Kopi: Dari Kolschitzky sampai ke Lionel Messi

Tim Sepakbola Austria memasuki lapangan Stamford Bridge, bersiap melawan Timnas Inggris 07 Desember 1932.
Tim Sepakbola Austria memasuki lapangan Stamford Bridge, bersiap melawan Timnas Inggris 07 Desember 1932. © Imagno / Getty Images

Juli 1683, di Wina, Austria. Kolschitzky terbangun dari tidur saat hidungnya mengendus aroma yang sangat ia kenal. Seperti kuda kena pecut dengan sebat, ia melompat dari dalam tenda. Di luar ia melihat kawan-kawannya sesama prajurit sedang membakar tumpukan karung besar berisi biji-biji aneh.

“Demi Maria Yang Suci!” teriak Kolschitzky. “Yang kalian bakar itu kopi! Kalau kalian tak tahu gunanya, berikan padaku.”

Saat itu tentara Austria baru saja berhasil memukul mundur pasukan Turki dalam sebuah perang. Mereka tengah menggeledah barang-barang yang ditinggalkan oleh lawannya dan menemukan tumpukan karung berisi biji-bijian aneh dan berbau khas. Tadinya mereka duga itu makanan unta. Tapi lantaran unta tak doyan, rombongan tentara Austria mengira biji-bijian itu tak berguna dan memutuskan untuk membakarnya.

Seperti diceritakan sejarawan Mark Pendergrast dalam Uncommon Grounds: The History of Coffee and How It Transformed Our World, kala itu masyarakat Eropa belum akrab dengan kopi. Tapi Kolschitzky yang pernah tinggal di Jazirah Arab paham betul betapa penting biji-biji itu.

Kolschitzky yang tadinya berang melihat gunungan biji kopi hendak dibakar, akhirnya mudik dengan hati girang lantaran menggondol pulang berkarung-karung kopi. Ia membuka kedai kopi yang kemudian menjadi bagian dari generasi awal munculnya kedai-kedai kopi di Eropa.

Dimulai dari era Kolschitzky mengetes peruntungan dengan membuka kedai kopi inilah, budaya menenggak kopi bakal menyebar ke seluruh Eropa. Di sisi lain, kronik kecil Kolschitzky tersebut bisa dibilang punya pengaruh luar biasa buat perkembangan sepakbola dunia, dan Eropa khususnya. Tapi hal ini baru akan terlihat beberapa abad sesudahnya.

Sejak era Kolschitzky, penyebaran biji yang mulanya ditemukan di sekitar Etiopia ini tak tertahankan lagi di Austria, dan Eropa secara umumnya. Kedai-kedai kopi tumbuh dan menjadi tempat nongkrong yang sangat bebas buat setiap orang. Tak peduli latar belakang sosial dan tingkat ekonomi.

Kedai kopi di Eropa menjadi identik dengan gagasan-gagasan baru, intelektualisme dan kebebasan. Di kedai kopi orang-orang berbagi berita dan ide, membagikan selebaran, berdiskusi dan berdebat. Tokoh-tokoh terkenal di masyarakat, mulai dari filosof, pemusik dan bangsawan, sampai pengangguran semua kumpul jadi satu.

Mark Pendergrast bahkan menyebut bahwa ide-ide revolusi di Eropa dimasak di kedai-kedai kopi. Konsep ruang publik dan tempat perjumpaan gagasan yang tumbuh bersama kemunculan kedai-kedai kopi, terakumulasi dan memuncak pada peristiwa Revolusi Perancis.

Pengaruh (tak langsung) Kopi pada Sepakbola Dunia

Pada dekade 1930-an, Matthias Sindelar menambah daftar panjang orang terkenal yang gemar menghabiskan waktunya di kedai kopi. Nama Sindelar saat itu kesohor lantaran ia merupakan pemain sepakbola nasional Austria. Perannya sebagai ujung tombak andalan tim nasional setempat, dan selanjutnya menjadi kapten tim.

Di masa tersebut, sepakbola Austria tengah menikmati kejayaannya hingga mendapat julukan Wunderteam, Tim Ajaib. Tim ini pada akhirnya akan dicatat sebagai kakek dari taktik sepakbola paling terkenal di dunia, total football.

Secara tradisi, seorang penyerang tengah adalah sosok tinggi besar dengan pergerakan yang statis. Tak peduli sepanjang pertandingan ia bengong saja seperti kesambet setan penunggu kebun sebelah, asal ia lihai melakukan sentuhan akhir yang menjadi gol, semua urusan beres.

Tapi Sindelar lain. Ia sering ikut turun ke bawah, terlibat dalam aliran bola di tengah, namun tetap melakukan tugas sebagai pencetak gol dengan fasih. Pada saat ini, ide ini mungkin sudah jadi pemandangan biasa. Tapi kala itu yang dilakukan Sindelar bukan main revolusionernya. Sepakbola Eropa yang tadinya melulu berkiblat pada Inggris, mulai menemukan referensi lain dalam hal taktik.

Timnas Austria 1932
Pemain timnas Austria 1932. Kanan atas: Walter Nausch, Karl Zischek, Matthias Sindelar, Fritz Gschweidl, Karl Rainer, Anton Schall, Adolf Vogl, Hans Mock. Pelatih (memegang tongkat): Hugo Meisl. Kanan bawah: Karl Sesta, Torwart Rudolf Hiden, Josef Smistik. © Ullstein Bild / Getty Images

Sejarawan sepakbola Jonathan Wilson dalam Inverting the Pyramid menilai bahwa kelahiran Wunderteam dan kemunculan Matthias Sindelar adalah representasi dari spirit of the coffee house yang saat itu kental di sekitar kawasan Austria.

Pengaruh Austria, dan secara spesifik gaya bermain Sindelar, menyebar pertama ke Hungaria. Hungaria sendiri mencapai puncak kejayaannya pada era 1950-an, ketika julukan Magical Magyars disematkan pada mereka.

Mereka menyumbangkan beberapa catatan penting dalam sepakbola, diantaranya lolos ke babak final Piala Dunia 1954. Catatan yang lebih menggemparkan adalah kemenangan 3-6 atas Inggris di Wembley tahun 1953, dalam partai bertajuk “Duel Abad Ini”.

Inggris, negara yang mengaku sebagai emaknya sepakbola, sebelumnya selalu tampil angker dan tak pernah dikalahkan tim dari luar British di stadion Wembley. Kekalahan dari Hungaria menggemparkan dunia. Bukan cuma karena itu kekalahan yang pertama, tapi juga karena dunia akhirnya melihat bagaimana Magical Magyars memainkan keajaiban di lapangan.

Hungaria memainkan taktik sepakbola yang belum pernah dilihat sebelumnya. Posisi pemain hanyalah patokan awal. Ketika laga berlangsung, para pemain bisa bergerak dinamis. Tim ini kemudian dicatat sebagai putra pewaris gaya Wunderteam Austria, sekaligus bapaknya total football yang dikembangkan di Belanda.

Salah satu pemain ikonik dari Hungaria adalah Nandor Hidegkuti. Ia memakai nomor punggung 9 seperti penyerang utama pada umumnya. Namun pergerakannya tak bisa diduga. Ia seperti Matthias Sindelar 2.0, Sindelar dalam bentuk lebih kompleks. Peran Hidegkuti saat ini dikenal sebagai false nine, alias penyerang palsu.

Dalam permainan, Hidegkuti bisa pindah jadi gelandang serang, sayap, bahkan menjemput bola dari lini belakang. Dan saat Hungaria mengancam, Hdegkuti tahu-tahu sudah bermesraan dengan pemain belakang lawan. Bek-bek Inggris kehabisan akal menjaganya. Kalau diikuti, lini belakang akan melompong. Tapi kalau dibiarkan ia semena-mena membully para gelandang Inggris.

Tradisi bermain Hungaria ini kemudian dibawa ke Belanda oleh Ernst Happel dan diperbarui oleh Rinus Mitchel. Posisi Hidegkuti diwariskan pada Johann Cruyff. Setelah itu Cruyff bersama Rinus Mitchel menularkan taktik ini ke Barcelona. Dan kini kita bisa menonton Lionel Messi sambil berdecak kagum.

Mari bayangkan. Misalnya Kolschitzky sempat bangun dan gagal membawa pulang biji-biji kopi yang akan dibakar, boleh jadi hari ini kita tak akan melihat Messi, tidak mengenal Cruyff, dan tak pernah menonton masa kejayaan Francesco Totti sebagai “penyerang palsu” pada 2005-2009.

Tuhan membangunkan Kolschitzky saat biji-biji kopi dibakar, bukan sebagai kebetulan.

Ahmad Makki

Penghitung bintang, penggaram lautan.