KONKOPIA

“Kamu nggak pengen ngopi a?” Pertanyaan batin sambil senyum sendiri terngiang komorebi sore di Hutan Jalan Jakarta sepulang dari kampus enterpreneur. Huruf tunggal ‘a‘ di akhir kalimat memang khas Jawa-Timuran buat memberi penekanan mempertanyakan sesuatu atau menawarkan suatu hal.

Malang, malam itu gemerlap cafe-cafe dan kedai kopi urban memanggil menggoda buat mampir. Di sepanjang koridor arteri primer jalannya, seperti di area Jalan Soekarno-Hatta sebelah kiri dan kanan sepanjang jalannya mudah sekali menemukan tempat nongkrong, mampir melipir sekedar makan-minum atau ngemil tipis-tipis. Mulai yang kopi emperan duduk di paving-block outdoor, karaoke oye, kopi yang membara-bara lampu interiornya, nasgor masbro, sampai yang makanan pedas sporty juga ada. Kelas mahasiswa tua begini, mampir di cafe macam harga Starbucks kok kayaknya kurang cocok sama cuaca maju-mundur ekonomi mandiri. Kerjanya kadang kepepet minum kopi sachet artifisial sambil streaming film-film twist sok sains tapi fiksi.

Seperti biasa, biar selaras sama angin malam, headset dengan playlist ‘Pandai Besi – Menjadi Indonesia’ telah siap menemani berkendara biar sok-sok atmospheric. Sebelum melipir dari Blimbing ke gang Jalan Kemirahan, teringat sedikit kemarin malam kawan posting di IG-nya habis dari warung kopi di rombong. Kebetulan sekali ini baru tahu, karena rombong yang saya kenal sebelumnya di Malang kalau nggak jualan mie ayam, bakso, bubur ayam, roti goreng, buah, atau yang sudah punya tempat ya di angkringan. Belum pernah sepertinya minum kopi di rombong, mirip-mirip biar sedikit kayak di film-film, biar cita-cita singkat tadi jadi realita.

Rombong malam itu di KONKOPIA
Rombong malam itu di KONKOPIA | © KONKOPIA
Tempat Baru, Fellas Lalu dan Fellas Baru
Tempat Baru, Fellas Lalu dan Fellas Baru | © Dionisius Dino Briananto

Akhirnya tiba, hari itu pertama kalinya saya mampir sekitar awal tahun 2016, lokasinya di Jalan Ikan Piranha Atas 220, depan ruko toko olahraga, nama tempatnya KONKOPIA “Malam fellas, mau pesan kopi apa? Yang pahit atau yang sweet, disini ada robusta ada arabica..” Wah, buat saya yang hobi kepepet kopi sachet, buat warung kopi di rombong, tempat kopi ini mengejutkan, isinya penuh surprise effect kalo bahasa ruang spasial-arsitekturnya. Mas Samid namanya, pemuda yang masih kuliah sekaligus sebagai peracik kopi handal ini ternyata ketika menawarkan kopi buat saya pelanggan barunya sangat detail dan sabar. Apalagi langsung menggunakan panggilan fellas tadi yang artinya fellowship, baru kenal saya sudah dianggap kawan yang friendly, lagi-lagi surprise di KONKOPIA. Rombong ini sendiri telah berdiri tepatnya sejak tanggal 28 Mei 2015.

“Mau yang filter atau tubruk?” – Mas Samid melanjutkan, “Kalo Arabica biasanya sudah manis mas, ada asamnya, jadi gak perlu tambah gula dan susu juga sudah very nice. Kalo mau kopi Robusta juga ada yang campuran susu ada Kopi Susu, ada Cortado yang lebih encer dan ada Vietnam Drip yang lebih kental teksturnya.” Jangan malu-malu tanya ke Mas Samid tentang kopi, karena dia pasti akan menjelaskan tiap-tiap detailnya sebelum menyeduhkan racikannya. Karena ternyata mulai waktu filterisasi, suhu hangat air, takaran, hingga penyajian semuanya diperhatikan dengan detail. Saya jadi sedikit tahu tentang timer waktu filterisasi 2 – 2,5 menit menetesnya air kopi dari saringan, suhu 87o C, hingga lokasi tumbuhnya biji kopi yang saya seduh. Sambil membayangkan bagaimana petani menanam dan hidup lir-ilir di perkebunan dataran tinggi Sumatera Utara, sangat mengasyikkan.

Belum lagi, kalo melihat pilihan menu biji kopinya yang Arabica bermacam-macam jenis. Selama ini KONKOPIA menyeduh biji kopi segar nusantara mulai dari; Aceh Gayo, Mandheling, Java Arjuna, Java Kayumas, Java Argopuro, Karangploso Honey, Malabar, Lintong Peaberry, Batak Karo Linggajalu, Sumatera Sidikalang, Flores Bajawa, Flores Golo Pau Bourbon Merah, Toraja Sapan, sampai kalo suka menjelajah kopi yang jauh sekalian, ada Kimaratia Gatundu Kenya, dan masih banyak lagi.

Varian kopi ini terus berganti sesuai ketersediaan, apalagi Arabica, sangat surprise karenakopi nusantara ragamnya yang bermacam. Beberapa daerah strategis penghasil kopi di nusantara hingga hari ini rata-rata menghasilkan lebih dari 50 ribu ton – 100 ribu ton per tahun. Daerah-daerah itu diantaranya Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung dan Jawa Timur. Jika fellas pembaca berminat pesan kopi jenis Robusta, KONKOPIA menyeduh Robusta Kawi dan Dampit yang siap juga kalo ingin dicampur sendiri dengan taburan gula merah atau gula putih.

Tidak berhenti dengan keragaman biji kopi, Mas Samid KONKOPIA ini juga ternyata menyeduh kopi dengan beragam metode brewing. Ke-amatiran saya ini membuat penasaran, surprise apalagi yang terasa di lidah dari seduhan hangat secangkir kopi kalau metodenya beragam? Gilingan biji kopi tubruk metode grinder manual mulai dari yang giling kasar, medium, giling halus, hingga metode dripping Pour Over V60 juga ternyata berbeda nikmatnya. Mau Japanese Ice Filtered Coffee juga tak kalah segarnya lho. Belum lagi Aero Press yang aroma uapnya terasa kuat hingga tenggakan di kerongkongan. (P.S: waktu pertama kesana saya pesan Single Origin Arabica jenis kopi Aroma Bandung) yang ternyata memang kelebihannya jenis kopi ini sudah manis seperti ada tambahan gula merah, teksturnya yang pahit sopan dan aromanya juga legit ketika dihirup.

Mas Samid memberi tips feat. fellas
Mas Samid memberi tips feat. fellas | © KONKOPIA
Proses brewing sebelum penyajian
Proses brewing sebelum penyajian | © Dionisius Dino Briananto

Sekitar 2 bulan lalu di hari ulang tahun pertama KONKOPIA (28 Mei 2016), lokasinya kini pindah ke alamat Jln. Simpang Ikan Piranha Atas No.7B. Tempatnya tidak jauh dari lokasi rombong awal, Home Brewing, tapi yang lebih enak tempatnya makin nyaman karena serasa di rumah. Ada menu baru juga, karena menurut Mas Samid tidak semua orang gemar kopi, tapi kadang ingin kumpul berjumpa dengan fellas-nya di KONKOPIA, jadi sekarang ia juga menyediakan sajian teh. Pilihan teh seperti Green Peach, The Royal Afternoon, hingga Queen’s Choice juga tersedia. Kalau mau pesan camilan ganjal perut juga ada French Fries dan Risoles Mayo. Apalagi nyore sambil minum Cortado, Vietnam Drip, atau Single Origin yang disediakan dingin dengan es batu, semakin me-refresh dahaga kerongkongan. Favorit saya sendiri sekarang Kopi Simalukuta, bijinya dari daerah Sumatera Utara, entah kenapa rasanya yang colorful (begitulah ke-amatiran ini menyebutnya), sweet, dan fruity seru yang sulit dideskripsikan, sangat cocok dengan tekstur pahitnya yang tidak keterlaluan.

Akhirnya, saya memberanikan diri bertanya juga tentang asal-muasal nama KONKOPIA. Usut punya usut, ternyata Mas Samid memilih nama ini juga prosesnya Black Box alias intuitif tidak disengaja. Menarik sekali, sebelum mulai membuka rombong, awalnya passion yang mengantarkan Mas Samid kepada hobi menyeduh kopi. Lalu sempat terpikir membuka rombong kopi dengan berbagai konsep dan nama seperti ‘Craffein‘, ‘Coffea‘, dan lainnya, tapi belum sreg juga nama yang pas buat rombong. Awalnya ia sering menyeduhkan kopi untuk teman-temannya yang main ke rumah. Ketika menawarkan memilih minuman apa, dengan bahasa logat Jawa-Timuran, Mas Samid mengucapkan “Kon kopi a?” Eh, akhirnya kosa-kata yang sering diucapkan itu menjadi nama untuk rombong kopinya, dan sekarang menjadi kepingan ikon memori kolektif.

Soal kata-kata dan caption tulisan, KONKOPIA menyediakan space sendiri buat fellas untuk sharing tulisan. Ada papan hitam yang bisa ditulisi dengan kapur tentang apapun, bisa gambar ataupun caption tulisan dari fellas. Juga ada gantungan Zine-Zine seru buat fellas yang suka minum kopi sambil baca-baca.

Proses brewing sebelum penyajian
Details yang fascinating | © Dionisius Dino Briananto
Coldbrew yang menyegarkan
Coldbrew yang menyegarkan | © Dionisius Dino Briananto

Oh iya, belum lama ini, di KONKOPIA ada sajian baru: Cold Brew. Racikan kopi dingin Java Andungsari yang sekitar 4 hari lamanya harus menunggu proses pendinginan baru siap untuk disajikan. Dengan tambahan irisan lemon, kopi ini terasa menyegarkan dan berhasil mengembalikan semangat, Bittersweet! Lemon & Kopi Dingin. Kini, biasanya saya mampir 3-4 kali dalam seminggu buat sejenak nyeruput kopi di KONKOPIA, dan tidak pernah bosan.

Soal kantong, jangan khawatir, karena benar-benar surprise! dengan keragaman racikan kopi yang sedemikian rupa mengejutkan, KONKOPIA menyeduh Filtered-Coffee seharga Rp.10.000,- buat jenis Arabica, Tubruk Arabica Rp.9000,- lalu Cortado dan Vietnam Drip seharga Rp.7.000,- dan Kopi Susu Tubruk dan Tubruk Robusta yang dihargai hanya Rp.5.000. Recommended sembari menunggu senja, menghabiskan malam sejenak, membaca buku, bersua fellas lama fellas baru, ataupun ditemani rintik hujan.

Jadi bagaimana denganmu fellas KONKOPIA?

Dionisius Dino Briananto

Belajar arsitektur, terpukau komorebi sambil dihuyung angin lir-ilir semilir.