Koffie Warung Tinggi: Perjuangan Keluarga Perantau Selama 138 Tahun

Nama marga saya tidak menarik dijadikan nama panggung seperti nama artis Hongkong. Tak pernah ada artis Hongkong dengan marga saya. Anda pun akan mengernyitkan dahi mendengarnya. Marga umum, sebetulnya. Tapi kurang terkenal.

Liauw. Kadang ditulis Liaw, Liao, Liau, Leow, Liew, dst. Sebagian suku Hakka, sebagian Hokkien. Itu karena kampung kami sama-sama di Fujian, Tiongkok selatan. Keluarga saya dari suku Hakka desa Moyan, desa di pegunungan. Di Indonesia paling banyak suku Hakka berada di Bangka, Belitung, dan Singkawang. Sampai generasi orang tua saya, jarang ada yang sekolah tinggi sampai sarjana. Kebanyakan hanya petani, penambang, dan nelayan. Kalaupun bisnis, hanya toko kelontong, hasil bumi, atau konfeksi kecil.

Sebagaimana semua suku di seluruh dunia yang merantau, tak semua berakhir manis. Banyak yang tewas karena persaingan hidup-mati di daerah pertambangan, atau terseret pusaran revolusi politik. Yang selamat hidup, tak semua bisa maju dan cukup hemat sehingga bisa mengirim uang ke kampung. Dahulu cukup masyhur, banyak keturunan Tionghoa yang tergelincir hidup boros: makan enak, mabuk-mabukan, menghisap candu, dan ke rumah plesiran (istilah gaya novel roman untuk rumah pelacuran). Godaan klasik kenikmatan fana. Beratus tahun kemudian, stereotip tersebut entah bagaimana bisa lepas dari lingkungan Tionghoa, dan melekat ke saudara Papua.

Dari sekian banyak kerabat kami yang gagal dan bangkrut, ada beberapa nama yang sukses. Ada Liauw Siu Kian pemilik Tahu Yun Yi, dan Liauw Pak Phin pemilik Tahu Talaga Yun Sen. Pabrik mereka di Jalan Jendral Sudirman Bandung, bersebelahan persis. Papa saya lebih kenal pemilik Tahu Yun Yi, dan menurut beliau, mereka bukan keluarga dekat meski satu marga.

Konon Yun Yi berdiri lebih dulu, tapi kini Tahu Talaga lebih maju dengan membuka kedai di mal-mal bertema warung tempo doeloe. Kedainya selalu ramai, karena enak dan harganya terjangkau. Menjual camilan-camilan kreatif dengan bahan dasar tahu, selain juga aneka minuman dan makanan berat. Kapan-kapanlah saya ceritakan tentang itu.

Anak pemilik Tahu Yun-Yi hanya dua orang, laki-laki semua. Yang sulung dulu adalah teman sekolah saya dari SD sampai SMA. Waktu kuliah, saya dengar ia menyetir mobil jalan-jalan ke Tangkuban Perahu dengan teman-temannya. Dalam perjalanan pulang, ia pindah ke boncengan motor temannya. Mobilnya lalu diserahkan pada teman yang lain. Takdir memutuskan, motor itu tergelincir jatuh, dan kawan saya menghantam tiang pendek penanda kilometer di sisi jalan. Teman saya tewas seketika.

Sama seperti semua orang di dunia, rezeki dan musibah sudah ada yang mengatur. Tugas kita hanyalah berusaha jujur dan rajin bekerja. Lalu lepaskan iri hati dan kekhawatiran. Tak ada seorangpun manusia yang terus-menerus bahagia, tanpa pernah merasakan sakit dan duka. Walau itu orang yang kalian anggap paling sukses.

* * *

Kali ini saya hendak menceritakan penyandang marga kami yang lain: Liauw Tek Soen. Kalian mungkin tak pernah dengar. Ia pendiri Warung Tinggi pada tahun 1878. Belum pernah dengar juga? Itu bisa dikatakan warung kopi tertua di Indonesia. 138 tahun yang lalu merupakan warung nasi di Jalan Hayam Wuruk (Molenvliet Oost) Jakarta, dan ramai dikunjungi para pengayuh becak. Tahun 1927, didirikan pabrik kopi pertama di Weltervreden dan dinamakan Tek Soen Hoo (Tek Sun Ho) Eerstee Weltreverdenschee Koffiebranderij.

Konon disebut Warung Tinggi karena letak warungnya lebih tinggi daripada daerah sekitarnya. Tempat tinggi memang disukai orang Tionghoa karena fengshuinya lebih bagus. Pada tahun 1987, Warung Tinggi beralih dari warung nasi menjadi warung kopi karena pengunjung lebih menyukai kopi mereka daripada masakan mereka.

Tahun 1930, mereka mulai mengekspor bubuk kopi ke Belanda. Tahun 1938, pada perayaan ulang tahun toko yang ke-60, ada pesta besar di mana pengunjung boleh minum kopi sebanyak yang mereka inginkan. Kalau Anda mencari foto Tek Soen Hoo di mesin pencari, yang keluar adalah foto hitam putih bergambar sebarisan lelaki berjas putih dan perempuan ber-cheongsam di depan toko pada acara itu.

Tahun 1969, hanya 4 orang dari 11 bersaudara yang meneruskan usaha: 1 orang yang mengurus bagian produksi dan penjualan, 1 orang di bagian pembelian bahan mentah, 1 orang bagian akuntansi, dan 1 orang yang berfokus di pemasaran. Mereka meluaskan ekspor ke Jepang dan Timur Tengah.

Generasi ke-4 ini memutuskan untuk berbagi warisan pada tahun 1990-an. Satu orang mendapatkan gedung awal di Jl. Hayam Wuruk dan satu orang mendapat hak atas nama dagang Warung Tinggi. Saudara-saudara yang lain mendapatkan warisan uang. Pewaris nama dagang lalu membuka gerai Koffie Warung Tinggi, sedangkan pewaris gedung awal lalu membuka gerai-gerai kopi modern dengan nama lain: Bakoel Koffie. Merk itu dipilih berdasarkan sejarah penting: selama puluhan tahun Liauw Tek Soen membeli biji kopi dari wanita yang membawanya dengan bakul.

Interior bergaya kenangan kedai jaman Belanda
Interior bergaya kenangan kedai jaman Belanda | © Fransisca Agustin
Smoking area yang mewah dan luas, dengan pigura foto-foto kejayaan masa lalu
Smoking area yang mewah dan luas, dengan pigura foto-foto kejayaan masa lalu | © Fransisca Agustin

Koffie Warung Tinggi Grand Indonesia. Perabot mengkilat bernafaskan kenangan masa lalu memenuhi ruangan. Pigura foto-foto masa lalu. Kursi kayu dan sofa mewah, serta smoking room yang luas dan berkelas. Kami memesan signature KWT Affogato dan Salted Caramel Latte (yang ini karena diberi tanda bintang). Plus salah satu menu favorit di review rakyat: martabak manis. Kami pilih rasa Toblerone. Martabak rasa modern.

Gerai itu termasuk ramai untuk ukuran Minggu pukul 9 malam ketika kami datang. Beberapa review ada yang memuji habis-habisan, ada juga yang mengeluh menu kue cubit yang gagal dan kopi yang kemanisan (di samping harga yang hiperbolik untuk kualitas rasa dan porsi yang kecil). Mungkin pegawainya terlalu sering ganti, sejak 2 tahun mereka buka. Menurut kami, kopi berbintang mereka rasanya terlalu karamel sirup. Kami mengharapkan karamel buatan barista, langsung dari gula yang dipanaskan. Kopi affogato nya enak, tapi saya kira karena dibantu segelas besar es krim vanila. Martabak Toblerone… enak, tapi sangat kecil untuk harga demikian. Di Bandung bertebaran martabak sangat enak dengan harga setengahnya.

KWT Affogato (Rp 38.000)
KWT Affogato (Rp 38.000) | © Fransisca Agustin
Salted Caramel Latte (Rp 43.000)
Salted Caramel Latte (Rp 43.000) | © Fransisca Agustin
Martabak Toblerone Mini Size (Rp 55.000)
Martabak Toblerone Mini Size (Rp 55.000) | © Fransisca Agustin

Warung Tinggi bolehlah kita puji karena sanggup bertahan sukses 5 generasi dalam 138 tahun terakhir, dan cerdik dalam inovasi konsep termutakhir. Tapi gerai ini terasa dingin. Tak ada sentuhan kehangatan keluarga dan sahabat.

Para pegawai tidak mengerti apakah biji kopi jantan yang mereka jual lebih dari 200.000/ 250 gr itu 100% kopi jantan, atau dicampur arabika biasa (karena saya lihat bijinya ada yang besar dan tidak bulat). Salah satu pelayan perempuan yang saya tanya apakah Warung Tinggi di lokasi asli masih beroperasi, malah memandang saya dengan heran, lama, lalu bertanya lagi, memandang saya lagi, sebelum mengangkat bahu.

Pilihan coffee beans yang dijual kiloan, termasuk kopi jantan dan kopi betina
Pilihan coffee beans yang dijual kiloan, termasuk kopi jantan dan kopi betina | © Fransisca Agustin
Deretan alat manual brew
Deretan alat manual brew | © Fransisca Agustin

Saya kira, semua orang bisa sekolah tinggi di luar negeri dan belajar ilmu pemasaran, tapi tak ada sekolah yang bisa mengajari bagaimana caranya membangun kehangatan dan keakraban. Ya, seperti juga banyak survival perantau Tionghoa, kami terlatih hidup efektif dan efisien dalam keseharian, namun canggung dalam afeksi. Saking terbiasanya, sepertinya mengalir dalam darah kami. Kami wariskan kutukan ini pada anak cucu, selain juga air mata tragedi warisan harta dan usaha.

Fransisca Agustin

Pemusik kuli yang masih terus berusaha menggabungkan antara jurus-jurus Kungfu Hustle dengan David Foster.