Koperasi Ketakasi: Cara Petani Kopi Sidomulyo Merawat Asa Bersama

Pekerja mengumpulkan biji kopi
Pekerja mengumpulkan biji kopi | © Fawaz

Delapan pekerja pabrik sibuk menutupi biji kopi yang sedang dijemur di halaman pabrik. Biji-biji kopi yang mulanya berserak dikumpulkan, kemudian ditutup dengan terpal. Beberapa pekerja lain yang mulanya sedang istirahat siang itu, berdatangan, dan membantu. Termasuk seorang anak kecil yang tadinya bermain sepeda di halaman pabrik juga turun tangan, menghindarkan biji kopi dari guyuran hujan.

Dari kejauhan, Pak Warno datang dengan mengendarai sepeda motornya di halaman pabrik pengolahan kopi milik Koperasi Serba Usaha Ketakasi di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Jember. Belum juga turun dari motor, Pak Warno sudah mengeluh, “Sayang sekali saat masuk musim panen kopi hujan masih turun. Repot.”

Hujan memang belum berhenti turun meski sudah memasuki bulan Agustus. Hampir setiap hari Jember dan sekitarnya diguyur hujan. Biasanya hujan turun sejak siang hingga sore. Kemarau basah, istilah Pak Warno menyebut keadaan ini.

Pak Warno yang kelahiran tahun 1965 ini sudah sejak masa muda mulai bertani kopi. Hingga sebagian rambutnya memutih sekarang, ia masih bertani kopi. “Sudah sejak nenek moyang bertani kopi, Mas. Jadi saya ya juga bertani kopi.”

Selain mengurus kebun kopi dengan luas sekitar 4 hingga 5 hektar, Pak Warno mengisi keseharian dengan mengurus Koperasi Serba Usaha Ketakasi (Kelompok Tani Kopi Asli Sidomulyo). Ia adalah ketua Koperasi Ketakasi, koperasi yang didirikannya bersama 32 orang petani kopi dari Kelompok Tani Sidomulyo I pada 2007.

Menurutnya, ada dua alasan utama di balik terbentuknya Koperasi Ketakasi. Yakni, menguatkan nilai tawar Kelompok Tani di hadapan bank, karena jika tanpa koperasi yang memiliki badan hukum, petani kesulitan mendapatkan pinjaman untuk usaha perkebunan kopi mereka. Alasan lainnya, menghindarkan petani dari jeratan tengkulak yang kerap memberatkan petani. Alih-alih mendapat keuntungan dari kebun kopi, para petani malah rugi akibat ulah pengijon.

Dengan kata lain, dua alasan utama pembentukan koperasi adalah menjadi penghubung dan pemutus sekaligus. Penghubung antara petani dengan bank sebagai pihak yang memberi pinjaman dan pemutus hubungan tak sehat antara petani dan tengkulak. Sejauh ini, kedua fungsi tersebut bisa berjalan dengan baik, pinjaman dari bank lebih mudah didapat dan kerugian akibat ulah tengkulak bisa dihindari.

Berdasarkan kepemilikan lahan, ada dua jenis perkebunan kopi di Desa Sidomulyo. Perkebunan kopi yang ditanam di lahan milik perorangan, lainnya perkebunan kopi yang ditanam di lahan milik Perhutani. Kebun kopi di lahan milik perorangan, saat ini luasnya mencapai 250 hektar. Sedangkan kebun kopi yang ditanam di lahan milik Perhutani, belum ada data luasan secara pasti. Perkiraan Pak Sunardi (41 tahun) yang diamini oleh Pak Warno, luasannya lebih dari 1.000 hektar. Di dua kebun kopi tersebut, rata-rata panen tiap tahunnya sebanyak 1 ton per hektar. Seluruhnya kopi jenis robusta.

Kopi Robusta Sidomulyo
Kopi Robusta Sidomulyo | © Fawaz

Pak Sunardi ini juga seorang petani di Desa Sidomulyo. Selain menjadi petani, ia juga dipercaya mengurus produksi kopi di pabrik milik koperasi. Saat ditanya manfaat keberadaan Koperasi Ketakasi bagi petani kopi di Sidomulyo, Pak Sunardi tegas menjawab, “Sangat membantu kami, Mas. Saat musim panen kopi misalnya, kami bisa pinjam modal untuk biaya panen. Kan nggak sedikit biaya panen itu, untuk 1 hektar kebun kopi, minimal butuh 5 juta untuk biaya panen. Dulu sebelum ada koperasi, kalau punya kambing ya jual kambing buat modal panen, kalau nggak punya, ya ke tengkulak.”

Biaya panen kopi Rp5 juta per hektar itu dialokasikan untuk membayar pemetik biji kopi, pengepakan, dan transportasi. Untuk uang pinjaman ini, koperasi mengenakan bunga pinjaman yang besarnya disepakati bersama petani, biasanya antara 2% sampai 3%. Tentu saja ini jauh lebih ringan jika dibanding dengan bunga yang ditetapkan oleh tengkulak.

Selain memberikan pinjaman uang kepada petani sebagai modal panen, koperasi juga membantu pengadaan pupuk bersubsidi, membantu pengolahan kopi pascapanen, dan membantu mendistribusikan kopi hasil panen kepada pihak konsumen. Kemudian, koperasi juga memfasilitasi petani untuk belajar seluk-beluk pertanian kopi di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka). Sejauh ini kerjasama antara Koperasi Ketakasi dengan Puslitkoka masih terbatas penyuluhan dan pelatihan kopi. Untuk pengadaan bibit kopi, petani memilih untuk melakukan pembibitan sendiri dengan alasan lebih murah.

Kerjasama juga dilakukan antara Koperasi Ketakasi dengan pihak Universitas Jember dan PT. Indokom Citra Persada. Dengan Universitas Jember berupa pengadaan mesin pengolahan kopi, dengan sistem bagi hasil keuntungan 30% untuk pemilik lahan, 30% untuk koperasi, 30% untuk Universitas Jember dan 10% untuk beasiswa pendidikan anak-anak Desa Sidomulyo. Sedangkan bentuk kerjasama dengan PT. Indokom Citra Persada, pihak PT. Indokom Citra Persada membeli seluruh hasil panen kopi petani yang dijual ke koperasi. Pihak koperasi memang tidak mengharuskan petani menjual kopinya lewat koperasi, petani bebas menjual hasil panennya kepada siapa saja meskipun mereka meminjam uang untuk biaya panen dan mendapatkan bantuan pupuk bersubsidi dari koperasi.

Selain menjual biji kopi hasil olah kering dan olah basah kepada pihak PT. Indokom Citra Persada, Koperasi Ketakasi juga sudah mulai memproduksi bubuk kopi yang mereka labeli dengan nama “Ketakasi”. Sejauh ini distribusi Kopi Ketakasi masih sebatas di Jember dan sekitarnya. Pihak koperasi masih mencari cara agar distribusi Kopi Ketakasi bisa menjangkau wilayah yang lebih luas.

Sejak tengah tahun 2015, Koperasi Ketakasi sudah memiliki pabrik pengolahan kopi sendiri, pabrik pengolahan dengan kualitas mesin pengolahan yang cukup baik. Tak hanya petani Sidomulyo yang memanfaatkan pabrik milik koperasi untuk mengolah kopi mereka, petani dari desa tetangga pun menitipkan biji kopi milik mereka untuk diolah di pabrik pengolahan milik Koperasi Ketakasi. Selain itu, lewat program pertanian organik dari Kementerian Pertanian, Koperasi Ketakasi melakukan ujicoba kebun organik seluas 25 hektar di Desa Sidomulyo. Karena program ini, pihak koperasi mendapat bantuan hewan ternak berupa kambing yang kotorannya digunakan untuk bahan baku pupuk organik.

Saat ini, Koperasi Ketakasi mempekerjakan 20 orang sebagai pengurus utama, mayoritasnya diisi oleh para petani Sidomulyo sendiri. Selain itu, koperasi juga mempekerjakan banyak petani Sidomulyo di pabrik pengolahan biji kopi. Jumlah anggotanya pun meningkat, dari yang mulanya hanya 32 orang, kini menjadi 178 orang.

Pak Warno
Pak Warno | © Fawaz

Sebelum menyudahi perbincangan, Pak Warno berujar, “Harapan kami ke depan, koperasi lebih bermanfaat bagi petani Sidomulyo, dan, kopi rakyat dari Desa Sidomulyo bisa beredar lebih luas lagi.”

Memang para petani di Desa Sidomulyo menanam komoditas pertanian lain semisal avokad, jahe merah, talas, cabai, dan pete, juga menanam kayu produksi seperti mahoni dan sengon, serta beternak ayam, kambing dan sapi. Namun, kopi tetap menjadi urat nadi perekonomian Desa Sidomulyo. Harapan besar selalu digantungkan pada kopi. Dengan kemandirian petani yang dibangun bersama-sama lewat wadah koperasi, harapan itu juga dirawat bersama-sama.

Ekspedisi Kopi Miko

Fawaz

Volunteer Sokola Rimba