Kopi Basi dan Cinta di Sudut Purwokerto

Tukang seduh kopi dan pelanggannya jatuh cinta di kafe kecil yang hangat di Purwokerto.
Tampak depan Kedai Praketa
Tampak depan Kedai Praketa | © Prima Sulistya

Apakah pria-pria ganteng ditakdirkan untuk membuka warung kopi? Seperti Rangga dan temannya di New York?

Kita tidak tahu sampai ada riset soal itu. Sampai riset itu tersedia walau kita tak tahu kapan, marilah kita anggap kebetulan saja jika dua mas-mas tampan pula yang membuka warung kopi kecil tempat saya mengetik sekarang di Purwokerto.

Namanya Praketa. Warung kopi di seberang rektorat Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto. Lebih jelas lagi, dia ada di dalam gang sebelah minimarket Bursa Kampus. Gayanya kekinian. Kecil, dilengkapi furnitur kayu dipernis mengkilap, dan menyediakan seduhan biji kopi dari berbagai daerah di Indonesia.

Ruangan dalam Praketa dilengkapi pernak-pernik ilustrasi kopi dari kayu
Ruangan dalam Praketa dilengkapi pernak-pernik ilustrasi kopi dari kayu. | © Prima Sulistya

Praketa dimulai oleh Indra Purnama Aji dan Dimaz Faisal Rohana, keduanya 27 tahun. Semua gara-gara Indra yang bekerja di Kopitiam Oey milik Bondan ‘Maknyus’ Winarno di Jakarta pada 2011. Bukan sebagai peracik kopi, melainkan desainer interior. Di Kopitiam Oey, Indra yang seperti kebanyakan awam kopi, terbiasa dengan Kapal Api dan kopi sachet, mulai menjajal kopi lain: kopi Aroma khas Bandung yang diseduh ala vietnam drip.

Kesukaannya pada kopi berawal di sana.

Di tahun ketiga bekerja di Oey, Indra yang memang berniat berbinis punya ide: mengapa tidak bikin warung kopi sendiri? Ia lalu mengajak Dimaz, teman SMA-nya yang baru lulus kuliah, untuk membuat warung kopi di kampung mereka, Purwokerto. Dimaz setuju.

Indra dan Dimaz lalu membagi tugas. Dimaz, yang juga awam kopi, kebagian jatah belajar meracik kopi. Ia belajar dari nol. Sedangkan Indra kebagian tugas mempelajari aspek bisnisnya.

“Waktu pertama saya ajak minum vietnam drip di Kopitiam Oey, dengan pedenya dia bilang itu Nescafé.” Indra menggambarkan pengetahuan kopi Dimaz yang menyedihkan.

Bermodal koneksi internet, Dimaz berselancar di dunia maya dan memelototi YouTube untuk mendalami dunia kopi selama tiga bulan. Di antara referensinya ada cikopi.com, minumkopi.com, dan saluran Matt Perger dan Stumptown Coffee Roaster di YouTube.

“Ingat enggak tulisan di Minum Kopi yang pernah dibaca?”

Sebagai kontributor Minum Kopi satu kali (‘satu kali’ diketik dengan rasa bangga), saya merasa wajib menanyakan ini.

Ada satu yang Indra ingat: “Inovasi Kopi dan Kopi Monster” oleh Puthut EA.

Dimaz (berkacamata) dan Indra sedang berdiskusi di Praketa
Dimaz (berkacamata) dan Indra sedang berdiskusi di Praketa | © Prima Sulistya

Mei 2015, Praketa, warung kopi khusus penyedia manual brewing (seduhan tanpa memakai mesin), membuka pintunya untuk kali pertama. Konsepnya: Praketa menyajikan kopi single origin yang sedap dan teman bicara soal kopi bagi orang yang tertarik tahu kopi lebih banyak. Tempat kecil dengan bar mini serta pemilik yang ramah menciptakan suasana hangat.

Tempat ini jadi menarik karena masih amat jarang warung kopi serupa di Purwokerto. Mereka bisa dibilang menjadi pionir di kota kecil ini. Barulah pada tahun 2016, kata Indra, muncul lebih dari sepuluh warung kopi yang turut menyajikan single origin.

Selama tiga bulan pertama, hanya berdua mereka mengelola Praketa. Indra berurusan dengan pelanggan, Dimaz yang meracik pesanan. Selepas itu mereka merekrut pekerja karena berdua saja membuat mereka sibuk. Tak sempat menyapa pelanggan.

Walau suasananya akrab, tetapi jualan mereka tetap saja barang asing. Di awal buka misalnya, ada pelanggan yang mengira kopi kintamani pesanannya sebagai kopi basi gegara rasanya yang asam.

Meja Barista Praketa sengaja dibuat berdekatan mesra dengan kursi pengunjung
Meja Barista Praketa sengaja dibuat berdekatan mesra dengan kursi pengunjung. | © Prima Sulistya
Vietnam Drip salah satu kopi khas kedai Praketa
Vietnam Drip salah satu kopi khas kedai Praketa | © Prima Sulistya

Suasana yang hangat dan percakapan yang Praketa tawarkan membuat pelanggannya pelan-pelan jatuh cinta pada kopi mereka. Muhammad Hasan, dia teman SMA saya yang kebetulan saya jumpai di Praketa suatu siang bilang, ia tadinya tak suka kopi, yang sachet sekalipun. Pada awal-awal kunjungannya di Praketa, ia hanya mencicipi kopi yang dicampur susu (mereka menyebutnya espresso based coffee) seperti macchiato. Lama-lama ia merambah single origin dan menyukainya. Siang itu ia minum kopi dampit yang disajikan dengan moka pot.

Dan bukan hanya jatuh cinta pada kopi. Dua minggu setelah buka, seorang gadis, mahasiswa Unsoed datang dan kemudian rutin berkunjung. Setengah tahun kemudian gadis ini menjadi pacar Dimaz, si peracik kopi. Indra sebagai saksi tidak tahu, mana yang lebih dulu terjadi pada si gadis, cinta pada kopi atau pada peraciknya.

Tapi, Kenapa Kopi?

“Mengapa memilih bisnis kopi?”

“Kopi itu komoditas kedua yang paling banyak diperdagangkan di dunia setelah minyak (bumi). Selain itu ya untuk mengenalkan bahwa Indonesia punya banyak banget kopi, tetapi masyarakat kenalnya hanya kopi sachet,” terang Indra.

“Kenapa mau diajak Mas Indra bisnis kopi?” pertanyaan beralih ke Dimaz.

“Mmm… kenapa ya? Karena waktu itu pengangguran,” jawab Dimaz. Indra langsung ngakak mendengarnya.

“Jawabnya jangan gitu, ya mandan (agak) itulah…,” katanya.

“Oh,” Dimaz langsung tanggap, “karena sedih masyarakat hanya minum kopi sachet. Jadi menghadirkan kopi seduh dengan harga murah.”

“Nah, gitu lho. Yang pengangguran tadi jangan ditulis.”

Sebuah saran yang tidak saya dengarkan.

Praketa menyajikan kopi tak bergula, walaupun tersedia gula bagi pelanggan yang ingin. Juga tidak menjual makanan. Selain sebagai cara branding Praketa sebagai rumah spesialis kopi, alasan lainnya karena Indra tidak bisa bikin kudapan. Ia pernah coba membuat wafel dan panekuk, tapi kemudian tidak dijual.

“Kenapa?” tanya saya.

“Karena enggak enak,” jawab Indra sambil tertawa, miris sepertinya. Kelak, mereka berencana Praketa akan menyediakan makanan. Tentu saja bukan Indra yang memasak. Tugasnya cukup di penjualan saja.

Soal gula, Indra dan Dimaz mulanya sempat menimbang-nimbang antara memakai gula atau tidak. Di satu sisi, pakai gula merusak rasa kopi. Di sisi lain, orang biasa minum kopi manis. Akhirnya mereka pilih tidak pakai gula saja.

Tadinya Praketa juga tidak sediakan kopi campur susu (espresso based coffee). Tapi, mereka kemudian memasukkan menu ini sebagai sajian bagi orang yang baru mulai minum kopi. Kini, dalam sehari mereka bisa menjual 100 gelas kopi. Tiga perempatnya manual brewing, sisanya espresso based. Harga per gelas rata-rata Rp11 ribu. Warung kopi ini buka dari pukul 9 hingga 24.

Tips Minum Kopi ala Praketa

Praketa diambil dari nama arkaik kota Purwokerto. Kata Sanskerta ini juga punya arti ‘pengetahuan’. Indra dan Dimaz ingin Praketa menghadirkan pengalaman minum kopi yang memberi pengetahuan baru.

Sebagai awam kopi, yang tampak jelas dengan ketiadaan ulasan kualitas kopi Praketa di tulisan ini (dengan keawaman itu, saya cuma bisa bilang ‘enak’ untuk kopi mereka tapi tak bisa jelaskan lebih jauh), saya minta tips minum kopi kepada Indra.

Pertama, pagi dan sore cocok sebagai waktu minum kopi. Di pagi hari untuk membuat tubuh segar sebelum memulai aktivitas, di sore hari untuk penyegaran kembali setelah beraktivitas. Juga disarankan minum kopi sebelum olahraga.

Kedua, orang awam yang baru mulai minum kopi di Praketa bisa mulai dengan espresso based coffee dengan biji arabika yang ringan kepekatannya dan manis. Setelah itu dilanjukan dengan vietnam drip yang menggunakan susu kental manis, tetapi kopinya lebih dominan dibanding espresso based. Disambung dengan pourover yang ringan, lalu tubruk, french press, atau aeropress yang sedang, dan diakhiri dengan moka pot yang asam dan kepekatannya tinggi.

Saya manggut-manggut. Tebersit pertanyaan, “Terus, ada enggak tips supaya tidak jatuh cinta kepadamu, Mas?” Tapi, itu candaan yang tidak lucu sama sekali.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405