Ketika Pertandingan Bola di Kedai Kopi Nuri

Kopi Hitam
Kopi hitam sebagai teman menonton pertandingan bola. © Eko Susanto

Setelah Isya, 18 juni 2015, aku berjalan beriringan bersama lima kawanku menuju kedai kopi di pinggiran Rembang. Jarak sekitar 300 meter dari rumah tempat kami menginap selama di rembang, kami tempuh hanya sepuluh menit.

Kedai kopi yang kami tuju sederhana saja. Tak ada pelakat yang menerangkan nama kedai. Tak ada pula mesin pembuat kopi yang mentereng. Kedai itu didirikan di depan sebuah rumah dengan bangunan yang terpisah. Terdapat dua meja dan bangku-bangku panjang yang mengelilinginya. Terdapat jadwal pertandingan bola terbaru tertempel di dinding.

Semua orang di kedai bisa dipastikan bisa saling bertatap muka dan mengobrol. Kebetulan pula, terdapat layar televisi yang sengaja disediakan di belakang tempat penyajian kopi. Jadi para pengunjung kedai bisa berkomentar apa saja soal yang terlihat di televisi.

Siang tadi, aku minum kopi di sana, dan menyaksikan para mengomentari berita televisi yang banyak menyajikan berita tentang Angeline. Gadis kecil di Bali yang dikabarkan hilang dan kemudian ditemukan jasadnya di belakang rumah. Angeline dibunuh.

Opo’o yo bocah kui dipateni?”

Kui perkoro rebutan dunyo. Ibu angkatte sing mateni ben oleh warisan. Yen ora dipateni harta bojone diwariske nang Angeline.”

Aku tas ngerti e,” katanya.

Pirang-pirang dino iki beritane Anggeline terus-terusan kok ora ngerti?”

Tapi suasana malam di kedai kopi itu tidak seperti siang hari, tak sama pula dengan malam-malam biasanya bila tak ada pertandingan bola. Karena itu, Jaenuri, si pemilik kedai sengaja melayangkan pesan melalui gajet: Cah2 nek arep dlok bal nod mengko.

Dan benar. Di kedainya telah ada sekitar sepuluh orang. Beberapa orang menepati bangku-bangku panjang. Tapi tak cukup, di depan pelataran rumah juga ditempati. Mereka memasang proyektor yang ditembakkan di dinding salah satu rumah warga. Meja tempat meletakkan proyektor merupakan tanah yang tidak rata, gambar yang tampil pun ikut bergoyang-goyang.

Haha, film biru diputar dari laptop dan sempat muncul di dinding, sebentar saja, lalu diganti. Pengunjung kedai kopi terpana, kemudian tertawa dan ada pula yang kecewa. Seorang bocah lelaki yang turut mengintip pun digoda mengenai apa yang dilihatnya tadi. Mukanya merah.

Proyektor itu pula yang akan digunakan untuk menonton pertandingan sepakbola. Dua pertandingan ditayangkan antara Italia vs Swedia, lalu Inggris vs Portugal.

Aku memesan kopi hitam dengan sedikit gula. Begitu kelima temanku yang juga datang ke kedai tersebut. Wisnu, salah seorang temanku kini lebih banyak di Jakarta karena pekerjaan dan pacar, yang tak pernah minum kopi kali ini pun pesan kopi. Alhamdulillah, tercerahkan..

Sebentar kemudian kopi pesanan datang. Aku menumpahkan sebagian kopi ke nampan sebagaimana kebiasaan di kampungku. Sementara yang lain rupanya menanti kopi mendingin di cangkir.

Rembang
Jaenuri, Si Pemilik Kedai. © Nody Arizona

Nuri datang lagi, ia membawa temannya dan menawarkan untuk ikut arisan. Ya, arisan untuk pertandingan bola yang ditayangkan. Peserta arisan ini mendaftar arisan dengan menyerahkan uang sebesar Rp 5.000 untuk satu pertandingan. Karena ada dua pertandingan maka Rp 10.000.

Arisan dimulai. Aku mengambil dua gulungan kertas yang dibungkus sedotan. Nomer 14 dan 27. Nomor-nomor itu untuk menandai urutan bagi peserta arisan untuk menentukan pilihan menebak skor pertandingan. Angka terkecil lebih leluasa menentukan skor. Angka besar yang mendapatkan giliran menebak skor paling akhir.

Aku mendapatkan kesempatan pertama di antara teman-teman, dan aku pula yang paling tidak paham akan pertandingan bola malah bingung menentukan skor. Aku putuskan dengan menaruh keberuntungan di angka netral untuk Italia vs Swedia. Kemenangan 2 vs 0 untuk Portugal atas Inggris pada pertandingan berikutnya.

Wisnu langsung bersemangat dan mengecek analisa pemain dan juga membuka situs tebak skor. Sepertinya dia lupa, analisa merupakan hal yang berbeda dengan pasang taruhan. Tapi biarlah… Mumpung dia sedang ceria-cerianya.

Kopiku sudah tinggal setengah ketika pertandingan pertama dimulai. Proyektor gagal terhubung dengan saluran dari televisi. Nuri sibuk mengutak-atik kabel di belakang televisi.

“Cekatan, keburu kegoalan mengko,” kata seseorang kepada Nuri.

Sementara itu, di televisi pertandingan berlangsung. Baru lewat menit 20, proyektor sudah terhubung dengan siaran. Salah seorang pemain Swedia melanggar pemain Italia di kotak penalti.

Wisnu mengacung-acungkan tangan seolah wasit. “Woi.. Woi.. Penalti. Kartu merah,” katanya.

Dan memang pelanggaran, kartu merah dikeluarkan wasit. Fahri Salam yang menjagokan Swedia kecewa. “Ora goal,” katanya, berharap kesebelasa yang didukungnya tidak kalah, arisan yang dipasangnya tak hangus.

Tapi goal terjadi. Kamera menyorot penonton. “Mbake ayu,” kata seseorang pengunjung yang terhibur.

Pertandingan masih terus berlangsung, aku lebih menikmati minum kopi dan berkirim pesan melalui Whats App daripada menonton pertandingan bola. Terlebih taruhanku sudah gugur dengan goal tadi.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.