Kopi dan Doa

“Dari dulu, saya selalu ingin menjelajah Indonesia, bagaimanapun caranya…”

~Ra’ufina, buruh, 23 tahun.

* * *

Dalam dunia perkopian, saya hanyalah pencinta abal-abal yang doyan omong soal ‘ngopi’ tanpa tahu apa saja jenis-jenis kopi. Lebih-lebih cara meraciknya agar nikmat tersaji. Persis seperti para pengobral iman yang tak mau bersungguh-sungguh mempelajari agamanya. Atau seperti golongan-golongan yang mengaku mencintai Tuhan tapi tak pernah menghadirkan Ia di kedalaman hatinya.

Yang begitu itu, ndak yo bangsat tho? Ya tho? Halah.

Tapi, setidaknya saya bisa berkilah bahwa kopi bukanlah suatu keyakinan, apalagi Tuhan. Dia tidak ghaib, dan tidak pula menyudutkan. Dia hanyalah sebentuk nyata yang bikin nagih. Dan saya terlanjur mencintainya tanpa tanda tanya.

Salah satu keuntungan memosting kegemaran minum kopi di sosial media semacam Facebook adalah munculnya perhatian dari beberapa teman di berbagai penjuru, yang kemudian berbaik hati mengirimi saya sebungkus kopi. Dan.. tentu saja, tanpa saya minta.

Enam bulan yang lalu, pada pertengahan April yang basah, seorang bernama Syafiq Naqsyabandi, mahasiswa S2 Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan IPB, memberikan beberapa tawaran kepada saya beberapa jenis kopi. Dalam format JPEG, dia menunjukkan pilihan-pilihan yang tersedia. Lalu saya diminta untuk memilih satu. Kurangajar sekali manusia ini. Dia tidak tahu bahwa sejak kecil saya hanya menikmati seduhan kopi dari biji yang digiling tangan oleh Bapak Tua bersepeda berkeliling desa yang menjajakan kopi. Lantas ketika beranjak remaja saat Bapak Tua itu tak lagi muncul, saya beralih ke kopi saset Kapal Api hitam, dan tak pernah berpindah haluan lagi setelahnya.

Mas Syafiq tidak tahu bahwa saya bukan sejenis pemburu yang selo-legowo menjelajah negeri untuk merasai kopi hasil olahan lokal. Dia tidak tahu bahwa saya hanya bocah perempuan yang selalu bersunyi di sudut Pekalongan, sebuah kota kecil di pesisir Jawa Tengah, yang suci dari segala praktik budaya kedai kopi sebagai wujud pembangunan peradaban.

Dan itu, sekali lagi, kurangajar.

Dia memaksa (pencinta) ingusan seperti saya untuk memilih satu di antara sederet label, macam Organica Aceh Gayo, Celebestica Tana Toraja, Natural Papua Wamena, Organica Mandheling, dan Robusta Flores. Saya, mana tahu? Mendengar saja belum pernah.

Maka dengan ekspresi unyu dan kesantunan yang tidak dibuat-buat, saya mengatakan bahwa saya tidak berani mengambil keputusan. Saya manut saja kepada Mas Syafiq. Bagaimana pun, perempuan butuh imam yang akan senantiasa mengarahkan. Eh.

Beberapa minggu setelahnnya, datanglah Celebestica Tana Toraja dalam balutan kresek hitam.

“Aku pilihkan yang ini saja. Enak.” Demikian lelaki di hadapan saya itu mengawali pembicaraan. “Setidaknya, untuk seorang penikmat yang tak pernah beranjak dari Kapal Api hitam sepertimu,” lanjutnya.

Saya terbatuk singkat. Lalu berterima kasih.

Coffee Celebestica Tana Toraja
Coffee Celebestica Tana Toraja © Ra’ufina

Kopi tana toraja merupakan tanaman asli dari perkebunan kopi di daerah dataran tinggi Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Robusta dari kopi ini memiliki citarasa yang khas. Kandungan asamnya tidak tinggi, dan rasa pahit yang dihasilkan cenderung ringan di lidah, sehingga saya bisa leluasa menikmatinya tanpa gula. Yaahh.. meskipun tetap ada sensasi kecut di akhir cerita. Terutama saat si kopi dibiarkan mendingin, atau memang sengaja diseduh dengan air dingin.

Duh, yang dingin-dingin memang bikin kecut. *eh

Tak lama setelah pertemuan malam itu, Mas Syafiq datang lagi dengan membawa dua saset kopi cap Liong Bulan. Kemasannya terlihat kuno, dengan perpaduan warna cokelat dan biru cerah. Di bagian depan terpampang gambar naga dan bulan sabit yang saling bertatap muka. Entah apa maknanya.

“Ini hanya diproduksi di Bogor. Jadi bisa dikatakan, ini kopinya orang Bogor.” Mas Syafiq menjawab pertanyaan yang tidak pernah saya lontarkan. Saya menerima kopi itu dan langsung memeriksa bungkusnya. Lalu seakan mengerti bahwa saya sedang mencari komposisi dari si kopi, lelaki di hadapan saya itu tiba-tiba menjelaskan singkat, “Kopi hitam dengan tambahan gula. Jadi udah manis. Gak perlu ngeracik gula sendiri.”

Saya manggut-manggut mendengarkan. “Aku sering ngopi pakai ini. Soalnya aku hampir selalu gagal meracik kopi sampai tingkat kemanisan yang pas. Nah, menurutku ini udah pas. Lagipula rasanya lebih tajam, dan aromanya kuat. Kamu pasti suka.”

Sungguh, tidak ada satu pun dari penjelasan lelaki itu yang meleset, ketika keesokan paginya saya menyeduh si Liong Bulan dalam satu gelas berbentuk belimbing. Rasa yang dihasilkan juga seimbang dengan ekpektasi lidah saya saat mencium wangi kopinya. Kuat dan tajam. Dan saya langsung jatuh hati.

Coffee Celebestica Tana Toraja
Coffee Celebestica Tana Toraja © Ra’ufina
Kopi Turki
Kopi Turki © Ra’ufina

Kiriman kopi dari teman ini tidak hanya berhenti di tanah air. Pada pertengahan Ramadan, saya juga mendapat kiriman kopi dari Turki. Hoho. Turki! Adalah junior saya semasa SMA yang melanjutkan studi Teologi ke Universitas Samsun, Turki, Wahyu Arif Adha, yang memberi kabar bahwa dirinya pulang ke Pekalongan. Lalu mengajak saya temu kangen bersama alumni SMA kami yang lain. Di akhir pertemuan, dia mengeluarkan bungkusan plastik warna putih dan menyodorkannya pada saya.

“Aku cuma bawa ini, Mbak. Gak sempet beli lokum.”

Lokum adalah nama lokal dari Turkish Delight, jajanan khas Turki yang manis dan berwarna-warni. Tahun lalu, Wahyu mengabulkan permintaan saya untuk pulang membawa lokum. Tapi tahun ini, dia meminta maaf karena ‘hanya’ membawa yang lain. Apa gerangan yang lain itu?

Saya membuka bungkusan plastik itu dan menemukan.. oh my God, Turk Kahvesi! Kopi asli Turki. Kalian bisa membayangkan betapa berbinarnya mata saya saat itu. Matur nuwun, Dik Wahyu.

Sesampainya di rumah, saya segera membuka kemasan Turk Kahvesi pemberian Wahyu. Berbeda dari kopi tana toraja yang gelap dan bertekstur kasar, kopi turki ini berwarna coklat terang dan memiliki tekstur bubuk yang sangat halus. Terlampau halus untuk ukuran kopi. Heuheu. Mungkin mirip seperti bubuk susu Dancow rasa cokelat.

Saya pun mencari tahu cara menikmati Turk Kahvesi, dan menemukan fakta bahwa kopi asal Turki ini harus direbus dulu menggunakan semacam ceret kecil untuk menghasilkan rasa dan aroma yang baik. Cukup satu sendok kecil bubuk kopi, dicampur segelas air dingin dan gula sesuai selera, kopi siap direbus hingga masak. Akan lebih sempurna jika ceret (dalam istilah turki disebut cezve atau ibrik) yang digunakan terbuat dari bahan tembaga. Oooohhh..

* * *

Dari dulu, saya ingin sekali menjelajah Indonesia. Berkunjung ke banyak kota, dan menetap beberapa waktu di sana. Minimal, keluar dari Pekalongan lah. Melihat ragam dunia di kawasan yang lebih memungkinkan untuk dijadikan tujuan studi para pelajar dari penjuru negeri. Tapi kenyataan mengatakan bahwa saya masih saja betah di sini. Dari lahir, belajar merangkak, sekolah, kuliah, sampai nguli. Kalau sudah begini, saya bisa apa selain mensyukuri?

Saya berdoa, agar tetap diberi kesempatan menjelajah Indonesia, bagaimana pun caranya.

Well, bisa jadi, inilah cara Tuhan mewujudkan doa-doa saya. Dia Yang Maha Tunggal ini mengutus para hamba-Nya keluar dari tanah kelahiran, untuk kemudian pulang dan berbagi pengalaman kepada saya. Tidak hanya pengalaman, tapi juga kopi. Sepertinya Gusti Ingkang Maha Suci ingin memperlihatkan bahwa meskipun kaki saya masih saja menjejak tanah Pekalongan, tapi sang lidah sudah berkelana lana lana lana—ke Bogor, Sulawesi, bahkan sampai jauh ke Turki.

Pikiran saya pun, bisa dibilang, telah jauh menyusuri tiap sudut galaksi. Mengembara pada semesta dan seluk-beluk ruang imaji. Ehe, enggak ding. Ngapusi.

Saya hanya ingin mengatakan, jangan berhenti berdoa. Karena seringkali, kita meminta uang seribu untuk membeli makanan, tapi alih-alih memberi selembar ribuan pada hamba-Nya, Tuhan justru menghadiahkan roti beserta selai kacang. Sebab Tuhan tahu, yang kita butuhkan adalah makanan, bukan uang.

Dan kopi-kopi ini, bagi saya, serupa jawaban.

Ra'ufina

Buruh, Pecinta Kopi Abal-abal.