Kopi A Siang, Hanya Pagi sampai Siang

Warung Kopi A Siang selalu ramai dikunjungi dari pagi sampai siang
Warung Kopi A Siang selalu ramai dikunjungi dari pagi sampai siang. © Farchan Noor Rachman

Budaya minum kopi di Indonesia bukanlah budaya remeh temeh. Budaya minum kopi di beberapa daerah adalah budaya yang serius. Orang-orang harus benar-benar meluangkan waktu untuk menikmati secangkir kopi pekat nan hangat. Atau kali lain, orang-orang mampu berjam-jam tahan duduk demi menyicip kopi yang nikmat. Setidaknya itu yang saya temukan di Pontianak, minum kopi adalah strata tertinggi tempat bersosialisasi, dimanapun warung kopinya akan selalu ramai pengunjung.

Minum kopi di Pontianak adalah warisan orang-orang Tionghoa, merekalah yang bermigrasi ke Pontianak dan akhirnya membawa budaya ini menjadi budaya khas orang-orang Pontianak. Maka, Pontianak dan budaya minum kopi adalah hal yang tak bisa dipisahkan, sama seperti kisah orang-orang Belitung dan Warung Kopinya, hanya saja budaya minum kopi di Pontianak tidak seterkenal di Belitung yang terangkat karena mahakarya serial Laskar Pelangi.

Salah satu kedai kopi yang cukup ramai dan terhitung legendaris adalah kepunyaan A Siang, lokasinya di Jalan Merapi, Pontianak. Di kedainya, sudah puluhan tahun A Siang menyediakan kopi yang diakui lezat oleh orang-orang Pontianak. Khas dari warung kopi A Siang adalah empunya kedai kopi sendiri yang menyajikan kopi untuk para pengunjung.

Penampilan A Siang selalu seperti ini setiap harinya saat sedang bekerja meracik kopi
Penampilan A Siang selalu seperti ini setiap harinya saat sedang bekerja meracik kopi. © Farchan Noor Rachman

Penampilannya pun khas, A Siang hanya menggunakan celana pendek dan telanjang dada, ada tato di dada dan tangan kanannya yang sangat jelas. Dengan tampilan inilah A Siang menyajikan dan meracik seluruh kopi yang diinginkan oleh pengunjung. Bak ahli kungfu, tangannya sangat cekatan meracik satu demi satu cangkir kopi.

Walau tampak serius di balik tungku dan baskom kopi, A Siang adalah sosok yang ramah dan sering melempar senyum pada pengunjung. Bahkan dia akan menjawab pertanyaan perihal kopinya, kecuali 1 hal yang tak akan dia jawab, resep racikan kopinya. Sosoknya yang saya duga berusia 60-an tahun, duduk tenang dengan istrinya yang setia mendampingi. Keduanya ramah senyum kala bekerja meracik kopi, terkhusus istrinya senyum tak lepas dari bibirnya yang berpulas gincu.

A Siang sedang meracik kopi pesanan para pengunjung
A Siang sedang meracik kopi pesanan para pengunjung. © Farchan Noor Rachman

Ada 2 kopi yang sering diminta pengunjung, kopi hitam biasa atau kopi susu. Sesuai pesanan, A Siang akan membuatnya, dia akan menakar gula, kemudian mengangkat tinggi-tinggi untuk mengucurkan kopi, sebelum kemudian disaring dan dimasukkan ke dalam cangkir. Metode inilah yang kemudian menjadi daya tarik lain dari A Siang. Pertunjukan A Siang membuat kopi ini yang menarik untuk ditonton. A Siang kemudian akan menyajikannya dengan cangkir kecil yang terbuat dari porselen, cangkirnya sendiri berukir huruf cina dan ornamen cina.

Untuk mencoba aroma dan rasa khas kopi A Siang, saya mencoba memesan 2 sekaligus. Yang pertama adalah kopi hitam biasa, tanpa gula sementara yang kedua adalah kopi susu. Untuk kopi hitamnya saya kira pas, asamnya pas, pahitnya mantap. Agaknya robusta karena pahitnya kuat, walau sampai akhir saya tak tahu kopi yang digunakan karena A Siang enggan memberi jawaban. Sementara untuk kopi susunya rasanya tak kalah dengan kedai kopi modern, manisnya pas, pun kekentalannya seimbang, sehingga kopi dan susunya berpadu padan dengan sempurna.

Kedai Kopi ini ramai pengunjung, walau begitu A Siang hanya melayani pengunjung sampai tengah hari. Di luar itu tutup dan jangan harap A Siang mau membuka warung kopinya. Dia memang hanya melayani pengunjung dari Pagi sampai Siang. Dan itulah yang membuat kedai kopinya terhormat, jam buka yang terbatas rupanya justru banjir pengunjung. Tak hanya ngopi, orang-orang pun bisa memesan roti bakar, atau makan kue-kue dan cemilan yang sudah disediakan.

Budaya minum kopi adalah darah bagi orang Pontianak. Itu memang terlihat di kedai kopi A Siang, apalagi kalau akhir pekan, pengunjung datang dan pergi, menyemut. Dan memang ngopi adalah strata tertinggi pergaulan orang Pontianak. Tak pandang jabatan, semua berkumpul di kedai atau warung kopi, tak ada urusan mau buruh rendahan atau pejabat tinggi, semua menyambangi warung kopi. Dan menurut cerita, di Kedai Kopi A Siang salah satu favorit pejabat-pejabat Pontianak untuk minum kopi.

Oia, konon disini Kedai Kopi A Siang adalah tempat lobby-lobby pejabat, banyak kemudian keputusan-keputusan penting yang lahir dari sini. Memang kedai kopi adalah tempat yang tepat untuk bersilat lidah, semua bisa adu argumen berteman secangkir kopi. Kemudian dari lalu lalang pembeli, saya mengiyakan hal itu, di A Siang, orang betah berlama-lama dan ngobrol sana-sini ditemani kopinya yang memang lezat luar biasa.

Saat pulang saya sempatkan membeli satu bungkus bubuk kopi. Kopi yang digunakan oleh A Siang juga dijual dalam bungkusan yang bisa saya bawa pulang dan pas untuk buah tangan. Namun ketika saya membuatnya di rumah, saya tak mampu menyamai lezatnya buatan A Siang. Betul katanya, rahasia kopi ada di tangan peraciknya, dan tentunya hanya tangan A Siang sendiri yang bisa menyajikan kopi khasnya.

Farchan Noor Rachman

Pecinta amatir kopi. Lebih suka ngopi di warung daripada di kedai kopi. Tentunya karena urusan isi dompet.