Kopi Badau, Kubawa Kau Sampai Jogja

Tahun 2016 lalu, saya lulus dari SMA. Setelah merasakan sakitnya ditolak masuk PTN jalur SNMPTN dan SBMPTN, saya mencoba jalur Seleksi Mandiri (SM). Beruntung bisa lolos. Hmm, Program Studi Ilmu Sejarah UNY, Yogyakarta.

Ngomong-ngomong, saya berasal dari Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Mungkin beberapa orang masih asing dengan Belitung, namun apabila kusebut Laskar Pelangi, paling tidak kalian membayangkan novel best of the best seller karya Andrea Hirata tersebut.

Bila bayangan kalian lebih jauh lagi, pikiran kalian akan menampilkan pantai-pantai berbatu besar di Tanjungtinggi dan SD Muhamadiyah (Sekolah Laskar Pelangi) di Gantung. Atau polah menggemaskan Harun.

Pulau Belitung memiliki dua daerah otonom tingkat kabupaten, yaitu Belitung dan Belitung Timur. Tempat tinggalku di Tanjungpandan, juga merupakan Ibu Kota Kabupaten Belitung. Sedangkan Belitung Timur beribukota di Manggar, mendapat julukan Kota 1001 Warung Kopi. Bukan tanpa alasan, sebab di Belitung Timur banyak ditemukan warung kopi pinggir jalan di Manggar.

Bagi anak rantau sepertiku, pulang ke kampung halaman merupakan kebahagiaan sendiri. Rindu suasana rumah, rindu aroma kamarku. Namun, yang kurindukan adalah suasana kebudayaan melayu yang hangat. Apalagi secangkir kopi dalam balutan melayu yang dinikmati bersama.

Hingga pada libur akhir satu semester satu, saya diberi kesempatan untuk mudik.Tidak lama waktu yang ditempuh dari Yogyakarta ke Belitung. Yang membuat lama itu ketika menunggu transit, sekitar empat jam.

Sampai di Belitung, tidak banyak aktivitas yang kulakukan. Mengunjungi sekolah, jalan-jalan, dan aktivitas manusiawi lainnya. Tidak banyak teman yang kujumpai, kebanyakan dari mereka masih kuliah di luar.

Sekadar ngopi sendirian di warkop Kong Djie yang terkenal itu. Pramusaji, gadis melayu yang kuning langsat itu mengigatkanku akan seseorang. Menikmati cappuccino susu ditemani dua-tiga bungkus kacang goreng. Mendengarkan keluh kesah penambang timah hingga berjam-jam lamanya. Menarik untuk digali memang.

Hehe, dua hari sebelum kembali ke Jogja, saya sempatkan untuk memberi oleh-oleh. Ya, jelas kriterianya dapat dinikmati banyak orang. Di samping kerupuk ikan dan udang, getas ikan tenggiri, ada juga kopi. Bukan sembarang kopi hitam, melainkan kopi bubuk Badau Cap Kuda Terbang ukuran medium. Dari namanya, kopi ini di produksi di Badau (salah satu kecamatan di Belitung). Saya beli dua bungkus seharga 60 ribu-an rupiah.

Kembalilah aku di Jogja. Dengan bekal wejangan dari orang tua, uang saku, dan oleh-oleh. Pada malam yang sudah ditentukan, kelas kumpul di angkringan yang berada di Jalan Komojoyo. Ya, sekadar ngobrol, mencari makan, atau kepentingan lainnya. Tentu saja, dalam kesempatan itu, kami ngopi dengan bubuk kopi yang kubawa.

Gelas dan gula sudah disiapkan di angkringan. Tinggal diseduh. Penyeduhan dilakukan seperti meracik kopi pada umumnya. Tidak ada yang khusus.

“Pahit,” sambat Guntur.

“Ya iyalah, urung dikei gulo,” celetuk Susilo.

“Masih pahit,” Guntur sambat lagi.

Ada juga yang tidak menyukainya. Hmm, sayang memang.

Memang pahit kopi Badau lebih pekat dibanding kopi hitam pada umumnya. Hal inilah yang menjadi sisi menarik dari kopi ini. Apalagi ditambah karamel atau susu. Manis dan pahit yang terpadu menjadi kenikmatan yang hakiki.

Setiap orang mempunyai kesan ketika mencoba hal yang baru, termasuk mencicipi kopi Badau. Saya juga mempunyai kesan ketika mencicipi kopi ini di kota orang, bukan di tempat tinggalku. Senang rasanya ketika kopi buatan kampung halaman kita dinikmati oleh orang lain.

Satu bungkus kopi tadi, saya berikan kepada mereka. Sedangkan satu bungkus lainnya, saya nikmati bersama temen-temenku anak rantau Belitung yang berada di Jogja. Mereka seperti dibawa bernostalgia.

“Rindu rumah,” ungkap Adit, mewakili kami.

Yonky Munandhar

Membutuhkan makanan bergizi.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405