Kopi dan Hal-hal yang Telah Lalu

Owl House Coffee
Pemandangan di Owl House Coffee yang terletak di Jl. Pos Pengumben (Simpang Tiga) Nomor 5 Kebun Jeruk, Jakarta Barat. © Andre Baharamin

Apakah kau masih selembut dahulu? Menantiku mengomel perkara terlalu banyak kopi yang kau minum?

“Itu kopi apa?”

“Kopi papua, pahit tapi,”
“Lalu?”

“Hee, iya sorry… seolah kopi pahit dan perempuan dua hal yang tidak bisa bersatu.”

Sebenarnya informasinya berguna untuk saya yang tidak suka kopi. Tapi saya pilih tak menanggapi informasi serta keterangan yang buru-buru ia susulkan sendiri. Beberapa ucapan, apalagi yang diskriminatif terhadap perempuan, patut dihukum. Mendiamkannya adalah salah satu bentuk cara menghukum.

Sial, kopinya benar-benar pahit.

Saya mengembalikan gelas kopi kawan saya. Saya hampir memuntahkan cairan kopi yang barusan masuk dalam mulut, beruntung daya tahan atas hal-hal yang tak menyenangkan cukup tinggi.

Kawan saya lanjut mengobrol dengan yang lain, saya mengais ingatan akan kopi. Kapan terakhir kali minum kopi? Setahun lalu, dua tahun lalu? Usaha otak saya mengingat gagal. Sementara, petunjuk ingatan yang diberikan perasaan saya hanyalah, itu suatu masa yang telah lampau.

Saya tidak suka kopi. Karena tidak bisa minum kopi. Manusia seperti saya, yang kerap tak menyukai hal-hal yang tak bisa ia taklukan, bukan minoritas penduduk bumi. Lambung buruk, sejak terkena maagh pada masa yang lampau, belum pernah minum kopi tidak menimbulkan pusing setelahnya sebab asam lambung naik. Beberapa kali pusing disertai kaki dingin dan badan gemetar. Kemampuan untuk fokus dan berpikir waras ambyar. Hidup macam apa yang akan dijalani dengan hilangnya kemampuan berpikir waras, bayangkan.

Efek tersebut bahkan saya dapati ketika saya minum kopi ringan seperti kopi susu sachet atau sekadar kandungan mocca dalam roti yang baunya mendominasi lorong-lorong bandara.

Saya kerap tak terima bila terlalu lemah terhadap sesuatu, saya akan melancarkan usaha-usaha untuk menaklukannya. Namun, atas kopi, saya putuskan meninggalkannya saja. Bertahun-tahun lalu. Untuk apa saya menghabiskan energi dengan benda pahit ini, sia-sia.

Lalu, sebagai kompensasi karena tak mampu memenanginya, saya membikin-bikin mitos. Kopi ialah zat yang pada dirinya sendiri memang tak sehat. Tak hanya bagi saya yang lambungnya lemah. Ia tak sehat bagi jantung semua manusia. Bisa membuat orang mengalami gangguan jantung dan cepat mati.

Berbahaya sekali bukan. Ada risetnya? Entah. Kalaupun tidak ada riset kesehatan yang mengatakan demikian, anggap saja itu saya dapatkan dari wahyu yang khusus diturunkan pada saya. Lagipula pada jebakan modernitas, semua dihitung dengan timbangan dan transaksi serba rasional, kita butuh istirahat logika. Memelihara mitos tentang kopi ialah satu solusi.

Itu yang membikin saya mengomel bila mendengar ia minum kopi, yang bagi saya, terlalu banyak. Gelas kedua atau ketiga di hari yang sama. Atau hanya satu gelas tapi di hari yang berturut-turut.

Saya bukan perempuan pencemburu, setidaknya saya tak ambil peduli ia pergi dengan kawan perempuan mana, terlihat guyon dengan perempuan lain di media sosial. Konon, cinta seharusnya membebaskan. Lagipula, perkara bersetia itu tanggung jawab kepada diri sendiri. Bila manusia tak mampu bersetia, ia menghina dirinya sendiri, tak becus jadi orang dewasa. Seharusnya orang seperti itu sadar diri minta pada Tuhan untuk abadi saja di taman kanak-kanak.

Seperti logika juga butuh istirahat, konsep mencintai juga boleh tak konsisten. Pada urusan kopi, jam tidur yang berantakan, dan rambutnya yang panjang, saya menjelma perempuan fasis yang gemar mengomel. Omelannya variatif, dari yang guyonan menyenangkan, hingga yang serupa orasi tak boleh disela.

“Bergadang berhari-hari, jarang olahraga, minum kopi terus. Mau hidup sehat dan lama sama aku nggak sih?”

Ia, biasanya, menanggapi dengan tertawa, kadang sengaja menggoda memancing saya mengomel.

Namun, intensitas mengomel urusan kopi berbanding lurus dengan kesabaran saya meminta ia minum air putih saat bangun tidur. Untuk pagi yang sudah tak terhitung, saya membangunkannya via telepon dan tidak akan menutup telepon sampai saya memastikan ia berjalan menuju dispenser dan minum. Yang saya tahu kemudian, kebiasaan minum air putih setelah bangun tidur itu masih ia lakoni, bahkan setelah kami berpisah. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari membangun kebiasaan-kebiasaan baik bersama orang yang (pernah) kita cintai.

Saya tidak tahu kini seberapa sering ia minum kopi. Tapi rambutnya tak lagi panjang. Dan saya masih tidak suka kopi. Beberapa kali saat tak sengaja bertemu, saya ingin menanyakannya. Tapi urung. Kalian tahu, sesuatu yang sudah kita kemas baik-baik bisa berantakan hanya sebab pertanyaan sederhana.

Saya berhenti mengais ingatan akan kopi. Rasanya perjalanan ingatan berjalan agak terlalu jauh. Efek kopi tadi mulai terasa. Pusing datang, kaki agak dingin, dan saya sudah sulit fokus. Saya ingin segera pulang, saya pasang tampang mengantuk.

“Mau pulang?” tanya kawan saya tadi.

“Kalian sudah selesai ngobrolnya?”

Berdasarkan kesepakatan, dia akan bonceng saya pulang. Kami beranjak. Ternyata, tak hanya menimbulkan pusing, seteguk kopi juga membuat perasaan jadi melankolis. Malam itu, dalam perjalanan pulang kawan saya ketiban sial mendengarkan ocehan saya akan sebuah kisah yang telah lalu.

Fatimah Zahrah

Mahasiswa tingkat akhir Universitas Paramadina dan orang yang tak suka kopi.

  • CangkirKopi

    Nyatanya kisah lalu itu juga terjadi pada saya, sosok yang sama yang mencintai kopi dan (pernah) juga saya cintai. mengingatkan banyak minum air putih untuk kesehatannya, setidaknya agar ia tidak kurus karena jarang makan tapi ngopi terus. meski saya juga mencintai kopi, saya lebih banyak mengomel untuknya. tak apa2 kan wanita menyukai kopi? meski sudah lama berpisah, kopi selalu menyediakan rasa manis diantara kita berdua.