Kopi Daun

Jika Anda datang ke pedalaman Sumatera sana, terutama di sebelah tenggara lereng gunung Marapi, maka sejenak singgahlah di kampung yang bernama Pasia Laweh. Anda cukup berhenti dan mampir di kedai-kedai kopi di pinggir jalan kampung sana, yang dinding-dinding kedainya terbuat dari papan kayu surian. Jika datang pagi-pagi ataupun menjelang petang, kedai-kedai kopi itu tidak akan sepi pengunjung, selalu disesaki oleh orang-orang yang masih berkain sarung ataupun orang-orang yang di ujung celananya kecokelatan bekas lumpur sawah atau ladang yang mengering. Jangan sungkan, duduklah di antara mereka dan panggil orang kedainya dengan teriakan, “Kawa daun ciek, Da!”

Itulah teriakan khas kampung sana dalam bahasa Minang untuk memesan setempurung kopi kawa—kenapa setempurung? Karena memang disajikan di dalam tempurung yang sudah dibersihkan, bukan di dalam gelas ataupun cangkir.

Kopi Daun

Sedikit agak asing memang terdengar namanya, namun percayalah, jenis kopi ini sudah ada sejak kopi dikenal masyarakat Indonesia. Dan persoalan nama kopinya ini pun, rata-rata setiap orang mempunyai sebutan masing-masing, namun satu kata kuncinya, yakni: kawa. Kawa berasal dari bahasa Arab, qahwah, yang artinya memang “kopi”. Entah sejak kapan masyarakat sana mengenal kosakata itu, yang pasti kosakata itu telah menjadi kosakata setempat milik mereka.

Saya memilih duduk di paling sudut bagian luar yang menghadap ke dalam kedai ketika singgah di salah satu kedai kopi di kampung itu. Dingin masih memagut, gunung Marapi yang memagar kampung itu masih berbungkus kabut, begitu juga dengan orang-orang yang keluar rumah sepagi ini, setidak-tidaknya sebuah kain sarung masih melekat di badan mereka, laki-laki atau perempuan. Beberapa orang lewat di jalan depan kedai itu, kadang hanya lewat begitu saja dalam diam pagi itu, kadang ada yang menyapa tanpa singgah buru-buru ke ladang, namun kebanyakan dari mereka juga berbelok ke kedai kopi, baik kedai yang saya singgahi ini maupun kedai kopi lain, yang rata-rata bentuknya hampir serupa, terbuat dari papan kayu surian dan tonggak-tonggaknya terbuat dari batang kayu kulit manis.

Daun-daun kopi dalam proses pengeringan. © Pinyu Ramadhani

“Tungku baru dijerang, Nak! Tunggu sebentar lagi!” Orang kedai itu menyentakkan lamunan saya menikmati suasana pagi di kampung ini. Sekarang saya mengalihkan arah pandang ke dalam kedai. Tampak Atuak, pemilik kedai itu, masih terbungkuk-bungkuk di depan tungku mengatur kayu dan api tungku. Dari mulutnya asap rokok daun nipah tidak berhenti mengepul seperti tidak berhentinya asap yang mengepul dari dapur tungku kedai itu. Antara dapur tungku dan tempat menjamu pelanggan yang datang ke kedai itu memang tidak ada sekat, ruang lepas begitu saja. Bentuk kedai yang memang masih benar-benar tradisional, namun inilah bentuk yang mengakrabkan pemilik kedai dengan pelanggannya.

Asap dari tungku semakin banyak mengepul, terkadang angin menyeruak ke arah saya, sehingga tidak ayal lagi, asap itu mengerubungi, membawa aroma harum dari daun-daun kopi yang disangrai di atas tungku itu. Aroma yang khas. Aroma daun-daun kopi. Aroma kampung sini.

Atuak pemilik kedai kopi itu tertawa ke arah saya, “Memang sedikit diperbanyak asapnya, pemanggil orang datang.” Begitu katanya sambil tertawa memamerkan giginya yang tinggal tidak seberapa buah lagi. Lalu ia berjalan ke arah saya, menghidangkan Kawa Daun yang saya minta tadi. Seketika aromanya menyeruak ke hidung, aroma kopi yang khas bercampur dengan aroma daunnya. Benar-benar menghadirkan aroma tersendiri. Perlahan saya menyeruputnya, seperti kelat teh namun yang pasti ini bukan teh, karena rasanya didominasi oleh rasa kopi arabika bercampur dengan rasa mint dari daunnya. Perpaduan yang benar-benar khas antara rasa tanah dengan rempah. Inilah Kawa Daun itu, ujar saya di dalam hati. Saya meletakkan tempurung kelapa itu kembali di atas meja dengan rasa puas di ujung bibir yang menjalar ke sekujur tubuh.

Atuak beserta daun-daun kopi basah. © Pinyu Ramadhani

Hawa gunung kembali menyergap tubuh saya, namun kali ini tidak membuat tubuh saya gigil, kawa daun yang barusan masuk ke tubuh saya cukup menimbulkan rasa hangat. Saya melepas kain sarung yang sedari tadi dililitkan di leher. Atuak pemilik kedai itu tersenyum, lagi-lagi memamerkan giginya yang tinggal tidak seberapa buah. “Kenapa tidak berdiang saja di dekat tungku agar tambah hangat?” katanya sambil tertawa. Saya tertawa menanggapi candaannya itu, sambil balik bertanya, “Api tungku itu hidup sepanjang hari, Tuk?”

Atuak itu mengangguk, ya itulah sedikit rahasia untuk menjaga cita rasa Kawa Daun ini, terangnya. Juga sekaligus untuk menyangrai daun-daun kopi yang ada di bubungan kedai. Jika daun-daun itu sudah kering kecokelatan akan diganti dengan daun-daun baru, bukankah ini bahan dasar dari Kawa Daun itu, tambahnya lagi. Saya mengangguk dengan kembali menyeruput Kawa Daun itu sebelum dingin. Saya jadi ingat sedikit sejarah dari Kawa Daun ini, beberapa waktu yang lalu saya pernah membaca Tesis-nya Mustika Zed, seorang sejarawan Sumatera Barat, judulnya Melayu Kopi Daun.

Tesisnya itu menerangkan bagaimana sejarah sampai adanya kawa daun ini di tengah-tengah masyarakat pedalaman Sumatera ini, serta pengaruh sosio-budayanya bagi masyarakat. Singkat ceritanya, ketika kolonial Belanda menggalakkan penanaman kopi di Sumatera Barat, harga kopi jadi begitu tinggi. Pemerintah kolonial Belanda memonopoli setiap komoditi kopi yang ada, sehingga pribumi tidak mendapat jatah untuk menikmati biji-biji kopi yang ada. Namun, ternyata pribumi-pribumi di sini tidak kehilangan akal, tidak mendapat kesempatan untuk menikmati biji-biji kopi yang harganya begitu tinggi, pribumi-pribumi di sini memanfaatkan daun kopi yang dengan begitu mudah didapat dan gratis. Akhirnya, kondisi tersebut malah melahirkan sebuah cita rasa baru dalam kopi. Kolonial Belanda yang frustrasi, yang menganggap pribumi-pribumi itu bodoh karena sudah tidak mau tahu dengan harga kopi yang diterapkan Kolonial dengan begitu tinggi, akhirnya memaki pribumi dengan ejekan, “Godverdomme! Dasar Melayu kopi daun zegg!”

Saya jadi mengangguk-angguk sendiri mengingat hal itu. Kolonialisme yang mengilhami sebuah tradisi baru dan cita rasa baru. Kemudian saya jadi tersentak dan memanggil Atuak pemilik kedai itu, “Atuak, ketika penjajahan Belanda, apakah Atuak sudah lahir?”

“Ya, sudahlah. Bahkan ketika Jepang masuk saya sudah aqil baliq!”

“Nah, Atuak tahu apa nama yang keren buat Kawa Daun ini?” Ujar saya masih dengan penuh semangat.

“Apa, Anak Muda?”

“Kopi Postkolonial, Tuak!”

Atuak tersebut melongo, tidak mengerti dengan kosakata saya. Tapi tidak masalah, setidaknya ada yang saya bawa dari sini. Seiring itu, Atuak tersebut memanggil istrinya sambil memasang sepatu bot ladangnya, “Piak! Jaga kedai, ambo mau ke kebun!” teriaknya dalam suara serak ketuaannya.

“Jauh kebunnya, Tuak? Kebun kopi kan?”

“Tidak begitu jauh, di punggung gunung sana.”

“Saya ikut!”

Tanpa menunggu izin dari Atuak tersebut saya pun ikut berkemas, tentu, tidak lupa menghabiskan Kawa Daun di hadapan saya. Matahari memang sudah mulai tinggi, puncak gunung di kejauhan sana sudah mulai kelihatan.

Sumber Foto:

Pinyu Ramadhani dan Zaldy Ogawa (http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2012/05/04/kawa-daun-455014.html)

Pinto Anugrah

Menulis sastra, berasal dari dataran tinggi Minangkabau. Kegemarannya untuk menggali cerita masa lampau Minangkabau secara tidak sengaja telah membawanya masuk pada sempilan-sempilan cerita tentang kopi yang ikut membangun peradaban Minangkabau. Saat ini sedang bersitungkin dengan situsweb mitekopi.com.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • “Kawa daun ciek, Da!”

  • Kopi postkolonial!! Penasaran jadi pengen nyruput…

  • Pinto Anugrah

    anandita: ayo dicoba mbak, kalau mbak di jogja, mampir aja ke tempatku, masih ada bahannya sekarung nih 😀

  • apittiro

    kawa daun di geser rokok di geser goreng jaan lupo da

  • eko

    Belum kebayang rasa kawa daun ini kayak apa. dab, rumahmu dimana? bagi dong Kawa daunnya. Atau beli. Itu tinggal diseduh air panas aja’kan? Gak ada campuran daun lain…

  • Pinto Anugrah

    ane d jogja gan, boleh. kalao d jogja silahkan mampir k tmpat ane.

  • Amal Taufik

    saya pernah dengar kopi daun ini di buku max havelaar. Saya pikir fiksi. hahaha… Semoga di beri kesempatan ngicipi.. 😀