Kidung Harmoni dan Simbol Kesepian

Salah satu foto yang dipamerkan
Lihat Galeri
6 Foto
Salah satu foto yang dipamerkan
Kidung Harmoni dan Simbol Kesepian
Salah satu foto yang dipamerkan

© Thohirin

Pengunjung Pameran
Kidung Harmoni dan Simbol Kesepian
Pengunjung Pameran

© Thohirin

Foto dan Gaya
Kidung Harmoni dan Simbol Kesepian
Foto dan Gaya

© Thohirin

Sabung Ayam
Kidung Harmoni dan Simbol Kesepian
Sabung Ayam

© Thohirin

Hitam Putih
Kidung Harmoni dan Simbol Kesepian
Hitam Putih

© Thohirin

Belajar toleransi dalam pameran ini
Kidung Harmoni dan Simbol Kesepian
Belajar toleransi dalam pameran ini

© Thohirin

Semasa aliyah dulu, saya memiliki ketertarikan tersendiri pada dunia fotografi—jika tidak pantas dibilang hobi. Sama halnya menulis, menurut saya, fotografi bukan hanya soal bidik membidik. Ia butuh kepekaan. Kejelian. Dan tentu saja, mengajarkan kita tentang betapa pentingnya berada di posisi yang tepat dalam melihat sesuatu. Tahu kan akibatnya jika kita melihat sesuatu hanya dari satu sudut pandang? Mudah untuk menghakimi orang lain. Begitu pula dalam fotografi. Ia butuh sudut yang tepat agar sebuah objek menjadi gambar yang pas untuk dinikmati.

Barangkali karena itu, pernah di awal semester dulu saya sempat berencana masuk ke UKM fotografi. Ketertarikan itu bermula sejak saya aktif di ekstrakurikuler buletin mading sekolah semasa aliyah dulu; sejak menginjak tahun kedua, saya sering diminta mendokumentasikan beberapa acara di sekolah. Oleh teman-teman, beberapa hasil jepretan saya dinilai bagus. Berbekal pujian itulah saya merasa geer untuk masuk ke komunitas fotografi di awal masuk kuliah. Tapi entah karena alasan apa, saya akhirnya malah terjerumus ke UKM pers mahasiswa.

* * *

Hujan turun cukup deras sore itu. Usai meninggalkan kelas lantaran tak ada dosen, saya menyempatkan diri mampir ke pameran fotografi yang diadakan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidkom). Pameran itu diadakan di basement fakultas saya (Fakultas Ushuluddin dan Filsafat) yang kebetulan satu gedung dengan Fidkom. Hari itu, Selasa (22/3) adalah hari terakhir pameran itu digelar sejak dibuka pada Kamis (17/3) sebelumnya.

Tak banyak mahasiswa sore itu yang datang berkunjung ke pameran. Mungkin karena ini hari terakhir. Saya saja yang datang terlambat. Barangkali mereka sudah lebih dulu datang di hari-hari awal pameran fotografi ini dibuka.

Sambil menunggu hujan reda, sebagian besar mahasiswa lebih memilih duduk-duduk di luar ruangan pameran atau sekitaran basement. Saya melihat ada suasana tak biasanya di sore yang ditemani hujan itu: tak banyak para mahasiswa yang merokok. Maklum, belakangan peraturan merokok di kampus saya memang diperketat. Jika terbukti, maka akan kena denda Rp50 ribu. Sejak itu pula, beberapa mahasiswa yang kedapatan merokok langsung dibawa untuk disidang.

Pernah suatu ketika, kakak kelas saya diajak kelahi oleh seorang dosen karena teguran si dosen ia balas dengan argumentasi. Ketika pertarungan di ruang dosen itu hendak dimulai, seorang karyawan yang kebetulan berada di situ memberi kode padanya kalau si dosen mengalami gangguan kejiwaan. Schizophrenia. Perkelahian batal, namun tetap berbuntut. Si dosen tetap meneror setiap mahasiswa yag dilihatnya merokok, sekalipun basement adalah ruang terbuka.

Beberapa kawan sebenarnya mengeluhkan soal itu, tapi ya hanya mengeluh. Sudah. Namun ternyata tidak dengan sore itu. Sebelum masuk ke ruang pameran, saya lebih dulu ikut duduk bersama beberapa teman di sekitaran basement. Kawan Aditia, kebetulan juga ada di sana. Tak lama, obrolan itu akhirnya menyinggung ke soal ruang merokok di kampus.

“Ini bukan soal boleh atau tidak boleh, ini soal keadilan. Ini tempat publik, mau nggak mau ya harus difasilitasi”. Seperti biasanya, aktivis kawakan di kampus saya itu, bersuara dengan nyaring. Kalau tidak ada suara hujan, barangkali suarannya akan terdengar sampai ke lantai dua fakultas, ruangan dosen. Tapi, baginya, itu mungkin akan lebih menyenangkan jika benar terjadi. Dan bukan soal bagi dia kalau seandainya, malah yang terjadi adalah petaka. Dipanggil misalnya. Ia berbicara di depan teman-temannya sore itu, agar secepatnya mahasiswa segera membentuk gerakan ruang merokok di kampus.

“Gimana, lu mau nggak? Gua akan selalu bantu lu di belakang,” katanya.

“Lha, kenapa nggak lu aja, Bang?” sahut saya.

“Kuliah gua tinggal dua semester lagi. Mau lulus gua,”

“Jembut!”

Oke. Kembali ke pameran. Saya hanya mendapati dua mahasiswi di dalam ruangan ketika saya masuk. Usai keduanya saling berfoto bergantian, tak lama mereka pun keluar. Ruang pameran kembali sepi kemudian Ketua Panitia Pameran ini datang. Namanya Irvan Ramadhan, namun lebih akrab dipanggil Dede. Ia lulus baru-baru ini, dan bersama beberapa kawannya diminta kepala jurusan untuk menjadi ketua pameran itu. Mereka menyanggupi.

“Sebenernya kami punya rencana buat pameran lintas generasi ini udah lama. Tapi karena keterbatasan modal juga, dan kendala lain, akhirnya nggak terlaksana,” katanya. Momen itu akhirnya datang bersamaan dengan rencana kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson ke UIN Jakarta. Berhubung Dubes Australia itu berlatar pendidikan jurnalistik, akhirnya pihak fakultas sepakat membuka pameran fotografi. Dengan waktu tidak terlalu panjang, enam hari, pameran itu terlaksana.

Dari sekitar 700 foto yang masuk, total ada 60 foto yang dipamerkan. Tiga karya yang lain adalah karya karikatur. Semua foto yang masuk adalah karya mahasiswa dan alumni Prodi Jurnalistik sejak Prodi ini dibuka pada 2004 silam. Tentu karya yang dipamerkan terlebih dahulu harus lulus seleksi. Dari 40 lebih fotografer yang mengirim karyanya, hanya 17 fotografer yang diterima. Sementara dua yang lain, adalah karikaturis. Beberapa foto karya nama fotografer ternama Indonesia alumni jurnalistik juga masuk dalam pameran, seperti fotografer Tempo M. Iqbal Ihsan. Foto-foto yang masuk dikuratori selama tiga hari oleh Rasdian A Vadin, dosen mata kuliah jurnalistik foto UIN Jakarta.

Bagi Dede, waktu tiga hari untuk persiapan pameran ini amat tidak cukup. Namun dengan persiapan semaksimal mungkin, berhasil terlaksana dengan baik. Hingga hari terakhir pameran itu digelar, panitia mencatat sekitar 1500 pengunjung datang ke pameran bertajuk Kidung Harmoni itu. Kidung Harmoni merujuk pada potret klise dalam kehidupan masyarakat seperti isu pendidikan, agama, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat.

Seorang kawan, yang kebetulan terlibat dalam pelaksanaan pameran, membawa saya ke salah satu foto yang berada di tengah ruang pameran. Foto itu menggambarkan dua orang yang tengah tertidur di atas ranjang dalam rumah dengan kondisi yang cukup mengenaskan. Di samping keduanya, terlihat dua poster kampanye caleg daerah mereka. Dilengkapi redaksi janji-janji kampanye. Sementara di depannya terdapati televisi yang menyala. Teman saya bertanya apa maksud dari foto karya Rasdian A Vadin itu. Saya bilang saya tidak tahu. Kemudian ia menjelaskan. Foto itu, katanya, menggambarkan ironi para pejabat kita yang hanya pandai mengobral janji. Namun gagal mengemban amanatnya sebagai seorang pengayom masyarakat.

Kemudian ia membawa saya ke sudut lain, ke sebuah foto dengan dua orang yang mengenakan atribut berbeda: yang satu mengenakan atribut santa clause, sementara satunya lagi mengenakan cadar. Keduanya berfoto dengan tangan membentuk simbol peace. Saya lihat lagi baik-baik foto itu. Diam mengamati. Benar. Rupanya foto itu menggambarkan arti toleransi beragama. Memang banyak foto di ruang itu yang saya tak paham artinya.

Pantas, di awal mula saya masuk, sekilas heran, “Apa bagusnya foto itu?” merujuk pada beberapa foto dalam ruangan itu. Setelah kedatangan teman saya, dan kemudian menjelaskan beberapa di antaranya, saya baru paham. Termasuk, saat ia menjelaskan mengapa foto dengan dominasi warna merah berada di sekitar pintu masuk dan keluar ruangan. “Itu psikologi warna,” katanya. “Merah itu bisa membuat orang merasa betah”. Kemudian ia bertanya ke saya, mana foto yang saya sukai. saya menunjuk salah satu foto siluet pagi hari dengan dominasi warna gelap. “Itu menunjukkan kepribadian lo yang kesepian”. Taek.

Akhirnya, persinggahan saya ke pameran foto sore itu ditutup dengan kesimpulan: saya harus cari pacar.

Thohirin

Tertarik jurnalistik. Penyuka masakan pedas. Pernah bercita-cita menjadi pemain Timnas.