Kisah Kasih di Kupi Sareng

Kupi Sareng
Kupi Sareng © Anggara Gita

“Kamu mau aku sakit ya?”

Suara Ritma terdengar nyaring sekali. Rasa-rasanya pengendara lain yang ada di sekitar kami juga mendengarnya. Aku segera mengurangi kecepatan motor bebek milik ayahku yang sedang kukendarai, lalu menghentikannya tepat di seberang sebuah kedai kecil bernama Kupi Sareng.

Gerimis yang tiba-tiba turun, memaksaku untuk mencari tempat berteduh. Aku lupa membawa jas hujan, dan Ritma paling tidak suka kehujanan. Saat itu hari mulai gelap, segelap hubungan kami dari hari ke hari. Aku dan Ritma memang berjanji membicarakan kelanjutan hubungan ini di rumah makan favorit kami, namun hujan mengubah segala rencana.

Akhirnya saya memutuskan, menunggu hujan reda di Kupi Sareng, kedai yang letaknya paling dekat dari tempat kami berteduh. Awalnya aku kira tempat ini rumah makan. Dari seberang jalan sebetulnya terbaca jelas tulisan Kupi Sareng, Rajanya Kopi Tradisional, dengan gambar kopi di bagian pinggir spanduk. Namun tepat di bawah spanduk itu, terdapat gerobak dengan tulisan mie aceh. “Warung kopi atau warung mie, ya?” pikirku saat itu.

“Agak susah ya hanya untuk memutuskan berteduh atau tidak, padahal jelas-jelas hujan dan pergi bersama perempuan?” Ritma protes, sambil meletakan helm di kaca spion.

Aku enggan menjawab karena tahu bakal panjang ceritanya jika membantah ocehan tersebut. Lagipula memang salahku yang sampai membutuhkan waktu 15 menit hanya sekadar menentukan tempat berteduh. Sebenarnya aku hanya ingin memastikan mendapat tempat yang nyaman untuk bercakap-bercakap.

* * *

Kupi Sareng
Kupi Sareng menggunakan teras sebuah rumah berukuran besar untuk dijadikan kedai mereka. © Anggara Gita

Nazaruddin mempersilakan kami masuk dan menawarkan beberapa opsi pilihan tempat duduk. Kupi Sareng menggunakan teras sebuah rumah berukuran besar di daerah Taman Galaxy, Bekasi, untuk dijadikan kedai mereka. Bagian tengah teras diisi dengan beberapa tempat duduk untuk pengujung, kemudian pada sisi-sisi teras, terdapat meja kasir, tempat untuk meracik kopi, dan juga tempat untuk memasak mie aceh. Selain kopi, kedai ini juga menjual mie aceh dan martabak.

Kalau tidak silap, banyak tersedia tempat duduk di sepanjang halaman rumah tersebut, namun tidak terlindungi oleh atap. Tentu aku memilih tempat duduk yang berada di dalam teras, agar tidak kehujanan.

Nazaruddin, adik dari sang pemilik kedai, menyodorkan daftar menu, dan kemudian berdiri tepat di samping Ritma, menunggu kami menentukan pilihan.

“Aku mau pesen mie aceh, kamu mau juga?” tanyaku pada Ritma, sambil menekuni daftar menu.

“Enggak mau. Aku roti canai aja,” jawabnya ketus.

“Minumnya mau apa?”

Mendengar pertanyaan ini Nazaruddin dengan sigap menjelaskan apa-apa saja yang tersedia di kedainya. Kebetulan, aku juga asing dengan nama-nama kopi yang ada di daftar menu.

Kopi sareng, kopi ulee kareng, kopi balik, dan kopi-kopi lain yang tersedia di Kupi Sareng dijelaskan oleh Nazaruddin satu per satu. Sayangnya aku tidak dapat mengingat semua yang ia jelaskan. Saat itu aku benar-benar sedang tidak fokus. Terlalu banyak hal remeh-temeh yang harus aku pikirkan, termasuk soal hubungan aku dan Ritma.

Yang paling aku ingat saat itu hanya tentang kopi balik. Untuk membuatnya, cangkir kopi harus dibalik. “Gelasnya harus ditelungkupin,” ujar Nazaruddin dengan logat Aceh yang masih sangat kental.

Kupi Sareng
Mie aceh & kopi sareng © Anggara Gita
Kupi Sareng
Roti canai pisang & es kopi saring susu. © Anggara Gita

Nazaruddin berasal dari Aceh, dan datang ke Jakarta, tepatnya Bekasi, untuk membantu abangnya menjalankan kedai ini. Ketika aku bertanya lebih lanjut tentang kopi-kopi yang disediakan di sini, ia enggan menjawabnya. Ia berkelit bahwa pengetahuan kopinya masih sedikit, dan akan lebih baik jika aku bertanya kepada sang abang. Masalahnya, sang abang sedang tidak ada di tempat. Lantas Ia menyarankan aku untuk membuka kupisareng.com, bila ingin tahu lebih dalam tentang kedainya. Hanya saja situs tersebut masih dalam tahap pengembangan ketika aku membukanya.

Saya memutuskan untuk memesan kopi sareng sebagai teman makan mie aceh rebus seafood. Hujan-hujan, mie rebus, dan kopi hitam. Aku rasa itu sempurna sekali, sampai akhirnya terdengar Ritma nyeletuk, “Saya es kopi susu ya, mas.”

“Di sini gak ada es kopi susu, mbak. Adanya es kopi saring atau kopi latte.”

“Ya kan tinggal ditambahin susu aja. Pake susu kental manis yang biasa untuk martabak gapapa, kok, mas.”

Ya begitulah Ritma, keras kepala. Namun kali ini keras kepalanya sedikit berbeda. Biasanya ia selalu kekeuh memesan makanan atau minuman yang sama denganku, namun hari ini tidak. Roti canai dan es kopi saring susu. Entah terinspirasi dari mana sampai ia memesan itu.

Aku dan Ritma duduk berhadap-hadapan di sebuah meja kecil untuk dua orang, tepat di depan meja kasir. Posisi tempat dudukku mengarah ke Reza yang sedang meracik kopi sareng, pesananku. Aku lihat dia menyaring kopi itu beberapa kali.

Aku lupa menanyakan nama alat yang ia gunakan untuk menyaring kopi pesananku, tapi yang jelas bentuknya menyerupai jala ikan. Setelah beberapa kali disaring, Reza mengangkat tinggi-tinggi jala tersebut agar lebih mudah mengarahkan tetesan kopi dari jalanya ke arah cangkir.

Di sini, kopi selalu dipanaskan setiap saat. Kopi tersebut dimasukan ke dalam wadah berisi air, kemudian diletakkan tepat di atas arang. Menurut Nazaruddin, kopinya akan terasa asam jika tidak panas.

Kupi Sareng terletak di perumahan Taman Galaxy, dan memang sengaja dipilih lokasi ini, karena belum ada yang menjual kopi khas Aceh di perumahan elit tersebut. Salah seorang teman abangnya Nazaruddin yang merekomendasikan lokasi ini. Oh ya, aku melihat setidaknya ada lima kedai kopi di perumahan Taman Galaxy ini. Kelima kedai tersebut selalu ramai tiap malam.

Kupi Sareng baru buka pukul dua siang sampai 12 malam, berbeda dengan kedai kopi lainnya yang berani membuka kedai sedari pagi.

“Percuma, mas, kita buka dari pagi. Orang-orang sini kalau pagi pada pergi ke kantor, jadi gak akan ada yang sempat ngopi di tempat kami. Mending kami buka dari siang aja,” jelas Nazaruddin sambil membawa pesananku.

“Loh pesanan saya mana mas?” gerutu Ritma. Mulutnya mulai membentuk kerucut. Manyun.

“Ini baru mau saya buat, mbak” jawab Mas Nazaruddin.

Jika tadi yang meracik kopi saya adalah Mas Reza, kini yang meracik kopi saring susu untuk Ritma adalah Nazaruddin.

“Sengaja gak saya buat terlalu manis ya, mbak,” ujar Nazaruddin sambil menuang kopi dari satu wadah ke wadah lainnya berganti-gantian. Gayanya seperti sedang membuat teh tarik. Ritma sepertinya penasaran. Ia menghampiri Nazaruddin untuk melihat lebih dekat.

Hanya sebentar saja, lantas ia berpaling ke sebelah kiri. Rupanya ia lebih tertarik menyaksikan salah seorang juru masak yang sedang membuat martabak. Adonan diputar di udara, kemudian di banting ke meja. Diputar kembali, lalu dibanting lagi. Terus seperti itu sampai adonannya melebar dan tipis. Ia takjub, mengapa adonan tersebut tidak lengket pada meja. Suatu saat nanti ia harus belajar memasak agar tau bahwa meja tersebut sudah ditaburi minyak agar tidak lengket.

Kupi Sareng
Kopi sareng dan biji kopi yang tersedia di Kupi Sareng. © Anggara Gita
Entah mengapa Nazaruddin terlihat begitu antusias dengan kedatangan kami. Setelah menghidangkan pesanan Ritma, ia berjalan cepat menuju toples-toples tempat penyimpanan kopi, mengambilnya beberapa biji, kemudian menunjukkannya kepada saya.

“Ini kami bawa dari Aceh semua. Mas suka makan biji kopi gak? Coba rasain deh, rasanya beda-beda.”

Saya coba beberapa sambil mendengarkan Nazaruddin menjelaskan biji kopi tersebut satu per satu. Ini pengalaman pertama saya mengunyah biji kopi. Ternyata ngemil biji kopi, enak juga ya.

* * *

Aku hanya menghabiskan uang sebesar Rp 67.000, untuk kopi sareng, es kopi saring susu, mie aceh seafood, dan roti canai pisang. Relatif murah, atau bahkan sangat murah untuk ukuran ngopi dan makan sebanyak itu. Selain kopi luwak original (Rp 20.000) dan kopi latte (Rp 30.000), harga kopi-kopi di Kupi Sareng hanya belasan ribu saja. Sekali lagi, ini murah.

“Kapan-kapan kita ke sini lagi ya. Aku penasaran sama kopi telur.” Aku berusaha mencairkan suasana. Kurang lebih satu jam sudah kami makan bersama, tanpa bercakap-cakap. Tanpa saling tatap.

Tapi memang aku penasaran dengan kopi telur di Kupi Sareng. Nazaruddin berkisah bahwa di Aceh tidak ada yang mimun teh telur. Di sana lebih terkenal kopi telur. Dan bahkan, teh telur pun aku baru mendegarnya sekarang ini.

“Enggak ah. Aku gak mau ke sini lagi,” Ritma menolak ajakan basa-basi dariku

“Mulai besok, kita gak usah ketemu lagi. Chatting dan telepon seperlunya saja, Pokoknya aku gak mau berduaan lagi,” teriak Ritma kesal.

“Kamu kenapa sih?” tanyaku, berlagak tidak terjadi apa-apa.

“Enggak. Aku gak apa-apa. Dan memang tidak pernah ada apa-apa di antara kita. Selama ini hanya have fun seperti yang kamu inginkan. Aku capek menjalaninya. Aku ingin pria yang berani berkomitmen.”

Anggara Gita Arwandata

Perakit balon di @nf.nellafantasia dan perajut kata di @kedaikataid.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Yo salam kenal gw baru tahu ada blog ini dari temen yg telah men”share” artikel yg berjudul “FUNDAMENTALIS KOPI YANG SEBAIKNYA TIDAK ANDA IKUTI” di Facebook.Gw suka blog ini meskipun jujur aja gw belum bisa disebut pecinta kopi tapi lebih ke penikmat kopi. Kopi biasanya gw jadiin temen ketika gw lagi kerja,main game atau penjaga mood.
    Untuk Kupi Saring gw udah lumayan sering nongkrong disitu bersama saudara2 gw, yg paling sering sih sama kakak ipar gw. Kakak ipar gw itu kerja di Papua dan sekali2nya pulang ke Bekasi maunya langsung pengen jalan2 ama jajan, maklum serasa baru keluar dari rimba.
    Pertama kali ke Kupi Sareng juga bersama dia dan kakak perempuan gw. Ada kesan unik buat gw sendiri karena biasanya kedai kopi yg sering gw datengin selalu bergaya western atau cafe oriented dimana selain menawarkan kopi juga ada makanan2 cantik untuk menemani dengan harga yg cukup bikin dompet gw ringan.Jarang ada kedai kopi yang bagus bernuansa tradisional seperti Kupi Sareng khususnya di Bekasi(kalau ada berarti gw yg kurang jalan2).
    Kopi pertama gw pesan adalah Kopi telurnya, kesan dengan kopi ini…. hmm gw gak bisa terlalu jabarkan melalui tulisan selain memang kopinya emang enak tapi menurut gw kopi ini lebih nikmat bila diminum pada waktu sarapan sambil makan roti bakar.
    Menu makanan Favorit gw di Kupi Sareng adalah martabaknya yang entah kenapa menurut gw bentuknya lebih mirip telur dadar tapi enak! apa lagi ada semacam kuah gulainya.
    So far menurut gw Kupi Sareng adalah tempat yg lumayan nyaman untuk dijadiin tempat nongkrong khususnya bila lu mo berniat ngajak orang tua lu karena menu2 yang ada cocok dengan selera mereka.

  • eh sori ini bukan blog ya! sori… sori….

    • Hehe, weblog nih kakak.
      Btw, boleh loh pengalaman-pengalaman ngopinya dibagi di minumkopi.com
      Situs santai ini mah, gak terlalu serius-serius amat. Bukan jualan alat-alat, kopi dan juga bukan portal berita.
      Jadi mari ikut berkontribusi.
      Salam Seruput!

  • Hai Mas Grey…

    Gimana kesan-kesannya setelah film 50 Shades meledak di pasaran? huehue

    Oh ya, rumahnya di sekitaran Kupi Sareng juga kah? Bolehlah ngopi-ngopi bareng.. Hehehe.. Nanti kita kirim cerita ngopi-ngopi kita ke Minum Kopi. Adminnya baik-baik.. Suka ngasih buku. Hehe…