Kopi dan Luapan Kreativitas di Warung Racers

Hasil luapan kreativitas Galih Gurita
Lihat Galeri
7 Foto
Tampak Depan Warung Racers
Kopi dan Luapan Kreativitas di Warung Racers
Tampak Depan Warung Racers

© Warung Racers

Motor-motor Klasik berjajar tiap harinya di depan Warung Racers
Kopi dan Luapan Kreativitas di Warung Racers
Motor-motor Klasik berjajar tiap harinya di depan Warung Racers

© Warung Racers

Mural di dinding bagian luar Warung Racers
Kopi dan Luapan Kreativitas di Warung Racers
Mural di dinding bagian luar Warung Racers

© Warung Racers

Pernak-pernik properti dinding di area dalam Warung Racers
Kopi dan Luapan Kreativitas di Warung Racers
Pernak-pernik properti dinding di area dalam Warung Racers

© Warung Racers

Hasil luapan kreativitas Galih Gurita
Kopi dan Luapan Kreativitas di Warung Racers
Hasil luapan kreativitas Galih Gurita

| © Warung Racers

Barang-barang daur ulang yang dipajang di Warung Racers
Kopi dan Luapan Kreativitas di Warung Racers
Barang-barang daur ulang yang dipajang di Warung Racers

© Warung Racers

Souvenir Kaus dan Topi Warung Racers
Kopi dan Luapan Kreativitas di Warung Racers
Souvenir Kaus dan Topi Warung Racers

© Warung Racers

Warung Racers, yang belakangan saya ketahui bahwa itu adalah sebuah warung, setelah sebelumnya saya terpeleset menganggapnya sebuah ruang bermain bagi anak-anak. Oleh karena dinding-dindingnya dipenuhi dengan gambar monster lucu dilengkapi tulisan-tulisan abstrak yang menyertainya.

Pada suatu kesempatan saya membuat janji dengan seorang kawan untuk mengunjungi Warung Racers. Letaknya cukup mudah dijangkau. Dari perempatan alun-alun Kecamatan Cibingbin ke arah sebelah timur. Kecamatan Cibingbin itu adalah daerah bagian paling timur Kabupaten Kuningan, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Kami sampai di sana kurang dari tiga puluh menit dengan mengendarai motor sambil membawa harapan untuk bisa bertemu langsung dengan pemiliknya. Rasa penasaran saya begitu besar, tentang kenapa tempat itu dibuat sedemikian rupa nan unik.

Jika Anda melaju dari Kuningan kota akan menempuh jarak sekitar 29 kilometer, hampir sama dengan waktu tempuh satu jam perjalanan. Beruntunglah ketika itu si pemilik Warung Racers (Galih Gurita) ada dan menjamu kami berdua dengan baik dan juga bersedia untuk saya tanya-tanyai. .

Kami disuguhi kopi hitam dan menu kokojo (andalan) dari Warung Racers, yaitu Angker Food (sosis goreng, nugget, scallop, basreng, dan otak-otak). Lidah Anda akan menjumpai beberapa rasa makanan dalam satu piring, hmmm, mungkin ini salah satu ke’angker’an warung ini. Oh, ya, beberapa menu dengan penamaan unik lainnya, yang perlu diketahui juga adalah: Mie Goreng Racers, Milo vs Oreo, Greentea Balap, Teh Tarix Jabrix, Milk Shake Racers, dan Seblak Balap.

Saya mengambil sebatang rokok, menyalakannya, menyeruput kopi yang masih mengepul dengan tergesa-gesa. Saya sudah tak sabar ingin mengorek lebih dalam lagi soal Warung Racers. Pertanyaan pertama saya ajukan tentang asal usul penamaan Warung Racer.

“Sebentar A, saya mau ambil minuman dulu, nampaknya pembicaraan kita akan panjang. Kalau tidak ada minuman nanti saya dehidrasi,” kata si pemilik.

Tidak lama kemudian dia kembali dengan membawa es cappuccino di gelas ukuran besar.

“Nama Warung Racers, saya ambil dari komunitas anak muda yang hobi pada motor balap dan sering nongkrong di kafe-kafe kecil di Inggris tahun 1960-an. Kan mereka punya nama Café Racer tuh, saya rubah saja kafe itu menjadi warung, supaya lebih pas dan kentara unsur kedaerahannya. Maka saya namai Warung Racers, dengan tambahan huruf ‘S’ ya, supaya tidak terlalu kelihatan menjiplak nama.”

Kami mengangguk, tanda menangkap apa yang dia tegaskan. Saya kemudian bertanya kembali.

Apakah Warung Racers ini ditujukan untuk nongkrong anak-anak yang hobi pada balapan atau pada motor saja?

“Pada awalnya memang mereka menganggap demikian, tapi sebenarnya tidak! Justru kalau seperti itu bakal membatasi yang lain. Karena nantinya bakal dianggap warung ini hanya untuk satu kelompok saja.”

Suara-suara kendaraan yang melintas sedikit menjadi gangguan dalam percakapan kami, karena lokasi warung langsung berhadapan dengan jalan raya utama provinsi yang menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Siapa yang membikin gambar-gambar di dinding, dan mendesain ruangannya?

“Ini hasil karya saya sendiri, tidak menyewa tangan orang lain, karena saya sendiri hobi menggambar di dinding, bahasa kerennya adalah mural painting dan saya menumpahkannya di sini.”

Jadi Warung Racers juga sebagai luapan ekspresi?

“Boleh disebut seperti itu, karena ini di kampung. Tidak seperti di Jogja atau kota lainnya, di mana banyak ruang bagi anak muda untuk bebas mengekspresikan kreativitasnya. Jalan satu-satunya, saya harus menciptakan ruang itu sendiri. Kalau di sini kita berani mencoret-coret dinding apa lagi pagar orang lain, bakal kena marah dan harus mengganti cat sesuai warna aslinya. Hehehe. Mungkin di tempat lain juga sama perlakuannya, karena hal itu sering disebut sebagai tindakan merusak fasilitas.”

Apakah Warung Racers juga jadi tempat berkumpul mereka yang meminati seni rupa, seperti mural itu tadi?

“Ya, tentu saja. Seperti jawaban dari pertanyaan sebelumnya, bahwa Warung Racers bukan tempat satu kelompok saja. Kamu bermotor atau bersepeda, bahkan tak bermotor dan tak bersepeda sekalipun, pada intinya Warung Racers bisa menjadi tempat bertemunya anak muda dari berbagai minat dan hobinya masing-masing. Anak motor bisa duduk disamping anak gambar. Anak gambar bisa mengetahui tentang sepeda, dan anak sastra bisa membahasakan semuanya,” pungkasnya sembari memeriksa jarum jam di tangan.

Kopi di gelas saya tinggal ampas dan beberapa batang rokok sudah habis menjadi abu yang menumpuk di asbak.

“Saya buatkan lagi kopinya ya, masih ada beberapa jam lagi sampai ke tengah malam. Santai saja,” katanya.

Tanpa menunggu persetujuan dari kami dia sudah menuju dapur, menjerang air untuk kopi kami. Sambil menunggu, saya melihat-lihat motif gambar di dinding warung, membaca tulisan-tulisan yang nyeleneh itu cukup membuat saya tersenyum. Banyak pula di sini barang-barang hasil daur ulang yang begitu menarik. Saya juga melihat topi bergambar helm dan kaos bergambar tengkorak manusia dengan tulisan Warung Racers melingkar. Souvenir yang disiapkan di Warung Racers, untuk para pengunjung.

Aroma kopi tercium, menumpangi angin yang bergerak keluar dapur, dua gelas kopi terletak di nampan yang disanggah satu tangan sampai kopi berhasil mendarat di meja kami.

“Mangga dileueut, selagi masih hangat. Kalau sudah dingin tidak enak.”

Tuan rumah mempersilakan pada kami untuk segera minum kopinya. “Mangga dileueut” itu bahasa sunda untuk mempersilahkan tamu untuk segera mencicipi hidangannya.

Saya meneguk kopi pada gelas kedua. Suasana kembali tenang, saya pun mempersiapkan kembali pertanyaan yang masih tersisa.

Warung Racers buka pada jam berapa?

“Warung Racers buka dari mulai pukul 01.00 siang sampai 10.00 malam, dan biasanya mulai ramai di waktu sore sampai malam. Kebanyakan yang suka datang itu anak-anak sekolah, mereka datang saat sore hari dan malam. Saya sendiri, kalau pagi sampai siang kebetulan mengajar bahasa inggris di salah satu Sekolah Dasar Negeri.”

Bagus Sentanu

Pembaca jenis buku apa saja dan menulis sebisanya.