Ketika Suprapti Tak Ngopi Lagi

Seorang perempuan tua tengah tertidur di ranjang dengan seprei berwarna hijau cerah. Matanya terpejam, tubuhnya miring ke kanan dengan posisi agak meringkuk, dan kedua tangannya diletakkan di bawah kepala.

Ia tampak tenang, ia terlihat sedang tidur nyenyak. Andai adik perempuanku di kampung halaman hanya menyampaikan pesan gambar saja, saya akan mengira perempuan tua itu hanya sedang istirahat selepas zuhur. Tetapi tidak, masih ada pesan lain dari kampung halaman yang datang terlambat tapi tetap terasa serba mendadak. “Mas, aku lupa memberi tahu, Mbah Ilik meninggal semalam,” kata adekku.

Saya diam sejenak, lalu bertanya tentang gambar, kapan foto itu diambil? “Nggak tahu persisnya, mungkin beberapa saat sebelum meninggal,” jawab adikku.

Perempuan tua itu bernama Suprapti, tetapi para cucu dan keponakan-keponakannya memanggilnya dengan sebutan ‘Mbah Ilik’. ‘Ilik’ dari kata ‘cilik’ (kecil), merujuk perawakan tubuhnya yang mungil.

Ia adik kandung dari nenekku. Sejak masa mudanya ia dekat dengan keluarga kakaknya. Mbah Ilik suatu saat sempat berkisah, jika ia yang mendapat tugas menyiapkan keperluan sekolah anak-anak dari keluarga kakaknya, serta memastikan tiba di sekolah dengan sepeda anginnya.

Rumahnya hanya selemparan batu dari rumahku. Saya senantiasa berkunjung ke rumahnya kala kantuk mulai menyerang dan persediaan kopi di rumah sedang tandas. Ketika mengetahui saya berkunjung ke rumahnya, ia akan menjerang air panas lantas menyeduhkan kopi. Begitu pun dengan bapakku dan keluarga dari jauh yang datang berkunjung, juga punya kebiasaan mampir ke rumahnya untuk menikmati secangkir kopi.

Ia pecinta kopi, meski akan lebih tepat bila disebut seorang pecandu kopi. Mbah Ilik akan mengeluh rada pusing jika belum ada setetes kopi pun yang membasahi tenggorokannya. Karenanya, ia akan memastikan meminum secangkir kopi setiap hari. Jika kehabisan kopi ia akan meminta bubuk kopi dari sanak keluarga.

Aktivitas ngopi menjadi sapaan di antara kami. Bila kebetulan ia sedang melihatku, ia selalu memastikan apakah saya sudah ngopi. Begitu sebaliknya denganku, seringkali juga saya mintanya menemani duduk di teras rumah sembari menikmati kopi.

Ia sedang kesulitan keuangan belakangan ini, atau memang selalu begitu sejak lampau-lampau, ia mudah sekali tersentuh hatinya. Datanglah padanya, dan bilang sedang tak punya uang atau sedang lapar, maka dalam kondisi yang susah sekalipun ia masih akan berupaya membantu. Sifatnya ini yang justru menjadi masalah, kerapkali ia tertipu oleh orang-orang yang telah dibantunya.

Pada ibuku ia terbiasa bertanya apakah ada kabar kenaikan gaji PNS. Ia cukup bahagia dengan kenaikan gaji, meskipun acapkali sekedar kabar angin. Mbah Ilik mendapatkan tunjangan janda sebagai istri almarhum seorang tentara. Selain kadang ada tetangga membawa bayi padanya untuk dipijat. Dua sumber pendapatan ini Mbah Ilik memenuhi kebutuhan hidup, juga mengantarkan ketiga anaknya membangun keluarga. Setelah itu ia lebih banyak tinggal sendiri di rumah.

Setahun lalu, ya setahun lalu, saya menyaksikan Mbah Ilik tak seperti biasa. Ia meraung, derai air mata membasahi pipi yang berkerut oleh usia. Muasalnya, anaknya lelakinya pulang tanpa nyawa, dikalahkan penyakit yang entah apa. Tuhan yang selama ini menjadi pertahanan terakhir dalam menghadapi berbagai persoalan pun diprotesnya. “Gusti Pangeran, kok ora aku sing dipundut? Bocah iki isik enom! (Gusti Pangeran, mengapa bukan aku yang diambil? Anak ini masih muda!)”

Dalam menghadapi kematian tak ada yang lebih berduka selain orang tua yang mendapati anaknya mati, betapa pun besarnya goncangan perasaan seorang anak yang menyaksikan bapak atau ibunya yang terbujur kaku di depannya.

Saya hanya menduga-duga apa yang dibenaknya, ia barangkali membayangkan anak lelakinya harus meninggalkan dua anak yang belum lulus SD, juga harapan yang pupus.

Goncangan itu tak berlangsung lama, setelahnya ia terlihat lebih tekun lagi beribadah, bahkan menghabiskan jeda antara magrib dan isya dengan puja-pujian. Tak lupa dikirimnya Al-Fatihah pada sanak saudara yang lebih dahulu pergi.

Di malam Jumat berikutnya ada yang berubah dari kebiasaannya, ia menambah cangkir kopi yang dihidangkan selepas sholat magrib menjadi tiga buah. Mbah Ilik tak terbiasa meminum kopi di malam hari, cangkir-cangkir itu dibiarkan begitu saja di atas almari kayu. Ia percaya jika roh para sanak yang telah tiada akan datang berkunjung di malam Jumat.

Secangkir kopi seperti menjadi sarana buatnya untuk menyambung silaturahmi dengan roh orang-orang yang dikasihinya, atau mengembalikan kenangan-kenangan manis dengan mereka.

Ia bercerita awal mula aktivitas ini dilakukan. Kakek buyutku yang memintanya kopi jika ia telah berpulang. “Ti, yen aku wis sedo ojo lali gawe’ne kopi ben malem Jumuah, (Ti, jika aku meninggal jangan lupa buatkan kopi setiap malam Jumat,)” kata Mbah Ilik menirukan pesan dari kakek buyut.

Kakek buyut yang tak kutahu rupanya, dikisahkannya sebagai orang yang bisa berkomunikasi dengan roh. Ketika akan mengubah kuburan menjadi alun-alun kecamatan, kakek buyutku yang ‘membersihkan’ di sana. ‘Membersihkan’ itu istilah yang digunakan untuk memindahkan makhluk-makhluk dari dimensi lain yang bermukim di sana.

Cangkir kopi yang dihidangkannya tak memulu berjumlah tiga, tergantung dari persediaan kopi yang dimiliki. Namun, ia rutin menyuguhkan kopi di malam Jumat demi menyambut kedatangan almarhum kakek buyut, suami serta anaknya.

Ia senantiasa menyajikan kopi kampung, tetapi memilih kopi murni yang kualitas baik dan menghindari kopi instan. Jika ia terpaksa menyajikan kopi tak murni atau instan, maka kakek buyut akan datang dalam mimpinya, yang diterjemahkan Mbah Ilik sebagai bentuk protes pada kopi yang disajikannya.

Saya datang ke rumahnya, sebelum pergi dari rumah dalam waktu yang tak bisa dipastikan, dengan membawakannya sebungkus bubuk kopi. Sayang, saya mendapati lampu rumahnya tak menyala, ia tak bisa saya temukan.

Lha seminggu reah tak ngetelak’e, entar e’bungkoh Mbak Titin cak’en, (Sudah seminggu ini tak bertemu, pergi ke rumah Mbak Titin, katanya.)” kata kawanku yang rumahnya persis di depan rumah Mbah Ilik. Mbak Titin adalah salah satu anaknya.

Selepas magrib di hari Selasa, 2 Juli, tiga malam setelah kunjungan saya, Mbah Ilik Pergi. Ia bergabung dengan tiga orang lelaki yang dibuatkannya kopi setiap malam Jumat. Akankah Mbah Ilik akan bertanya pada tiga lelaki itu, apakah kopi yang dihidangkannya benar-benar mereka nikmati? Dan, pada akhirnya semua aktivitas manusia harus bernilai guna seperti yang kita ributkan di hari-hari ini.

Pertanyaan itu tak penting lagi, aktivitas yang dilakukan Mbah Ilik menjadi saksi bagi kita semua, betapa rasa kasih manusia bisa tak berbatas jarak. Toh, kita sama-sama tak tahu ke mana mereka sebenarnya pergi.

Selamat jalan, Mbah Ilik….

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405