Klotok… Klotok…

Kalau belum bisa bikin kopi, seseorang belum bisa menguasai dirinya sendiri.

Kalimat di atas keluar dari mulut Kacir, yang waktu itu menggendong anak bayinya yang baru berusia 5 bulan. Saya menunggu pria berambut gondrong yang datang hampir 30 menit di warungnya yang ramai ini. Saat ia datang, kedua tangannya sama-sama memegang kantong berukuran besar. Ia tergopoh-gopoh menyalami saya.

Di luar sana gerimis kecil turun perlahan, menyisakan dingin sekalipun saya telah merangkapi baju. Setelah melihat seluruh daftar menu, saya menjatuhkan pilihan pada Kopi Klotok Madu. Amboi…, saya sudah membayangkan yang hangat-hangat.

“Setahun setelah selesai kuliah, saya bikin warung ini. Tahun 2007-an. Waktu itu bertiga,” ujar pria bernama asli Nasrur Rohman menceritakan awal mula Warung Sego Macan dan Kopi Klotok, “Saya kan dari komunitas seni, teater, kami suka ngopi. Nah kebetulan ketemu orang yang mau investasi. Jadi Kopi Klotok.”

Warung Sego Macan dan Kopi Klotok
Warung Sego Macan dan Kopi Klotok © Eko Susanto

“Kopi Klotok itu sudah banyak ya kalau di Jawa Timur, saya juga bikin Jawa Timuran, tapi waktu itu, di sini barangkali ini yang pertama,” ia melanjutkan penjelasan sambil menimang bayi mungilnya, “Teknik membuatnya, air sama kopi saya didihkan bersamaan di panci, nanti baru dituang di cangkir. Ketika mendidih itulah muncul bunyi ‘klotok… klotok…’ yang jadi asalnya.”

Kopi Klotok banyak ditemukan di daerah Jawa Timur. Untuk porsi besar, penyajian Kopi Klotok lebih simpel dibandingan kopi umumnya. Yakni dengan mencampurkan bubuk kopi ke air di dalam teko, baru kemudian campuran air kopi tersebut dipanaskan hingga mendidih. Setelah mendidih, baru kemudian campuran seperti gula, susu, atau rum ditambahkan.

Di luar Indonesia, gaya memasak model ini dikenal sebagai Turkish style. Metode memasak kopi yang digunakan nyaris sama.

Saya kemudian menyesap sedikit kopi yang sudah ada di meja kami. Hmmm… aroma menusuk hidung dan rasanya langsung menyengat pangkal tenggorokan saya. “Belakangan, baru kepikiran untuk menambahkan rum. Tapi sedikit, mas, takarannya cuma 1/8 kopi. Cuma buat aroma dan biar hangat,” katanya ketika melihat mata saya terpejam setelah sruputan pertama.

Rum sendiri dikenal sebagai alkohol klasik. Didapatkan dari hasil fermentasi tebu. Usahawan gula biasanya punya usaha sampingan memproduksi rum. Ada dua jenis rum yang biasa dipakai untuk campuran. Rum putih untuk campuran minuman, seperti cocktail dan kopi, dan yang berwarna kuning emas untuk masakan.

Sepanjang percakapan kami, Kacir terus menepis anggapan bahwa warungnya adalah tempat mabuk. Barangkali memang ini risiko bisnis yang musti diatasi oleh Kacir dan timnya dulu. Karena sesedikit apapun penambahan rum ke cangkir ngopi, pasti akan menambahkan pula stigma negatif yang diberikan oleh masyarakat. Akhirnya ia memperoleh ide cantik dan berhasil menerapkannya.

“Sampai 5 bulanan jalan, yang jadi brand utama masih Kopi Klotok, tapi terus saya kepikiran untuk bikin brand lain. Waktu itu juga saya mikir, Kalau pengunjung lapar, masak mau keluar? Memang waktu itu kita sudah ada snack, gorengan kecil-kecil, tapi menurut saya itu masih kurang,” kenangnya.

“Akhirnya kita bikin Sego Macan, jadi konsepnya sama seperti sego kucing angkringan, tapi porsinya kita tambah, sambelnya bikin lebih pedas. Jadi Sego Macan. Di bulan kelima warung ini buka, sekitar Mei 2007, brandingnya jadi Sego Macan, sampai sekarang.”

Apa yang dikatakan oleh Kacir benar, ketika saya dan beberapa orang yang datang ke warung ini, mereka lebih ingat Sego Macan dibanding Kopi Klotok. Ditambah lagi, tanda pengenal warung berupa spanduk yang dipajang di depan bertuliskan ‘Sego Macan’.

* * *

Jika diamati, warung Sego Macan dan Kopi Klotok yang terletak persis di seberang Fakultas Peternakan UGM ini teramat sederhana. Kalau sedang penuh, warung ini hanya sanggup menampung sekitar 75 orang. Itupun setelah Kacir menyiasati keterbatasan tempat dengan memberi alas anyaman (kloso) di trotoar depan. Sekaligus, memberi pilihan kepada para konsumen, memilih duduk atau lesehan.

Di dalam warung, ada dua ruang utama. Ruang pertama berisi sekitar 8 meja yang dibagi menjadi dua baris. Sedangkan ruang kedua poisinya lebih rendah dibanding ruang pertama, kapasitasnya juga lebih sedikit, sekitar 6 set meja dan kursi. Hanya ada sisa sedikit ruang di antara meja-meja yang berjajar.

Warung Sego Macan dan Kopi Klotok
Suasana Warung Sego Macan dan Kopi Klotok © Eko Susanto

“Konsep awalnya memang sederhana, mas. Sederhana banget. Angkringan yang sederhana. Karena kalau dibuat mewah, nanti orang mikir, “Ini pasti mahal”. Jadi saya buat sederhana,” tutur Kacir mengonfirmasi.

Tapi situasi sekarang dan dulu berbeda, itu yang saya tangkap dari warung ini. Sekarang, saat saya duduk di warung ini, Warung Sego Macan dan Kopi Klotok ini begitu ramainya. Beberapa pengunjung bahkan tidak mendapat tempat di dalam. Sehingga terpaksa harus menyantap hidangan mereka di luar, sekalipun hujan baru saja datang dan membasahi sekitar lesehan. “Nah kalau mau hujan begini ya mentok, mas. Gak bisa masuk,” tutur Kacir.

Oleh karena itu Kacir dan awaknya sedang mempersiapkan rencana yang nampaknya akan segera dieksekusi. “Penambahan space. Masih dalam rangka pembicaraan, dan tentu pengumpulan dana. Ini yang sangat menjadi kegelisahan saya,” ujarnya. Kacir melanjutkan, kalau jadi diperluas, ia akan menggunakan bagian belakang.

* * *

Sebagai alumnus dari sebuah kelompok seni, ia tak lupa memberi sentuhan artistik ke warungnya ini. Untaian lampu yang berada di antara ruang pertama dan kedua. Selain itu, Kacir juga sesekali mengajak kawan-kawannya untuk mengadakan acara musik atau performance art di sini.

“Pernah akustikan, di situ (sambil menunjukkan sudut ruangan pertama). Jadi kita kosongkan dua meja untuk peralatan musiknya. Kalau main (art performing), ya di luar. Biasanya di sekitar lesehan itu,” jelasnya, “pernah juga ada pameran. Jadi karya-karyanya kita gantung di sela-sela ruangan ini. Lampunya kita ambil dulu. Terus di dinding-dinding. Ya dimana saja yang bisa diisi.”

Ketika saya tanya apakah acara-acara bernuansa kesenian tersebut memiliki jadwal yang pasti, Kacir berpikir sejenak lalu mengatakan tidak. Nampaknya ia punya pertimbangan tertentu kenapa tak membuatnya rutin.

“Acaranya gak mesti, mas. Kadang dua atau tiga bulan sekali. Saya memang sengaja gak bikin rutin. Takut malah ganggu (pengunjung) regulernya. Jadi insidental saja.”

Warung Sego Macan dan Kopi Klotok
Barista Warung Sego Macan dan Kopi Klotok © Eko Susanto

Menjaga konsistensi pengunjung adalah prinsip utama Kacir dalam membuka usaha. Dari prinsip ini, Kacir sudah mampu mengembangkan warungnya alias membuka cabang.

Warung Sego Macan dan Kopi Klotok sudah memiliki 2 cabang. Pertama di daerah Timoho, yang ia sebut Sego Macan II. Kedua, Sego Macan III yang terletak di Nologaten, kawasan yang memang terdapat banyak sekali kafe dan warung.

“Kalau Sego Macan II yang di Timoho itu satu manajemen dengan sini. Itu dibuka setelah sini jalan sampai 2009. Saya sendiri yang pegang. Nah teman saya dulu, yang pertama kali buka bertiga, salah satunya kan sibuk, yang satu lagi pegang Sego Macan III di Nologaten yang buka tahun 2010. Jadi mereknya sama, manajemennya beda,” ujar Kacir menjelaskan perkembangan warungnya.

Demi menjaga konsistensi pengunjung Kacir terus berusaha mengevaluasi menu. Setiap 3 bulan sekali, ia dan timnya akan memodifikasi menu yang kurang diminati pengunjung.

Menu andalan warung ini, Kopi Klotok dan Sego Macan, tentu saja berada di barisan terdepan untuk terus dikembangkan. Saya melihat ada berbagai macam varian dari keduanya. Terhitung ada 5-6 varian untuk setiap menu tersebut. Di sudut daftar menu yang berbeda, saya melihat ada pula ketan dengan berbagai rasa.

Dengan variasi menu dan kesederhanaan tempat, Sego Macan dan Kopi Klotok mampu mengundang hingga 200 orang tiap hari. Jika penuh, seperti diakui Kacir, orang yang berjejalan di dalam dan lesehan mampu mencapai angka 70an orang. Maka tak heran kalau Kacir dan warungnya menghabiskan sekitar 2 kilogram kopi setiap hari.

* * *

Brakkk!

Tiba-tiba sebuah hantaman terdengar nyaring di telinga kami semua yang ada di dalam warung. Suara itu berasal dari luar. Kacir secepat kilat memberikan bayi yang ia gendong ke istrinya yang ada di meja kasir. Ia lalu pergi keluar warung. Saya mengikutinya dari belakang, penasaran dengan ada peristiwa apa di luar.

Ternyata di seberang jalan ada kecelakaan. Seorang pengendara sepeda motor menabrak mobil yang diam di pinggir jalan. Kacir bergegas menuju pengendara motor tersebut. Saya tidak. Saya masuk ke dalam.

Hampir satu jam saya tunggui Kacir untuk melanjutkan ngobrol. Tapi sampai gerimis turun beberapa saat setelahnya pun, pria ini tak muncul-muncul lagi. Akhirnya saya putuskan untuk pulang, setelah menyesap habis kopi di depan saya, Kopi Klotok, untuk menahan dingin kalau saja hujan benar-benar menjadi deras.

Belakangan saya tahu, kalau mobil yang ditabrak semalam adalah mobil milik Kacir.

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Arys Aditya

Penerjemah lepas dan sampai sekarang bergelut di Kelompok Belajar Tikungan Jember, Jawa Timur.