Kopi dan Jogja yang Tak Pernah Berubah

foto 2-001

Kau tak pernah berubah, entah berapa lama aku tak menyapamu, atau seberapa sering kau aku sapa kau masih tetap sama, hangat dan istimewa.

Begitulah yang kini ada dalam benakku ketika malam itu aku sendirian mencoba menyusuri jalanan Malioboro dengan berjalan kaki setelah mengisi perut di sebuah angkringan di sudut jalan itu. Waktu masih menunjukan pukul 8.00 malam, masih terlalu sore untuk kembali ke hotel sehingga aku memutuskan untuk menyusuri jalan Malioboro.

Ketika itu jalanan begitu ramai dipenuhi manusia yang mungkin berasal dari berbagai belahan nusantara. Terlebih lagi ketika itu bertepatan dengan long weekend sehingga tak heran membuat banyak orang ingin menghabiskan waktunya di kota yang konon katanya terbuat dari tiga kata, angkringan, rindu dan pulang. Walaupun sudah malam, jalanan Malioboro masih saja ramai seperti di siang hari. Deretan penjual kaki lima di jalan itu serta lalu lalang wisatawan yang sesekali berhenti untuk tawar menawar merupakan pemandangan khas di tempat ini.

Sambil terus berdesak desakan aku melewati beberapa diantara mereka. Ketika itu langkahku terhenti pada suatu toko batik. Sebenarnya toko batik di jalan Malioboro bukanlah pemandangan yang unik, mungkin ada puluhan di deretan jalan ini. Namun yang mencuri perhatianku kali ini adalah adanya papan tulis kecil bertuliskan mereka menjual expresso. Rupanya ada sebuah kedai kopi di lantai dua toko ini, begitulah dalam benakku. Terlebih ketika membaca papan tersebut aku bisa mencium samar samar bau biji kopi sehingga tak kuasa lagi aku untuk menahan keinginanku untuk mencoba kopi di jalanan Malioboro ini. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke kedai kopi tersebut.

Pada awalnya aku ragu dengan kedai kopi tersebut. Namun, begitu aku sampai di lantai dua toko batik, aku lumayan takjub dengan suasana kedai kopi tersebut. Sungguh berbeda pemadangan yang kini aku lihat ini. Jika di lantai satu bangunan itu hanya sebuah toko batik biasa yang menjual bermacam macam batik seperti layaknya toko batik lain di Malioboro, di lantai dua akan Anda temui sebuah kedai kopi dengan desain interior bergaya urban nan minimalis yang memanjakan mata.

foto 1-001

Hatiku luar biasa girang ketika mendekat ke kasir untuk memesan kopi, terlihat sebuah expresso machine. Aku berani bertaruh bahwa mereka akan menyajikan sebuah pengalaman ngopi yang nikmat malam ini. Menu yang mereka sajikan lumayan komplit seperti cappucino, latte, expresso dll. Sebenarnya, aku tergoda untuk mencoba memesan cappucino mengingat buatku cappucino adalah tolok ukur kenikmatan sebuah kedai kopi, namun aku mencoba memesan apakah mereka memiliki kopi susu dengan vietnam dripp dimana tidak semua kedai kopi yang aku temui akhir akhir ini memilikinya. Namun ternyata mereka memilikinya, bertambah girang lah aku malam itu.

Ketika aku memesan kopi susu vietnam dripp, sang barista menanyakan, mau dengan varian kopi apa. Dari beberapa varian aku memlih robusta. Aku lalu mengambil tempat duduk di sisi luar kedai yang berandanya langsung menghadap ke jalanan Malioboro. Sebuah pemandangan yang luar biasa bagiku. Aku pernah menyambangi beberapa kedai kopi yang menurutku memiliki tempat yang bagus, namun aku bertaruh bahwa kedai kopi dengan pemandangan jalanan Malioboro di atas beranda ketika malam hari adalah hal yang istimewa.

Aku pernah pergi ke beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Surabaya bahkan Denpasar. Dan sudah tak terhitung pula aku menyambangi Kota Pelajar ini namun buatku kota ini tak pernah membosankan. Ia seperti sebuah tempat yang manis untuk pulang walaupun aku sendiri berasal dari Solo. Buatku Yogyakarta tak ubahnya seperti mantan pacar yang masih berteman dan menjalin hubungan baik. Menikmati kopi di kota ini, sama halnya dengan menanyakan “Hai, apa kabar?”.

Tak lama kopi pesananku pun datang. Sama persis seperti yang aku harapkan, segelas kopi hitam dan susu kental manis di lapisan bawah serta tentu saja yang menambah manis vietnam dripp di atasnya. Soal kualitas dan rasanya tak usah ditanya. Sajian robusta dan susu ini begitu nikmat. Expresso Hood, begitulah nama kedai kopi ini menyajikan sebuah pengalaman minum kopi yang berbeda. Mungkin di Jogja banyak sekali kedai kopi, namun Expresso Hoodmenyajikan pengalaman minum kopi di tengah tengah pusat keramaian Malioboro. Tak perlu khawatir dengan ramainya suasana Malioboro karena kedai kopi ini berada di lantai dua yang cukup nyaman tempatnya. Lebih dari itu, dari lantai dua ini kita bisa melihat pemandangan orang lalu lalang dan ramainya Malioboro dari atas. Buatku yang sudah terbiasa mengunjungi kota ini dari kecil, aku masih takjub bagaimana kota ini menjelma begitu pesat sekarang.

Malam semakin larut. Jalanan Malioboro masih belum menunjukkan tanda-tanda sepi. Sungguh pengalaman menyeruput kopi di kedai kopi ini tak hanya mampu menyegarkan pikiran dari penatnya rutinitas dan berbagai masalah kehidupan, namun juga mampu memberikan banyak inspirasi tentang kehidupan. Tak heran, banyak seniman-seniman besar juga yang lahir dari kota ini. Aku membayangkan bagaimana mereka dulu seperti aku, duduk ditemani secangkir kopi dan membiarkan nuansa kota ini menulis inspirasi dalam benaknya.

Walau kini engkau telah tiada tak kembali, namun kotamu hadirkan senyummu nan abadi. Begitulah sepenggal lirik lagu Yogyakarta yang terlintas di pikiranku kala itu. Dan memang, senyummu yang manis selalu abadi dalam secangkir kopi susu di kota ini. Tak terasa kopiku hampir habis dan sepertinya aku terbawa dalam lamunanku hingga tidak sadar bahwa aku pengunjung yang tersisa di malam itu.

Terima Kasih Jogja, ijinkan aku untuk selalu pulang lagi.

Kevin Lutfianto Adi

Penikmat kopi pemula, pecinta buku.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405