Kisah Haru di Balik Bola-bola Hijau Manis

Klepon
Klepon // Sumber: menjualkerupuk.com

Setiap kali melihat jajanan tradisional klepon aku selalu teringat masa lalu yang masih tersimpan rapi di kepala. Aku terpaku melihat ibu penjual jajanan bola-bola hijau manis itu melayani para pembeli dengan senyum cerah di mukanya. Aku berdiri di pojok pagar pasar tradisional di daerahku menyaksikan kejadian singkat itu dengan perasaan iba.

Ibu termasuk yang pintar dalam membuat jajanan tradisional, termasuk klepon. Kemampuannya membuat kue tradisional kemudian ditularkan pada kakak perempuanku. Ketika masih duduk di bangku kelas 4 SD, aku sudah diperkenalkan cara membuat jajanan manis ini.

Aku teringat ketika suatu hari di rumah sedang ada acara hajatan tadarus qur’an, Ibu menyajikan kue hijau ini sebagai sajian pembuka. Para jama’ah yang umumnya kaum hawa terlihat begitu antusias menikmati klepon buatan Ibu. Mereka saling berkomentar satu sama lain sambil menikmati klepon.

“Alhamdulillah, ibu-ibu pada suka, Nduk”.

“Enggeh Bu, itu karena kue buatan Ibu enak”.

Selepas acara di rumah itu, salah satu tetangga sebelah kemudian memanggil Ibu. Keduanya terlibat perbincangan yang serius. Entah apa yang diperbincangkan, aku hanya melihat dari sudut pintu ruang tengah. Beberapa menit berlalu, Ibu menghampiriku dengan senyum merona. Ternyata Ibu ditawari memasok jajanan tradisional untuk kantin sekolah dasar dekat rumahku. Hal itu dilakukan supaya anak-anak SD lebih mengenal jajanan tradisional yang alami dan sehat bagi kesehatan mereka.

Hari berikutnya, Ibu mulai membuat klepon. Karena pembuatannya lumayan rumit dan memerlukan waktu, Ibu biasa memulainya seusai sholat shubuh. Bahan-bahan disiapkan: mengaduk adonan, mencetak hinga berbentuk bulat, kemudian diisi dengan irisan gula merah. Bagian ini yang paling aku suka, menambah irisan gula merah di tengah adonan yang diberi bulatan. “Bisa nyicipin gulanya juga, hehe”, kataku dalam hati. Ibu hanya geleng-geleng ketika ulahku beraksi.

Tapi entah di suatu ketika Ibu memutuskan untuk tidak menyetok kembali klepon di sekolah. Bangun sebelum fajar menyongsong dan mulai beradu cepat dengan terbitnya matahari untuk membuat satu wadah klepon, dirasa sangat capek baginya.

“Maklum nduk, usia Ibu sudah tidak muda lagi,” pikirnya.

“Ibu istirahat aja nggeh, kalau pengen baru buat lagi, nanti aku bantu. Bantu makan gulanya hehe,” kataku terkekeh.

Ibu tertawa geli melihat ulahku yang menggemaskan sambil mencubit pipi tembemku.

Di suatu senja berteman gerimis, Ibu bercerita padaku tentang hobinya membuat kue klepon. Resep itu ia dapatkan dari mbah perempuanku. Sewaktu kecil Ibu sering membantu Mbah di dapur untuk sekadar mengupas bawang atau mengambilkan barang yang diperlukan Mbah ketika memasak.

Pagi-pagi sekali usai sholat shubuh, Ibu sudah menunggu Mbah sembari mencuci piring kotor bekas makan malam. Dengan mengenakan tudung kepala, Mbah berjalan pelan-pelan dengan membawa sayur dan lauk untuk di masak. Dengan sigap Ibu membantunya mengolah bumbu masakan.

Ketika Ibu membuka kresek hitam di sampingnya, ia sumringah. Ternyata ketela rambat yang Mbah petik di belakang rumah. Ibu mencuci dan mengupasnya. Mbah ikut memotong dan mulai membuat klepon Jawa khas mbah. Aroma pandan menusuk hingga ke tetangga sebelah. Mbah memang menggunakan aroma alami agar rasanya tetap terjaga. Bola-bola dibentuk dan ditambah dengan parutan gula merah. Kemudian dikukus hingga beberapa jam.

Bau wangi khas tercium sampai ruang tamu. Tanda kue hijau ini siap diangkat dan ditiriskan. Ibu mulai menyiapkan wadah nampan dan mbah mengangkat panci besarnya. Setelah semua klepon masuk pada nampan, giliran Ibu yang menyiapkan hiasan perasa gurih di atasnya yang tidak lain ialah parutan kelapa. Mbah mulai sibuk membersihkan dapur dan menata sarapan pagi.

Akhirnya semuanya telah siap saji. Mbah meminta Ibu mengantar sedikit klepon untuk tetangga sebelah yang sempat mencium manisnya klepon buatan mbah. Alhamdulillah mereka menyukainya dan ingin belajar membuatnya bersama mbah.

“Mungkin itu sedikit kisah yang Ibu bisa ceritakan kepadamu, Nduk,” Ibu bercerita dengan mata berkaca-kaca.

“Enggeh Buk,” ucapku lirih.

Selepas Ibu bercerita ia hanya bisa mengenang selama bersama Mbah. Kini ia tak bisa cekatan lagi dalam mengolah dan membuat resep-resep buatan Mbah. Semua itu tinggal kenangan yang indah terbungkus rapi dalam album perjalanan hidupnya. Resep itu ia berikan kepada kakak perempuanku. Walau rasanya tidak seenak buatan Ibu aku tetap menyukainya.

Menetes air mata ini tatkala aku mengingat semua itu. Sudah lama aku tak makan kue kesukaan ibu dan ibu yang membuatnya. Memang berbeda rasa dan teksturnya ketika aku mencoba membelinya di pasar tradisional. Buatan ibu terasa sekali ketelanya, bentuknya lebih besar, aroma dan rasanya alami tanpa pemanis buatan.

Selagi memang ada kesempatan untuk melakukan apa yang ada di depan mata, maka segeralah untuk melakukannya. Karena kesempatan itu hanya sekali datang dan ia tak akan kembali dengan membawa kesempatan yang sama dengan yang pertama.

Heni Rahmayanti

Mahasiswi Bahasa dan Sastra Inggris UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Suka menulis puisi, membaca novel, desain foto dan berenang.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405