah di Garut. © Farchan Noor Rachman

Salah satu toko yang masih bertahan sejak era kolonial hingga sekarang adalah Toko Ek Bouw Jaya, yang konon katanya adalah awal mula kopi ek bouw. Di toko ini, saya bertemu seorang kakek gagah pemilik toko. Sosoknya tinggi, rambutnya tipis putih, matanya awas pada pembeli dan senyumnya yang lebar tak pernah berhenti.

“Saya cari kopi, Om, katanya di sini jual kopi bubuk?”

“Mari-mari dik, ini kopi-kopi yang ada di sini. Mau yang mana Dik?” katanya sambil menunjukkan beberapa tong besar bubuk kopi.

“Duh saya bingung Om, ini jenis kopinya yang seperti apa ya?”

Saya diajaknya mengambil beberapa catatan dari mejanya dan menuju depan tong-tong besar wadah kopi.

Sanjaya, begitulah kakek gagah tersebut memperkenalkan diri. Dia adalah generasi ketiga toko ini. Generasi pertama yang merintis Ek Bouw adalah kakeknya, yang dahulu pertama kali datang ke Garut dari tanah Tiongkok sekitar awal abad ke 20.

Kakek dari Sanjaya awalnya tidak menjual kopi. Layaknya perantau Tiongkok yang datang ke Tanah Air, generasi pertama keluarga Sanjaya berjuang menyambung hidup dengan berdagang. Awalnya berdagang apa saja, lantas kemudian mulai menjual kopi yang rupanya disukai oleh orang-orang Garut. Lantas usaha ini diteruskan oleh generasi kedua dan terakhir diwariskan pada Sanjaya.

Tapi memang toko yang dikelola ini tidak mengkhususkan diri menjual kopi. Tokonya adalah toko kelontong yang menjual bahan kebutuhan sehari-hari, salah satu yang terbesar di Garut. Toko ini masih sanggup bertahan, pun laris manis, meski minimarket atau toko grosir skala besar terus menggempur.

Kopi Garut
Sanjaya, pemilik Toko Ek Bouw Jaya. © Farchan Noor Rachman

Kopi ek bouw sendiri hanya menempati satu sudut kecil yang dipenuhi tong-tong kopi, timbangan dari jaman kolonial yang masih berfungsi dengan baik, dan jejeran plastik bungkus kopi.

Tentu saja di sini ada jenis arabika atau robusta. Masalahnya tong-tong kopi itu dinamai berbeda seperti: spesial, istimewa, klasik, ekonomi. Tidak gamblang menyebutkan jenis kopinya, apakah arabika atau robusta. Harganya berbeda, tergantung kualitasnya. Kopi paling murah adalah jenis ekonomi. Harganya 6 ribu rupiah per ons.

“Mau yang mana? Ini ada banyak kopinya, dek,”tanya Sanjaya.

Melihat saya yang celingak-celinguk, Sanjaya mahfum.

“Kalau yang di tong tulisannya Istimewa ini jenis Arabika. Kalau kaleng yang lainnya itu campuran antara arabika dan robusta, takarannya berbeda-beda. Mau pesan yang mana?”

“Oh, ngerti saya. Kalau gitu minta arabika dan robusta saja… masing-masing 5 ons.”

Kopi ditakar, dimasukkan ke dalam plastik bening bercap “ek bouw” kemudian diberi sentuhan terakhir, label jenis kopi yang ditempelkan di plastik. Pengemasannya memang demikian, sederhana saja. Untuk menutupnya ujung plastik dipanaskan dengan mesin pemanas hingga plastik tertutup rapat. Saya tak sabar untuk segera menyesap kenikmatan kopi ini.

Kopi Garut
Proses penjualan kopi ek bouw. © Farchan Noor Rachman

Biji kopi untuk kopi ek bouw entah darimana asalnya, Sanjaya tidak mau memberitahu. Yang jelas untuk proses sangrai, Sanjaya melakukannya sendiri. Ada gudang sendiri untuk mengolah kopi-kopi yang akan ia jual di toko-tokonya. Skala penjualan kopi ini memang tak terlalu besar, karena kopi ek bouw memang hanya kopi lokal di Garut.

Distribusi kopinya pun terbatas. Katanya, selain beberapa rumah makan yang rutin memesan kopinya, Sanjaya hanya memasarkan di tokonya. Untuk inovasi, Sanjaya membuat kemasan kaleng plastik yang lebih praktis. Katanya itu untuk kepentingan distribusi di toko oleh-oleh, walaupun model promosi dan distribusi yang sederhana tapi kopi ek bouw tetap saja laris.

Pelanggan kopi ini turun temurun. Sanjaya bahkan rutin mengirim beberapa kilogram kopi tiap bulannya kepada pelanggan setianya yang ada di luar kota. Rata-rata pembeli kopinya sudah setengah baya, bahkan uzur. Menurut Sanjaya mereka pelanggan kopinya sejak generasi kedua. Ia menambahkan, katanya baru saya saja anak muda yang mencari kopi ek bouw sampai diskusi panjang lebar soal kopi.

“Jarang yang beli kopi ek bouw itu anak muda. Rata-rata sudah aki-aki,” kata Sanjaya sambil berkelakar. “Kopi ini ya gak laku kalau di kafe-kafe yang banyak anak mudanya. Mereka pasti lebih suka kopi yang campur-campur.”

Kopi Garut
Kopi ek bouw kemasan kaleng. © Farchan Noor Rachman

Setelah diskusi panjang lebar yang melebar kemana-mana saya belum mendapatkan jawaban apakah kopi ek bouw adalah kopi dari Garut atau tidak. Kultur perkopian yang sekarang ini memang menghargai daerah asal biji kopinya. Karakter yang khas dan rasa yang unik membuat kopi-kopi ini spesial dan dihargai tinggi, maka kemudian muncul penghargaan dengan memberikan imbuhan nama tempat sebagai daerah asal kopi. Dan dari nama tempat itulah karakter kopi yang kuat bisa ditemukan.

Sekali lagi saya bertanya pada Sanjaya. Dari manakah biji kopi kopi ek bouw ini berasal, apakah dari perkebunan di Garut ataukah dari perkebunannya sendiri.

Sanjaya malah menjawab dengan senyum lebarnya. “Itu rahasia perusahaan.”

Tapi tak apalah, yang penting kopi ek bouw adalah kopi lokal Garut yang menurut saya enak. Perkara kopi ini bisa disebut kopi garut atau tidak itu tergantung interpretasi masing-masing, toh Sanjaya juga tak peduli, dia hanya berusaha untuk terus menyediakan kopi untuk para pelanggannya.

Ingatlah saat singgah ke Garut jangan lewatkan untuk mencari kopi bubuk termasyhur di Garut ini, mampir dan belilah kopi ek bouw.

Catatan:

Saya mencoba brewing kopi ek bouw buatan Toko Ek Bouw Jaya ini dengan metode tubruk. Menurut lidah saya, pahitnya pekat sekali, asamnya sedikit di bawah rasa pahitnya. Ada semacam aroma gosong menyeruak, mungkin hasil penggorengan kopinya. Beberapa teman yang lambungnya sensitif dengan asam kopi merasa cocok dengan kopi ini. Kata mereka cocok untuk yang berlambung sensitif. Selama di Garut, kopi ek bouw biasanya saya nikmati di pagi hari, sembari menyomot 1-2 buah gorengan panas.
Kopi Ek Bouw bisa dibeli di :
Toko Ek Bouw Jaya
Jalan Ahmad Yani 87A, Garut 44115
0262 – 233365

Farchan Noor Rachman

Pecinta amatir kopi. Lebih suka ngopi di warung daripada di kedai kopi. Tentunya karena urusan isi dompet.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Adi Baroz

    Mendapat pelajaran dan inspirasi yg luar biasa bagi pencinta kopi dan ingin mengembangkan usaha kedai kopi seperti saya..salut..!! Trims..