Kolaborasi Apik Cascade Trio dan Ngayogstringkarta

Cascade Trio berkolaborasi dengan Ngayogstringkarta memainkan Concertino karya Bohuslav Martinu
Cascade Trio berkolaborasi dengan Ngayogstringkarta memainkan Concertino karya Bohuslav Martinu. © Tiwi

Beberapa hari sebelum malam Minggu 12 Maret 2016 lalu, seorang teman memberi tahu bahwa dia akan ikut mengiringi sebuah pertunjukan musik yang dipentaskan oleh Cascade Trio. Sebenarnya, tidak sekali-dua kali dia mengabarkan kegiatan serupa. Hanya saja, saya sering tidak bisa datang menyaksikan karena berbenturan dengan acara lainnya. Iya, kadang saya memang (sok) sibuk. Nah, agar tidak cupu banget, akhirnya saya meluangkan malam minggu, khusus untuk datang ke pertunjukan musik tersebut—padahal sih memang tidak sedang ada acara.

Teman saya bernama Devy, atau bisa dipanggil Lord Air Mata. Panggilan “sayang” ini tak lain karena dia kelewat terharu dan tentu saja, gampang menangis.

“Setelah pintu utama, kamu lurus. Ada rektorat, belok kiri. Nanti ada mobil-mobil banyak dan depannya itu concert hall. Di situ tempatnya,” begitu kata Devy lewat voice note WhatsApp.

Berbekal arahan itu, akhirnya saya meluncur ke tempat acara, yakni di kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Setelah sempat nyasar, akhirnya saya sampai di tempat konser. Awalnya cukup ragu karena sepi. Hanya ada beberapa orang. Namun di dinding depan ditempel poster yang menunjukkan adanya acara tersebut. Saya masuk ke bagian tiket, mengambil dua tiket yang beberapa hari sebelumnya saya pesan. Karena di koridor tidak banyak tempat duduk, saya memutuskan keluar, sambil menunggu kedatangan teman saya yang lain, yakni Mbak Misni.

Mbak Misni datang, tak lama kemudian pertunjukan dimulai. Kami memasuki ruangan berbentuk teater. Masih banyak kursi kosong sehingga membebaskan kami menerka tempat mana yang paling strategis. Maklum, kami berdua cukup mungil sehingga harus memilih tempat yang benar-benar pas—agar tidak terhalang kepala orang di depan kami.

Selang beberapa waktu, ruangan penuh dan MC membuka acara. Dia menjelaskan bahwa sebelum pertunjukan, Cascade Trio sudah melakukan workshop musik di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan beberapa sekolah menengah musik. Dari workshop tersebut, akhirnya dipilih trio biola untuk membuka acara musik malam itu. Mereka adalah siswa dari SMK N 2 Kasihan, Bantul.

Setelah memainkan satu lagu, tibalah acara yang ditunggu-tunggu, yakni penampilan dari Cascade Trio. Grup ini terbentuk sejak 2013, yang beranggotakan Danny Ceri (biola), Airin Efferin (piano), dan Ade Sinata (cello). Selain tampil di Indonesia, Cascade Trio sudah sering tampil di kancah internasional seperti Malaysia dan Spanyol. Sebelum di Yogyakarta, mereka melakukan pertunjukan di Malang, kemudian ke Semarang.

Pada penampilan pertama, Cascade Trio memainkan “Piano Trio in G Minor OP 15” karya Bedrich Smetana. Penampilan ini berisi tiga bagian, yakni Moderato assai; Allegro, ma non agatito-Alternativo I.-Andante-Alternativo II. Maestoso; dan Finale. Presto.

Karya ini diciptakan saat Smetana berusia 31 tahun. Semasa muda, dia mengalami hidup yang sulit. Dia kehilangan istri pertama dan tiga anak perempuan dari empat anaknya karena tuberculosis dan skalartina—sejenis infeksi yang disebabkan bakteri streptococcus.

Dimulai dengan kegelisahan yang mencekam, Smetama memasukkan tema-tema lirikan yang menggambarkan karakter anaknya. Namun demikian, musisi asal Ceko ini berhasil merangkum akhir karyanya dengan sebuah kepastian, bahwa kematian ternyata tidak berarti mengakhiri semuanya.

Penampilan kedua Cascade Trio berjudul “Variasi Pelog” karya Budhi Ngurah, yang merupakan dosen di ISI Yogyakarta. Karya ini diciptakan pada tahun 1991 dan hanya dimainkan satu kali, sebelum akhirnya diberikan kepada Cascade Trio pada tahun 2013. Cascade Trio pertama kali memainkan “Variasi Pelog” di Valencia dan berhasil memberikan warna berbeda bagi penonton. Hal itu tak lain karena nuansa tradisional musik Jawa yang sangat terasa. Pelog sendiri berasal dari salah satu laras dalam gamelan Jawa. Karya ini juga menunjukkan keahlian Budhi Ngurah dalam menata dasar yang simpel menjadi sembilan variasi berwarna-warni dan masing-masing memiliki karakter tersendiri.

Cascade Trio dan Ngayogstringkarta
Cascade Trio dan Ngayogstringkarta. © Alfris

Pada penampilan selanjutnya, Cascade Trio tidak hanya bertiga, tetapi berkolaborasi dengan Ngayogstringkarta.

Ngayogstringkarta dibentuk sejak 2012. Kelompok musik ini berawal dari sebuah pertemanan. Mereka adalah kumpulan mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia yang mencintai musik dan ingin membuat wadah di luar kampus, sekaligus sebagai sarana pendidikan. Sudah banyak kegiatan yang mereka lakukan. Di antaranya konser di Yogyakarta, Malang—berkolaborasi dengan Dwipantara, mengikuti Bandung Music Camp—yakni master class yang mendatangkan pelatih kemudian melakukan konser, serta yang baru-baru ini tampil di teater kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) dalam resital tugas akhir salah satu anggota Ngayogstringkarta yang kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Kolaborasi antara Cascade Trio dan Ngayogsringkarta memberi warna tersendiri. Mereka menampilkan “Concertino for Piano Trio” dan “Orkes Gesek” karya Bohuslav Martinu yang terdiri atas beberapa bagian, yaitu Allegro (con brio), Moderato, Adagio, serta Allegro.

Bohuslav Martinu merupakan komponis modern dari Czech yang paling produktif dan berpengaruh. “Concertino…” adalah contoh standar bahasa musik Martinu, yaitu nada-nada yang bertabrakan tetapi memiliki pola ritmik yang kuat, ilustrasinya seperti mesin yang berjalan secara otomatis. Karya ini pertama kali dimainkan di Indonesia oleh Cascade Trio saat di Surabaya.

Setelah Cascade Trio memainkan satu lagu penutup, usailah pertunjukan malam itu.

Cascade Trio dan Ngayogstringkarta
Suasana setelah pertunjukan selesai © Alfris
Setelah pertunjukan selesai
Setelah pertunjukan selesai © Alfris

Devy mengirim pesan agar saya jangan pulang dulu, biar bisa pulang bareng. Akhirnya, saya menemuinya di panggung. Tentu saja, kami pun foto-foto.

Devy bilang, untuk pertunjukan tersebut, persiapan dilakukan selama dua bulan. Cascade Trio dan Ngayogstringkarta melakukan latihan sendiri-sendiri, sebelum akhirnya digabungkan. Kali ini, anggota Ngayogsringkarta yang ikut ada 23 orang, terdiri dari biola (1) 7 orang, biola (2) 6 orang, viola 3 orang, cello 5 orang, contra bass, dan conductor. Nah, Devy ini ikut memainkan biola (1).

Sesi foto-foto selesai, kami pun pulang.

“Temanmu ganteng-ganteng ya, Dev,” ucap saya.

“Jelas,” jawabnya dengan unsur agak sombong.

“Kondukturnya keren banget!”

“Iya. Dia udah punya pacar.”

Oh, cukup tahu.

Utami Pratiwi

Editor buku, fangirl (pengepul cowok korea).

  • Frida ‘vree’ Kurniawati

    Ganteng-ganteng udah punya pacar ?
    Tulisanmu bagus Mbak, ini riset tentang musiknya brp lama? Wkwk *kurang ajar*

    • Utami Pratiwi

      Wah, Frida komentar ternyata wkwkwkw. Risetnya malam-malam pulang dari nonton itu. Kan nginep di kos Devy. Sambil ngomongin musik, tak ketinggalan rumpi cowok ganteng dan tentu saja cowok yang gak ganteng-ganteng amat penulis Hanif itu. Ewh…