Konser Interaktif dan Munculnya Orkes Air Mata Buaya

Seri kedua Bermain di Cikini Menampilkan SIlampukau Foto oleh Yose Riandi
Seri kedua Bermain di Cikini Menampilkan SIlampukau © Yose Riandi

Entah kapan dan dari mana saya mendapatkan dua lagu dari band Orkes Air Mata Buaya. Prediksi saya, dua atau tiga tahun lalu. Saat itu saya mulai berburu semua lagu yang pernah dibuat Kharis Junandharu, yang dikenal sebagai vokalis cum gitaris dari Greats dan Silampukau.

Dua lagu dari orkes ini berjudul “Aduh Abang Sayang” dan “Rindu Halimah”. Yang pertama lebih kental dengan nuansa dangdut klasiknya. Yang kedua akan mengingatkan kita pada lagu-lagu Melayu yang kerap bergema di Belitong atau Riau, namun dengan tambahan teologia dan Baruch Spinoza. Lagu pertama dinyanyikan oleh seorang biduan perempuan yang cengkoknya lumayan bisa dipuji. Sedangkan yang kedua dinyanyikan oleh Kharis sendiri, cukup meyakinkan kita betapa pedihnya siksaan rindu pada seorang puan —terutama dari lolongannya yang menyayat sejak menit keempat.

Seperti banyak lagu yang dibuat Kharis, selalu ada sedikit pengaruh waltz di sana. Entah dari alunan akordion yang sendu, atau dalam petikan dan aransemen gitar yang lincah berkelit. Kalau kuping saya tak budeg dan ingatan belum tumpul, sedikit bagian awal “Rindu Halimah” kerap dipakai Kharis sebelum mulai memainkan “Cinta Itu”.

Karena saya menduga ini adalah proyek senang-senang Kharis, maka saya merelakan diri untuk tak pernah dengar lagu-lagu itu dimainkan secara langsung.

Ternyata saya salah.

Saya ternyata bisa menyaksikan “Aduh Abang Sayang”. Secara langsung. Di hajatan Silampukau Bermain di Cikini. Dimainkan lengkap full band. Dengan Om Hari Muka Kapur bertanggung jawab di seksi ketipung serta pemancing tawa banyak orang dengan lagaknya yang mbois —bayangkan bermain ketipung dengan satu kaki mengangkang di atas kursi dan tangan diangkat ke atas tinggi-tinggi setelah menepuk permukaan ketipung. Yihaa!

“Kami memainkan musik folk. Secara kultural kami akan berdosa kalau tidak menyanyikan lagu… dangdut,” ujar Kharis.

Penonton bergemuruh.

Seorang perempuan bernama Ayu didapuk sebagai biduan. Karena sepertinya ini kolaborasi mendadak, maka saya tak berharap cengkok Melayu yang benar-benar kuat darinya. Tapi gestur dan lenggak-lenggoknya, aduhai, cukup membenarkan kata-kata Kharis yang tentu saja adalah kelakar: dia bakat dangdut terpendam dari Indramayu. Sebab Ayu dikenal sebagai vokalis dan pemain ukulele dari Fraya.

Penampilan Silampukau di Taman Ismail Marzuki Foto oleh Andri Rinald
Penampilan Silampukau di Taman Ismail Marzuki © Andri Rinald
Memainkan Dangdut di Cikini foto oleh Reza Fajri
Memainkan Dangdut di Cikini © Reza Fajri

Seusai penampilan yang mengejutkan banyak orang ini, saya semakin disadarkan kalau dangdut klasik dan folk Nusantara membawa nafas yang sama dan dialiri darah yang tak berbeda: kehidupan kaum kebanyakan (baca: miskin tapi selalu berusaha untuk bahagia dengan caranya sendiri dan karenanya kerap menghasilkan cerita yang absurd, jujur, komikal, nan jenaka).

Kisahnya tak jauh-jauh dari suami nakal, istri minggat karena tak dapat uang belanja, utang yang menggunung, rindu menggigit, atau minuman alkohol murahan yang bikin rileks tapi ternyata peminumnya takut dosa. Ini tentu sebelum dangdut diambil alih oleh para biduan berpayudara raksasa, yang menyanyikan tema tak jauh tentang selangkangan, lengkap dengan goyang erotisnya.

Lagu “Aduh Abang Sayang” ini konon akan diaransemen ulang oleh Silampukau. Saya tentu saja penasaran dengan kreasi mereka terhadap lagu dari band yang mungkin dibentuk atas dasar bersenang-senang dan penghormatan luhur pada dangdut.

Oh maaf. Saya jadi melantur ke mana-mana sampai lupa bercerita sedang ada di mana dan menyaksikan Silampukau di acara apa.

Tanggal 30 Maret yang cerah dan hangat, saya menyaksikan Silampukau —Kharis dan Eki Tresnowening— di acara Bermain di Cikini. Saya rasa tak perlu menjelaskan siapa itu Silampukau. Nama duo folk asal Surabaya ini makin kondang sedari tahun lalu. Sudah wara-wiri melakukan konser yang selalu disambut hangat. Baik di kampung halaman Surabaya, Purwokerto, Jogja, Bandung, Jakarta, hingga Bali.

Sedangkan Bermain di Cikini, ini adalah even baru garapan Felix Dass, seorang penulis yang juga dikenal luas dalam kancah musik independen Jakarta. Selepas berhenti dari dunia korporat, Felix memutuskan untuk bekerja sembari bersenang-senang. Salah satu garapan pertamanya adalah Bermain di Cikini. Ini adalah ajang musik yang membawa semangat bahwa sebenarnya musik saja sudah cukup untuk menghibur, tak perlu gimmick aneh-aneh. Bermain di Cikini juga menghadirkan suasana yang intim dan hangat. Ibarat bermain di hadapan teman-teman sendiri.

Acara ini sudah dua kali digelar. Musisi pertama yang mendapat kehormatan membuka ajang ini adalah Ari dan Reda, dua orang musisi yang dikenal karena melantunkan musikalisasi puisi-puisi Sapardi Djoko Darmono. Silampukau adalah musisi kedua yang dihadirkan di acara ini.

Sama seperti yang pernah diungkapkan Felix, Bermain di Cikini memang tak mengandalkan berbagai gimmick. Musisi cukup bernyanyi, dan penonton menikmati.

Teater Kecil Menjelang Konser Foto oleh Felix Dass
Teater Kecil Menjelang Konser © Felix Dass

Malam itu saya —dan juga ratusan penonton lain— menyaksikan Silampukau dalam bentuk yang berbeda. Full band. Biasanya band ini disaksikan dalam bentuk trio, dua gitar dan satu bass. Paling banter adalah tambahan drum. Namun dalam Bermain di Cikini, mereka menghadirkan ukulele, cello, keyboard, terompet, trombone, dan tentu saja ketipung —halo Om Hari!

Mereka bermain di panggung yang apik, dengan kualitas akustik yang bisa diandalkan, tata lampu yang sederhana tapi begitu tepat guna. Wajar kalau Eki dan Kharis banyak tersenyum dan tertawa malam itu.

Rambut Eki dipotong hari itu. Tampak lebih rapi. Kharis mengenakan kemeja berlapis sweater. Dua orang yang terkenal irit bicara ini lumayan berceloteh banyak, walau obrolannya baru dimulai di pertengahan pertunjukan. Saya menduga ini karena petuah dari Orang Tua —anda tentu tahu siapa Orang Tua yang saya maksud.

Selain lagu dari album Dosa, Kota dan, Kenangan, Silampukau juga membawakan tiga lagu lama mereka: “Berbenah”, “Cinta Itu”, dan “Sampai Jumpa”. Mungkin karena lama tak bermain lagu lawas, Eki sempat lupa lirik di lagu “Cinta Itu”. Tapi tentu saja kesalahan itu minor belaka.

Selain penampilan yang mengesankan, ada satu hal yang membuat hati hangat: jumpa fans. Ah mungkin istilah itu tak tepat. Mungkin lebih tepat: jumpa kawan-kawan.

Setelah penampilan Silampukau usai —mereka menyanyikan, kalau saya tak salah hitung, 13 lagu dengan dua lagu instrumental— duo ini keluar dan menghampiri penonton yang masih menyemut di Teater Kecil. Memang, panitia Bermain di Cikini sudah mengabari penonton kalau ada aksi jumpa Silampukau setelah pertunjukan selesai.

Eki dan Kharis jadi selebritas hari itu, tentu saja. Yang menanti mereka punya banyak permintaan. Mulai dari foto bareng, tanda tangan, dan ada pula yang sekadar mengungkapkan kekaguman.

“Gila, keren banget konsernya Mas!”

“Mas foto bareng dong.”

“Mas, foto bareng personel lengkap dong.”

“Mas, minta tanda tangannya dong.”

Kharis terlihat senang namun seperti biasa, ia tak bisa menyembunyikan kecanggungan dan kegugupan menghadapi kerumunan orang banyak. Sedangkan Eki selalu tersenyum ramah, membuat banyak orang makin jatuh cinta.

Saya melihat mereka —Silampukau dan kawan-kawan penggemar— dengan perasaan yang senang. Semangat yang dibawa dan dihadirkan oleh tim Bermain di Cikini berhasil dengan amat gemilang. Mereka berhasil menghadirkan pertunjukan yang tak hanya apik, intim, dan hangat. Namun juga interaktif. Penggemar pasti merasa lebih dekat dengan idolanya, begitu pula sebaliknya.

Rasa-rasanya hajatan ini akan jadi favorit banyak orang di kemudian hari.

Nuran Wibisono

Penyuka jalan-jalan dan musik bagus.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • keren tulisanya mas
    alami

  • mas, tau lirik lengkap Rindu Halimah ndak? Saya suka banget lagu ini tapi ada lirik yang ga saya pahami…hehe…