Kopi dan Klappertaart

Kofe Noir tampak dari depan. © Danu Saputra

Di kilometer 7 Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Sebuah coffee shop di sisi jalan menarik perhatian. Ada empat sepeda motor sedang parkir di halaman. Hiasan bambu diletakkan di samping kiri dan kanan coffee shop. Saya melihat ke bagian atas, ada dua papan nama yang terpajang di depannya. Kofe Noir dan Mooi Kitchen. Satu pintu kaca terbuka. Saya memutuskan singgah.

Dua gadis menyambut kedatangan saya. Gadis pertama mengenakan kaos hitam sedang duduk di ujung kiri, di belakang beberapa alat penyajian kopi. Florentina Prisca Permata Putri. Ia biasa disapa Prisca. Gadis satu lagi, berada di sebelah kanan dan mengenakan kaos putih. Jheje ia memperkenalkan dirinya. “Yenni Vijayanti entah kenapa dipanggil Jheje.”

Di lantai satu ada sofa yang bisa memuat empat orang tersedia. Di ruangan ini terpajang kawasan bebas asap rokok, saya pun mumutuskan untuk naik ke lantai dua, tempat yang disediakan bagi para perokok. Dari Prisca saya mendapatkan daftar menu di coffee shop ini. Saya pilih untuk duduk di salah satu sudut dekat tangga yang memungkinkan mendapatkan sudut panorama ruangan.

Satu, dua, tiga…. Pengunjung coffee shop ini terdiri tiga kelompok. Dua kelompok saya duga mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas kuliah. Di bagian sudut lain ada seorang lelaki yang duduk sendiri, di sampingnya ada dua gelas jus yang telah kosong, dan ia tampaknya asyik sendiri dengan komputer jinjingnya dan headset tertancap di telinganya. Sepasang kekasih yang datang setelah saya menambah daftar pengunjung.

If heaven had a flavor…. it would be coffe.” Itulah tulisan yang tercantum di papan yang tak jauh dari tempat duduk saya. Baiklah, saya percaya akan surga. Barangkali perlu ujian dahulu untuk menjadi penghuni surga sebagaimana ajaran agama. Jika surga itu mempunyai rasa, pastinya itu adalah kopi. Nah, saya tidak akan melewatkannya begitu saja, saya akan memesan secangkir kopi. Saya pun menengok menu kopi yang tersedia.

Aneka menu kopi ditawarkan. Tepatnya 19 varian menu kopi panas dan 13 kopi dingin yang bisa dipilih. Espresso, ekstrak kopi yang dipanaskan dengan tekanan tinggi menjadi menu wajib. Ekstrak kopi inilah yang nantinya dipadu untuk menghasilkan aneka variasi kopi. Espresso con panna, espresso macchiato, dan cafe latte ada di antaranya. Kofe Noir menawarkan tiga menu yang direkomendasikan creme brulee latte, hazelnut latte dan Vietnam drip. Saya mencoba dua menu yang direkomendasikan crème brulle latte dan Vietnam drip.

Jheje naik ke lantai dua untuk mengantarkan pesanan. Dia tersenyum pada beberapa pengunjung yang ada di sana. Pada dua orang kekasih yang dilewatinya dia menyapa, “Bentar ya.” Begitu pun padaku, “Tunggu bentar ya.” Dia kemudian turun melalui tangga seraya berlari.

Hari ini Prisca sedang tidak enak badan. Jheje yang mengambil tugas mengantar pesanan ke lantai dua. Dia terlihat sedang banyak tugas untuk mengantarkan pesanan. Malam itu beberapa orang yang saya dapati duduk di lantai dua baru saja tiba. Barangkali selisih beberapa menit dari kedatangan saya. Jheje berusaha untuk mengantarkan dengan cepat, namun dia tahu kemampuannya.

Suasana ngopi di Kofe Noir. © Danu Saputra

Vietnam Drip pesanan saya sudah tiba terlebih dahulu. Kali ini Prisca yang mengantarkan. Tak begitu lama kemudian crème brulee latte dan klappertaart original mini diantarkan Jheje. Vietnam drip merupakan kopi hitam yang disajikan dengan alat ala Vietnam. Di Kofe Noir kopi yang digunakan terdiri dari 3 jenis, perpaduan dari jenis Java, Sumatra dan Bali coffee, sebagai pengganti gula coffee shop ini menggunakan susu manis yang legit. Bila crème brulee latte ialah paduan espresso, susu panas, dan da vinci irish cream syrup, kemudian gula yang ditabur di atasnya lalu diakhiri dengan proses pembakaran.

Prisca dan Jheje bekerja sama untuk melayani pelanggan. Meskipun keduanya berada di satu tempat, keduanya bekerja jenis usaha berbeda. Jheje bekerja di Mooi Kitchen yang bergerak pada usaha cake dan Prisca bekerja pada Kofe Noir yang menyajikan kopi serta minuman.

Inilah jawaban dari dua papan nama yang berada di depan coffee shop. Ada dua manajamen yang berbeda di tempat yang saya kunjungi ini. Keduanya dipersatukan tempat yang sama dan dalam daftar menu yang menampung daftar kopi dan cake. Bila memesan kopi maka saya memesan ke Prisca. Bila tak cukup sekadar kopi, maka saya perlu menghampiri tempat Jheje berada. Atau bisa pula duduk dahulu lalu memesan menu pada orang yang menghampiri. Dialah yang menyampaikan pesanan pada alamat yang tepat.

Saran saya jika datang ke coffee shop ini hendaknya datang di saat yang tepat, agar bisa menikmati kopi dan cake secara bersamaan. Kedua kedai dalam satu tempat ini mempunyai jadwal yang melayani tidak bersamaan. Mooi Khitcen buka lebih awal mulai jam 08.00 pagi hingga 22.00 WIB, sedangkan Kofe Noir buka mulai jam 14.00 hingga 00.00 WIB.

Saya meneguk Vietnam drip dan mencicipi crème brulee latte. Lelaki yang tadi duduk sendiri di sudut meninggalkan ruangan. Kelompok mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas membuat bisnis plan bergeser ke tempat lelaki itu. Mereka adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM (Universitas Gajah Mada). Beberapa kali mereka memilih untuk mengerjakan tugas bersama di Kofe Noir. “Nyaman dan tidak terlalu ramai,” kata Krist, satu-satunya lelaki dalam kelompok itu.

Kopi yang terhidang telah usai melaksanakan tugasnya. Saya turun ke lantai bawah, untuk melunasi tagihan. Vietnam Drip dan crème brulee latte tagihannya ada pada Prisca. Tagihan cake yang saya pesan tercatat di tempat Jheje berada. Setelah lunas, saya pun meninggalkan coffee shop ini untuk melanjutkan perjalanan.

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.

  • Pinto Anugrah

    wah, harus mampir nih, dekat dgn rumah, kenalan dgn Prisca, eh nyobain kopi n suasananya 😀

  • Terima kasih untuk reviewnya.. Oiya, sekedar informasi, sejak 26 Mei 2013, Mooi Kitchen sudah pindah ke YAP Square B-10, Jl. C. Simanjuntak no. 2, Terban, Yogyakarta. Monggo mampir.. ^_^