Kopi dan Degradasi Hutan di Jawa Abad 19

…Bagaimanapun jeleknya hasil penanaman kopi, ini satu-satunya cara untuk setidak-tidaknya mengambil keuntungan dari penduduk setempat.

Pernyataan itu tercatat dalam laporan Regent dan Controleur Brebes kepada Residen pada 1848. Di masa-masa awal penerapan culturstetsel (Sistem Tanam Paksa) oleh Gubenur Johannes Graaf van den Bosch pada 1830-1870, komoditi kopi menjadi “primadona” pemerintah kolonial Hindia Belanda. Berkat komoditi ini pemerintah kolonial yang nyaris ambruk, tak hanya mampu bangkit, bahkan memberikan setoran laba bersih 823 juta Gulden ke kas Kerajaan Belanda di akhir masa tanam paksa.

Namun ada yang acapkali terlewat dari masa tanam paksa ini. Seiring meningkatnya pendapatan Hindia Belanda, pertumbuhan lahan penanaman kopi berpengaruh terhadap ekosistem tanah perdikan ini sampai jauh kemudian hari, setelah penjajah pergi.

Daripada melesatnya jumlah penduduk yang membutuhkan tanah pemukiman, Arthur van Schaik, seorang ahli geografi Belanda, mengajukan tesis bahwa penyebab degradasi lahan di Pulau Jawa pada Abad 19 lebih diutamakan pembukaan lahan oleh pemaksaan penanaman kopi untuk kebutuhan ekspor.

Perpindahan penduduk ke kawasan hutan memang sempat terjadi namun untuk mengaitkan korelasi ini tidak signifikan pengaruhnya. Perubahan terbesar dan tercepat justru terjadi dengan dorongan dari kekuatan-kekuatan yang mencampuri ekosistem untuk mendapatkan laba.

Di sinilah titik berangkat Schaik untuk mencoba menjelaskan tesisnya.

Perkebunan Kopi di lereng Gunung Arjuna
Perkebunan Kopi di lereng Gunung Arjuna, Pasuruan, pada 1900

Penanaman kopi telah dilakukan pertama kali di Batavia pada 1696. Sejak berlakunya Sistem Tanam Paksa penanaman kopi lebih intensif lagi diberlakukan. “Semua lahan terlantar dalam ‘jarak yang masuk akal’ dari desa dicadangkan untuk kopi.”

Semakin meluasnya penanaman kopi membuat daerah pegunungan disebut sebagai “sabuk kopi”. Menurutnya, setiap bagian yang luas dari hutan perawan di lereng-lereng gunung ditebang untuk dijadikan kebun tempat pohon-pohon kopi tumbuh.

Pada awal tanam paksa, semua lahan yang tidak ditanami secara menetap dinyatakan sebagai milik pemerintah dan dari sawah-sawah desa setempat sampai ketinggian 300 atau 400 kaki diperuntukkan bagi penanaman kopi. Penanaman intensif ini juga meliputi tanah yang sebelumnya hidup berlandaskan sumber daya alam di sekitarnya untuk keperluan makan dan kayu bakar. Karena tanah jenis ini termasuk kawasan yang ditanami kopi, maka kebutuhan kayu dan kayu bakar penduduk jadi sulit mendapatkannya.

Scaht mengakui kesulitan dalam menentukan luas bidang tanah yang dimanfaatkan untuk kebutuhan kopi. Sebelum tahun 1880 data statistik yang ada mencatumkan hanya jumlah pohon yang tersedia bukan luas lahan yang digunakan. Dia hanya membuat pengandaian bahwa 1.500-2.000 pohon ditanam di lahan seluas satu hektar. Dari perkiraan ini diketemukan angka 60-80 ribu Ha pada 1830, 105-125 ribu Ha pada 1860, dan 30-40 ribu Ha pada 1900.

Tetapi dari data itu ada catatan penting yang mesti diperhitungkan. Setelah menunggu usia produktif selama 2-3 tahun kebun kopi dihapus setelah 6-8 tahun panen, setiap tahunnya 10-15 persen lahan tidak berproduksi lagi.

Konsekuensinya, lahan yang baru harus dibuka dengan luas areal yang sama, agar jumlah pohon kopi tetap. Pergantian lahan ini berlangsung secara terus menerus. Konsumsi terakumulasi dari 1830 sampai 1900 diperkirakan hampir sejuta hektar dari lahan terbaik telah digunakan, sebagian besar dari lahan tersebut terletak di ketinggian antara 600 sampai 1500 Mdpl.

Penanam kopi yang mengambil lahan di ketinggian masuk akal kiranya. Sebab pada 1875 komoditi kopi di Hindia Belanda terserang penyakit kerak daun, yang mengakibatkan sebagian tanaman kopi utamanya yang terletak di dataran rendah rusak. Hanya kopi yang berada di dataran tinggi yang mampu bertahan.

Penanam kopi secara berlebihan ini memberikan dampak ekologis, terlebih Pulau Jawa termasuk wilayah yang rentan terhadap erosi. Seperempat bagian dari pulau ini terdiri dari dataran tinggi dengan lereng 30 persen atau lebih. Di musim penghujan dengan curah hujan yang tinggi membuat sebagian wilayah dataran tinggi mengalami kerusakan. Tanah tidak lagi mampu menampung curah hujan tinggi. Di bagian hilir guyuran hujan yang tidak terserap mengakibatkan terjadinya banjir dan sedimentasi. Ketika musim kemarau terjadi kekeringan.

Pada periode ini pula terjadi pembentukan delta-delta sungai dan menghasilkan majunya garis pantai. Pada dekade pertengahan abad 19, para pelaut yang berkunjung ke Pasuruan mengeluhkan pertumbuhan pesat tebing berlumpur di depan sungai Gembong. Banjir besar juga sempat terjadi di Pasuruan. Sedangkan di sungai Bengawan Solo, perahu-perahu besar yang tadinya mampu menyusuri sungai untuk mengambil gula, tidak bisa lagi melewati sungai.

Sumber Foto:

http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced?q_searchfield=pasuruan+coffee

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.