Kisah dari Sang Pendengar dan Warung Kopi Sang Manager

Sebagai sebuah band indie di kota kecil pinggiran Jawa Timur, usia sembilan tahun mungkin hanyalah kisah remah-remah yang sepintas lalu. Apalagi bila artikel ini dibaca oleh pembaca di kota-kota besar yang katanya berhati nyaman. Meski begitu, bagi yang ada di dekat mereka dan melihat prosesnya sedari awal, rasanya ingin nangis mengingat bahwa sudah mencapai usia sembilan tahun. Usia yang dicapai dengan tubuh koyak-koyak, luka, jatuh, bangun, jatuh lagi dan berusaha bangkit. Seperti itulah mungkin gambarannya.

Band ini bernama Tamasya. Bukanlah sebuah nama yang diciptakan untuk tujuan komersialisme. Dari namanya saja, jika dilihat dari segi marketing jauh sekali dari kata payu. Kata ini lebih menghasilkan jika dipakai untuk usaha tour dan travel. Namun, mereka tidak berpikir sampai membuat sesuatu yang seperti itu. Lahir hampir di penghujung September 2007 di bawah naungan payung jingga di pelataran sekretariat SWAPENKA (salah satu Organisasi Pencinta Alam di Jember). Orang-orang yang resah berkumpul di bawah payung dengan aneka hidangan dan ‘minuman’ yang bermacam-macam, mengobrolkan segala hal dan kemudian memutuskan untuk membuat sebuah band. Tidak semuanya berlatar belakang pencinta alam, namun semua ada dalam satu lingkaran pertemanan yang sama.

Tamasya Live perform di WTC
Tamasya Live perform di WTC | © Zuhana AZ
Tamasya ketika latihan di WTC
Tamasya ketika latihan di WTC | © Zuhana AZ

Saya bukanlah pengingat yang baik, namun mereka adalah kawanan pencinta kenangan. Dalam foto, tulisan dan lagu-lagu yang diciptakan. Semua itu adalah upaya untuk mengingat atas apa yang telah dijalani selama ini. Mulai dari harga anggur kolesom (minuman jamu) tujuh ribu rupiah hingga naik menjadi sebelas ribu, dilewati dengan beragam cara. Kadang untuk merayakan kebahagiaan, duka, jatuh cinta dan patah hati. Tak terhitung lagi berapa jumlah uang yang dikeluarkan untuk memakmurkan perusahaan milik Mbah Jenggot ini. Mungkin bila dikumpulkan, botol-botol tersebut bisa disusun sedemikian rupa menjadi sebentuk bangunan monumen. Tapi, saya tahu, mereka bukanlah orang yang suka mengingat-ingat, apalagi mengikuti gagasan orang-orang anti rokok yang mengandai-andai bila uang rokok dikumpulkan bisa untuk naik haji. Uang yang sudah keluar ya sudahlah, tidak usah diandai-andai lagi. Untuk naik haji, itu urusan khusus dengan Tuhan.

Dalam perjalanannya, Tamasya kerap ditinggalkan oleh para sahabat yang menopang mereka dari awal. Entah untuk sebuah kematian maupun idealisme yang sudah tak sama lagi. Beberapa sahabat ‘pulang’ dalam sebuah momentum peristiwa yang menyedihkan. Kisah yang berulang dan tak bisa dicegah. Beberapa kawan pergi karena merasa sudah tidak sejalan dengan keadaan yang dirasa tidak menguntungkan. Kesibukan mulai berdatangan. Keluarga dan beberapa tuntutan hidup membuat beberapa di antara mereka saling berpencar. Tamasya mengawali debutnya saat semua personilnya berstatus lajang semua. Kini beberapa diantaranya sudah menikah dan beranak pinak. Ada pula yang mengalami perceraian, kisah sedih yang harus dihadapi. Masalah karya dan produktivitas tentu sedikit banyak berubah.

Bagi saya, seorang pendengar kisah, Tamasya bukanlah sebuah band yang mempunyai visi misi ndakik-ndakik membuat perubahan. Bagi mereka yang paling penting adalah, bagaimana sikap hidup harus seperti lagu-lagu yang dituliskan dan diperjuangkan. Kebutuhan hidup boleh datang dan pergi, namun kegelisahan haruslah dipelihara agar tetap berpikir waras. Yang tak suka, boleh pergi.

Bagi saya, lagu-lagu yang diciptakan oleh Tamasya ibarat judul buku milik Mas Puthut EA, Drama Ini Berkisah Terlalu Jauh. Ya, lagu-lagu mereka berkisah terlampau jauh. Cinta, persahabatan dan lingkungan campur aduk semua. Tapi biasanya tidak jauh dari kebiasaan ketika mereka berkelana di hutan ataupun puncak gunung. Ini tak lepas dari latar belakang sebagian personelnya yang pencinta alam. Beberapa lirik lagu yang mereka buat dan dendangkan membawa jalan dan kisah hidup yang juga jauh dari perkiraan. Yang mungkin tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Kisah hidup nano-nano penuh risiko yang tak disangka-sangka.

Kini harga anggur kolesom cap Orang Tua di atas lima puluh ribu rupiah, namun mereka tak lagi menikmatinya. Mungkin penjaga kios depan sebuah kampus berbasis pendidikan di Jember sudah semakin lupa pada wajah-wajah pelanggan setianya dulu. Perjumpaan-perjumpaan kini dihiasi dengan kopi hitam, jus buah atau hanya sekadar air putih. Orang boleh mencibir sedemikian rupa atas perjalanan mereka di masa lalu, tapi begitulah kehidupannya sekarang. Ngopi, pergi ke desa, mimpi menjadi petani hingga punya rumah yang berdiri bukan di lahan bekas sawah dan kerukan gumuk. Berusaha sesederhana dan seiring dengan lirik lagu yang diciptakan memang tidak mudah. Setidaknya, mereka belajar untuk menjalaninya.

Sebagian besar personilnya bisa menikmati kopi apapun dengan mudah. Tapi managernya, Mas Bebeh, mempunyai cita rasa yang cukup tinggi terhadap kopi. Dan juga calon pasangan hidup. Uhuk!

Manager Tamasya berkolaborasi dengan pembetot bass-nya, Yongki Loho, membuat sebuah warung absurd yang pernah saya lihat di Jember. Dari pemilihan namanya saja nampaknya sangat tidak konsisten dan jauh dari kata komersial. Bikin warung kok ya mau disamakan nasibnya kayak bikin band Mas! -_- Warung yang buka pertama pada 4 Februari 2015 sepakat dinamakan WTC (Warung ta Café). Pemiliknya galau, mau bikin warung atau café. Karena ada celetukan, “Sakjane sampeyan ape mbukak warung opo cafe seh Mas”, akhirnya disepakatilah celetukan yang iseng itu dibuat nama. Bisa dibayangkan, betapa gak jelasnya konsep awal pembuatan warung ini.

Awalnya, saya sendiri sedikit bingung karena menu-menu yang disajikan adalah ayam pedas, rawon, pecel dan aneka lalapan. Ada juga aneka macam minuman dan varian kopi. Mirip dengan warung-warung yang ada di terminal. Tapi bedanya, kopinya lengkap dan macam-macam, beda dengan warung terminal yang rata-rata menggunakan kopi deplokan dan kemasan.

Berpose bersama deretan ragam kopi milik WTC
Berpose bersama deretan ragam kopi milik WTC | © Zuhana AZ
Sefi salah satu favorit para pengunjung cewek ketika berkunjung ke WTC
Sefi salah satu favorit para pengunjung cewek ketika berkunjung ke WTC | © Zuhana AZ

Sekitar tiga bulan perjalanan WTC, pengunjungnya masih biasa dan lo lagi lo lagi. Akhirnya, entah pada bulan ke berapa mereka melakukan perombakan menu. Tidak ada ayam pedas dan rawon. Saya telat menyadarinya. Entah bagaimana Mas Bebeh melebarkan sayapnya di dunia perkopian, tiba-tiba waktu saya mengunjunginya, WTC sudah ramai sesak oleh pengunjung hingga kini. Macam kopinya juga semakin semarak. Tempatnya juga mengalami perombakan sedikit untuk memperluas area pengunjung. Hal ini tentu menandakan ada perubahan signifikan dari pertama dibuka. Siapa tahu, warung atau café yang punya nama absurd dan misi gak jelas ini sekarang menjadi sebuah tempat nongkrong lintas generasi dengan berbagai macam kepentingan. Diskusi, bedah novel, reuni anggota paduan suara, nobar bola atau motor GP dan studio dadakan untuk Tamasya latihan atau sekedar genjreng-genjreng. Hal ini tentu melampaui perkiraan saya. Nama dan misi yang absurd ternyata membawa hoki. Satu lagi, WTC bisa dijadikan jujukan untuk utang khusus kepada sang manager. Hehe..

Meski managernya punya warung kopi dan semua personilnya suka ngopi, namun jika kopi-kopi tersebut ditanam dengan membabi buta dan memakan sebagian besar wilayah resapan air maka Tamasya tetap akan bengok-bengok juga. Semoga warung Mas Bebeh selalu mensejahterakan petani kopi dan membunuh para tengkulak kopi yang mencekik. Keberadaan WTC sendiri masih terbilang baru dibanding masa hijrah para personil Tamasya dari anggur kolesom ke kopi. Meski begitu, tempat ini punya andil yang besar dalam perkembangan Tamasya mendiskusikan beberapa isu lingkungan yang terjadi di wilayah Jawa Timur.

Pemandangan sore dilihat dari teras WTC
Pemandangan sore dilihat dari teras WTC | © Jhon R Tambunan
Suasana WTC di malam hari
Suasana WTC di malam hari | © Jhon R Tambunan
Inilah foto sang manager dan pemilik warung WTC
Inilah foto sang manager dan pemilik warung WTC | © Zuhana AZ

Jika kebetulan singgah di Jember, silahkan mampir di WTC. Letaknya memang sedikit masuk. Lebih mudahnya, ketika sampai di perempatan jalan Riau, terus naik ke atas menuju arah Secaba. Sebelum kelokan sebuah perumahan, tengoklah ke kiri, di sana ada sebuah warung dengan ornamen orange. Di sanalah tempatnya. Bila berkunjung pada sore hari, kadangkala keberuntungan akan menghadirkan senja yang lumayan indah untuk menemani ngopi dan sedikit berbincang tentang keresahan. Kalau bertemu dengan lelaki berbadan subur, sedikit tampan dan memiliki wajah yang ramah, tolong sapa dia. Mintalah dia untuk membuat omlet sayur, percayalah bahwa itu makanan yang bisa membuat kalian tenang dalam menghadapi persoalan hidup.

Tulisan ini dibuat untuk memperingati usia Tamasya yang ke-9. Semua penulisan kisah ini saya dapat dari mendengarkan kisah-kisah mereka selama 9 tahun perjalanan. Salam saya, dari pendengar dan penulis kisah-kisah di atas ☺.

Zuhana AZ

Pendengar dan penulis kisah. Rakyat biasa, mencintai suami, kopi dan senja.