Kopi dan Puisi Menyehatkan Penyair

Suasana Kafe Bingkai Kopi
Lihat Galeri
4 Foto
Suasana Kafe Bingkai Kopi
Kopi dan Puisi Menyehatkan Penyair
Suasana Kafe Bingkai Kopi

© Matdon

Suasana Kafe Bingkai Kopi
Kopi dan Puisi Menyehatkan Penyair
Suasana Kafe Bingkai Kopi

© Matdon

Suasana Kafe Bingkai Kopi
Kopi dan Puisi Menyehatkan Penyair
Suasana Kafe Bingkai Kopi

© Matdon

Suasana Kafe Bingkai Kopi
Kopi dan Puisi Menyehatkan Penyair
Suasana Kafe Bingkai Kopi

© Matdon

Selama enam bulan terakhir, sejumlah penyair selalu datang ke kafe “Bingkai Kopi” di Jl. Arcamanik 45-47 Sindanglaya, Bandung. Kafe itu milik penyair Atasi Amin. Seiring berjalannya waktu, Atasi lalu punya ide, ia merelakan dinding kafenya dibiarkan ditulis puisi pendek.

Siapa saja boleh menulis puisi di sana, baru satu dinding rencananya sekeliling dinding akan terus dipenuhi puisi. Ruang yang luas itu memungkinkan orang untuk berkreasi, tidak hanya puisi, yang jago melukis juga bisa membuat sketsa.

Ketika berada disana, secangkir Arabika Ciwidey dan pisang goreng akan menemani sampai kita puas membaca puisi-puisi itu, sampai hanyut dan merasa kopi adalah puisi, puisi adalah kopi.

Kopi, sebagai minuman hasil seduhan biji kopi yang telah disangrai dan dihaluskan menjadi bubuk dan menjadi komoditas di dunia yang dibudidayakan lebih dari 50 negara. Dan puisi sebagai minuman penyegar bagi rasa haus dan gelisah. Berbaur menjadi kental maka sempurnalah hidup.

“Selain itu, kami juga menyediakan tempat untuk meeting dengan makanan yang bervariasi, tergantung kemauan konsumen, cukup 30 sampai 40 orang”, ujar Atasi Amin.

Kopi Robusta dan Kopi Arabika boleh pilih, ada dari Ciwidey, Lembang, Malabar, Garut, bahkan dari Brazil. Hanya dengan 10 ribu (gelas/cangkir) bisa dinikmati. Kalau kebelet pingin baca puisi, tinggal baca puisi di dinding atau membaca karya sendiri. Bebas berteriak!

Proses membuat kafe cukup panjang, pengalaman Atasi menjadi penyair dan memiliki modal yang cukup serta nekat, akhirnya tercipta kafe “Bingkai Kopi”. Bukan ikut-ikutan tren, tapi ini sudah lama ia impikan. Sebab Atasi tidak memperhitungkan rugi dan untung, kegembiraan saat orang minum kopi adalah puisi yang tak ternilai.

Dalam catatan Atasi menyebutkan, penemuan kopi sebagai minuman berkhasiat dan berenergi pertama kali ditemukan oleh Bangsa Etiopia di benua Afrika sekitar 3000 tahun (1000 SM) yang lalu. Kopi lalu populer di dunia yang dikonsumsi oleh berbagai kalangan masyarakat. Tentu mereka yang hobi minum kopi akan merasakan manfaatnya. Dari mulai meningkatkan energi dan dapat mengurangi rasa lelah sehingga kita menjadi lebih energik. ”Ini sangat diperlukan para penyair, kopi dan puisi sangat dekat”, katanya.

Bagi yang merasa keberatan badan atau obesitas, kopi dapat membantu membakar lemak dan kafeinnya dapat meningkatkan performa fisik secara drastis sehat. Kafein juga meningkatkan level adrenalin di dalam darah.

Menurut Atasi di dalam kopi mengandung nutrisi penting. Banyak nutrisi dari biji kopi yang terbawa sampai menjadi kopi yang diminum. “Bila kita minum 3-4 gelas per hari, jumlah nutrisinya menjadi semakin tinggi, silahkan saja coba!’ tambahnya seraya menyebut bahwa seperti juga kopi, puisi juga nutrisi yang bagus bagi kesehatan mental.

Di dinding-dinding itu sekarang sudah ada 24 penyair yang menulis, seperti Pungkit Wijaya, Bunyamin Fasya, Galah Denawa, Zulfa Nasrullah, Bambang Q Anees, Weni Suryandari, Emy Suy dan lain-lain. Tentu puisi mereka meski pendek tapi kental dengan makna, sekental kopi.

Kopi dan Susu menyegarkan, hanya soal kegelapan”,

Bahkan, Kopi pun kusangka dirimu

Itulah contoh puisi yang ditulis.

Jika kelak anda datang ke Bandung, cobalah mampir ke Bingkai Kopi, anda akan disambut pelayan yang ramah. Ada pula Barista yang terpilih siap melayani anda. Sebelum atau sesudah minum, bisa ambil spidol yang tersedia disana, lalu ikut nulis puisi.

“Puisi dan kopi itu bisa sepeti kafein, mengurangi resiko terkena parkinson”, ujar Atasi mengakhiri.

Matdon

Penyair/penulis/wartawan. Tinggal di Bandung. Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung.