Kopi dan Luka yang Diderita Pakdhe

Suatu hari Pakdhe saya bercerita pengalamannya belasan tahun silam. Tidak seperti biasanya, kali ini ia tidak menceritakan hal-hal yang memancing tawa. Rupanya Pakdhe bercerita bagaimana dia mendapatkan luka dan hingga kini kambuhan. Saya yang mendengarkan pun serius.

Katanya, luka itu akibat sebuah mobil menyeruduknya saat berangkat kerja. Dia terbaring koma selama dua bulan. Sarafnya sedikit terganggu, membuat bicaranya kurang jelas dan sering hilang kesadaran.

Semua berusaha supaya sarafnya tidak tegang. Keluarga sering kewalahan, dan ketakutan kalau-kalau dia kambuh. Belakangan, saya mencatat tiga hal yang mampu menangkal ketakutan itu. Yaitu kopi, rokok, dan pijat. Kudengar pula sudah lama dokter memperbolehkan semuanya. Saya tak mau bicara soal pijat yang rutin dilakukan seminggu sekali. Apalagi tentang dokter yang memperbolehkan pasiennya merokok. Saya ingin bicara cinta segitiga romantisme antara Pakdhe, kopi, dan istrinya.

Secangkir kopi dan rokok.
Secangkir kopi dan rokok. © Eko Susanto

Pada mudik lebaran kemarin saya selalu melihat Budhe, demikian saya memanggil istri Pakdhe, menyuguhkan secangkir kopi di atas meja tiap pagi dan sore. Saya sering menyaksikan suasana pagi, ketika Budhe muncul dengan secangkir kopi hitam yang asapnya masih mengepul. Jika kebetulan Pakdhe duduk di ruang tengah, maka Budhe akan menunggu, melihat suaminya meniup-meniup asap sebelum menyeruput kopi suguhannya. Dan Pakdhe selalu tak berkomentar atau berekspresi apa-apa. Sementara Budhe selalu tersenyum sebelum beranjak.

Suatu sore saya lihat secangkir kopi di atas meja. Sepertinya sejak pagi cangkir itu belum bergeser maupun berkurang isinya. Lalu Budhe melihat kopi, tangannya membawa secangkir kopi yang masih mengepul. Dia bertanya-tanya kenapa kopi itu tak diminum. “Nanti kalau kumat aja, repot deh,” katanya. Pakdhe tak ada di sana. Demi mencairkan suasana, saya bilang kepadanya, kopi dingin itu saya yang minum nanti.

Kali lain Budhe meminta saya mengantarnya ke warung untuk membeli kopi. Kami heran cepat sekali kopi di rumah habis. Padahal kami tak selalu melihat seseorang menyeduhnya meski anak-cucu Si Mbah terhitung banyak jumlahnya. Tapi setiap pagi jumlahnya berkurang. Maka hari itu Budhe memborong lima renceng kopi. Dua renceng merek yang sama untuk suaminya, tiga yang lain dengan merek berbeda-beda untuk siapa saja yang mau. Pakdhe memang lebih suka kopi hitam dalam kemasan bubuk. Baginya itu lebih praktis. Lagi pula manisnya sangat pas bagi lidahnya.

Dari kisah Pakdhe dan Budhe, saya bisa menyimpulkan beberapa hal tentang luka. Jika luka boleh diartikan sebagai penyakit, maka saya percaya penyakit sebenarnya datang karena ketakutan kita tentang keberadaannya. Sering kali tubuh dimanjakan dengan buru-buru memberi obat. Padahal tubuh dan pikiran sedang beradu atau menyesuaikan diri dengan alam. Pakdhe bisa saja minum obat setiap hari jika pikirannya selalu berkata bahwa dia punya penyakit. Tapi barangkali dia sudah muak pada tubuhnya yang manja. Dia mengalahkan tubuhnya dengan berpikir bahwa dia selalu sehat. Caranya, dengan mengalihkan pikiran terhadap sesuatu yang membuat dirinya nyaman. Begitulah, Pakdhe telah memilih tiga hal yang membuatnya nyaman. Barangkali, dengan begitu Pakdhe jadi lupa kalau dia punya penyakit.

Saya tidak tahu seberapa besar pengaruh kopi dibandingkan kedua hal lain. Namun rokok selalu dibeli Pakdhe sendiri. Sementara tukang pijat selalu tahu jadwal kunjungannya. Setidaknya saya belajar pada Budhe yang selalu menyuguhkan kopi, meski sekadar kopi instan, yang penyajiannya begitu mudah. Budhe yang tak pernah terluka mesti Pakdhe tak pernah berkata apa-apa soal kopi suguhannya. Budhe memang tak pernah mengharapkan pujian atas semua kemudahan itu. Semua itu bukan apa-apa ketimbang penderitaan suaminya selama bertahun-tahun. Barangkali dalam setiap cangkir kopi yang diseduhnya, terlantun pula doa untuk kesembuhan suaminya.

Rasulullah bilang semua penyakit ada obatnya. Saya percaya sekali dengan itu. Dengan begitu kelak saya tak perlu kaget jika ilmuwan menemukan bukti bahwa kopi bisa menyembuhkan penyakit yang sebelumnya tidak diketahui penawarnya. Maka, buat yang pesimis penyakitnya tak sembuh-sembuh, tidak ada salahnya anda mulai minum kopi. Setidaknya, sambil menunggu rilisnya fakta ilmiah yang saya bicarakan, Anda bisa lupa sebentar pada penyakit itu. Persis seperti yang Pakdhe saya lakukan.

Agam Rafsanjani

https://twitter.com/agamgasrak

Penjual susu keliling.