Kopi Asmara

Kopi Asmara
Kedai Glaper, Lumajang. © Andrey Gromico

Agus Munali, orangnya. Usianya telah beranjak setengah abad. Tubuhnya gempal, rambut panjang, dan kulit legam. Sepintas ia mirip sosok ‘preman’ dalam sinetron-sinetron di layar televisi kita.

Namun sifatnya yang suka bercanda bertolakbelakang dengan penampilannya. Ia kerap mengeluarkan joke-joke segar meskipun dengan mimik wajah serius. Bagi sebagian orang barangkali menakutkan. Menurutku justru sebaliknya, humor yang terlontar darinya terasa jauh lebih menggelikan. Terang saja, ia kesulitan bermain peran apalagi menampilkan emosi tertentu di raut wajahnya. Agus memang bukan aktor. Ia salah satu pemilik kedai kopi di Glaper, Lumajang.

Glaper adalah sebuah akronim dari Gladak Perak. Sebuah jembatan yang dibangun pada 1925 ketika wilayah itu masih menjadi bagian dari pemerintahan Hindia-Belanda. Sekarang jembatan itu sudah tidak berfungsi lagi, setelah jembatan baru khatam dibangun pada 2001.

Kopi Asmara
Jembatan Glaper lama yang sudah tak digunakan. © Andrey Gromico

Kedai ini berdiri sejak 2005 silam. Ketika hendak mendirikan kedai di lokasi ini kerabat Agus sempat meragukan. Sebab, di tempat ini sepi ketika malam hari bahkan kerap terjadi aksi kejahatan. Namun ia punya perhitungan tersendiri. Jalanan tempatnya mendirikan kedai merupakan Jalur Lintas Selatan (JLS) Jawa, mereka yang melintas di jalur ini sebagian besar menempuh perjalanan jauh. Dengan demikian, mereka yang lelah dan terserang kantuk membutuhkan penawar.

Perhitungannya tepat. Kedainya ramai dikunjungi. Beberapa biro perjalanan dari Bali yang kerap mengantarkan turis mancanegara langganan singgah di kedainya.

Tebing menjulang di salah satu sisi jembatan dan di sisi lainnya bentangan laut pantai selatan Jawa menyedapkan mata. Angin sepoi-sepoi berhembus. Bagi mereka yang menempuh perjalanan dari Malang ke Jember, atau sebaliknya, melalui jalur selatan, tempat ini adalah titik yang pas untuk istirahat, merenggangkan tubuh barang sejenak. Terlebih ada aneka hidangan tersedia dan kopi untuk disesap perlahan-lahan.

Sebagai pelengkap, ia juga menyajikan kopi racikan khusus berlabel “kopi asmara” dengan racikan “jawara”. Jawara yang dimaksud bukan dalam pengertian pertarungan tinju atau pencaksilat. “Kopi jawara! Janda wajib dipelihara!” seloroh Agus. Ia masih meneruskan keterangan seraya menampilkan raut muka tanpa mimik, “Kopi jawara, diekspor dari Saudi Arabia, kopi ini memang diperuntukkan seorang yang benar-benar lelaki!” Penegasan kata ‘yang benar-benar lelaki’ disesuaikannya dengan “janda wajib dipelihara” dalam akronim Jawara.

Kopi asmara merupakan kopi produksi sebuah pabrik rumahan di daerah Jawa Timur. Peraciknya mencoba mencampur kopi dengan resep ramuan alami dari Jawa, Madura dan Arab, yang dipercaya mampu meningkatkan stamina, seperti kapulaga, kayu manis, jahe, jinten hitam, habbatus saudah, dan cengkeh.

Dengan begitu, peminum kopi ini bukan hanya membuat mata melek namun juga berfungsi sebagai penambah stamina kaum lelaki. Dari dua manfaat kopi itu, tak heran kedainya selalu ramai pengunjung. Ia bisa membeli 200 bungkus saban kulakan. Dan itu dalam tiga sampai empat hari sudah ludes terjual. Padahal dari segi harga relatif lebih mahal dari kopi biasa yang juga disediakan di kedainya. Per bungkus kopi asmara dipatok dengan harga 10 ribu rupiah.

“Banyak juga yang mencari. Bahkan seorang yang hendak bekerja ke luar negeri sebagai TKI menyempatkan memborong kopi asrama sebagai persediaan,” terang Agus.

Ketika kami tertarik mencoba, dan hendak memesan kopi asmara, ia menimpali dengan gesit, “Sudah ada pasangan, belum?” Kami tertawa bersama-sama, apalagi tersadar rombongan kami saat itu lelaki semua.

Sebagai pelengkap minum kopi, kedai ini menyediakan tahu goreng berukuran jumbo, lengkap dengan cabai dan saus-sambal. Per potong tahu dihargai seribu rupiah saja. Aduhai sekali rasanya.

Tak percaya? Jika sempat menempuh jalur yang sama, maka cobalah singgah.

Hari Wibowo

Pegiat di Kelompok Tikungan, Jember.