Keta Ma Ngopi Jolo!

“Bahkan dalam urusan minum kopi, rakyat Indonesia masih ‘terjajah’ dan mesti hanya menjadi penonton.”

Dua puluh tahun yang lalu, mungkin tidak pernah terlintas di pikiran Sholi Pohan untuk menjadi seorang petani dan pedagang kopi. Di sebuah desa, nun jauh dari hiruk pikuk kota besar seperti Medan dan Jakarta.

Namun entah apa yang ada di pikiran lelaki yang menghabiskan masa kecilnya di Qatar ini. Sehingga pada suatu hari, alumni Southern New Hampshire University, Amerika ini memutuskan untuk pulang ke kampung halaman orang tuanya, Sipirok untuk menjadi seorang petani dan pedagang kopi.

Sipirok merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Berjarak 355 km atau sekitar 9 jam perjalanan darat dari kota Medan. Sipirok bukanlah tempat yang dianggap strategis untuk memulai impian bisnis hingga skala internasional. Namun, bermodalkan kenekatan dan ‘darah kopi’ yang mengalir dalam keluarga ibunya, Sholi Pohan memutuskan untuk menjadi seorang petani kopi. Sebagai petani kopi, Sholi Pohan bekerjasama dengan keluarga dari pihak ibunya memproses kopi tersebut sendiri, mulai dari proses grinding coffee bean, roasting, hingga packing dan penjualan produk dalam bentuk bubuk kopi.

Tak sampai lima tahun, usaha yang dijalankan oleh Sholi boleh dibilang sukses dan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Produk kopi yang dilabeli dengan UD. AKS (Usaha Dagang Angkola Kopi Sipirok) ini telah menjalani serangkaian coffee tasting dan mendapat grade di atas 8,2. UD. AKS juga telah mengeskpor produk kopi hingga ke Korea Selatan. Sholi Pohan sukses mengangkat martabat kopi arabika Sipirok menjadi premium coffee dengan kualitas wahid dan citarasa yang tinggi.

Sholi Pohan, pemilik UD AKS (Angkola Kopi Sipirok) sedang melakukan cupping di warung kopinya di Sipirok
Sholi Pohan, pemilik UD AKS (Angkola Kopi Sipirok) sedang melakukan cupping di warung kopinya di Sipirok | © Yuri Nasution

Akan tetapi, Sholi sendiri menganggap bahwa pencapaian di atas belumlah menyelesaikan permasalahan yang lebih mendasar.

Indonesia merupakan negara produsen kopi terbesar keempat sedunia. Namun, kebanyakan kopi dengan kualitas baik diekspor ke luar negeri, sedangkan yang menjadi konsumsi harian masyarakat Indonesia tinggallah kopi dengan kualitas rendah hingga biasa. Kopi dengan kualitas baik seperti arabika luwak seakan hanya bisa dinikmati oleh kalangan ‘berduit’ dan ‘berpendidikan’ di coffeeshop di wilayah urban. Sedangkan, kebanyakan penikmat kopi yang berasal dari kalangan biasa hanya bisa menikmati ‘kopi jagung’. Kopi kualitas rendah itulah yang disajikan di banyak warung kopi tradisional. Termasuk di Sipirok.

Masyarakat Sipirok —khususnya laki-laki— sangat akrab dengan aktivitas ngopi di warung kopi, yang dalam bahasa Batak Angkola disebut dengan istilah marlopo. Mereka hanya mengonsumsi kopi robusta biasa dan bahkan ‘kopi jagung’. Pada kenyataannya masih banyak yang belum mengetahui nikmatnya kopi arabika Sipirok, yang ironisnya laku keras di pasaran luar negeri. “Bahkan dalam urusan minum kopi bagus, rakyat Indonesia masih ‘terjajah’ dan mesti hanya menjadi penonton”, ujarnya. Berangkat dari permasalahan tersebut, ‘ide gila’ Sholi Pohan pun muncul untuk membuka lopo alias warung kopi tradisional yang hanya menyediakan kopi arabika specialty di tengah pedesaan.

Di warung kopi ini, kopi yang disajikan adalah hasil kebun kopi milik Sholi sendiri, tersedia berupa olahan kopi specialty arabika dengan ragam Peaberry, Arabika Special, Luwak Liar, dan Honey. Dan ragam kopi yang biasanya dijual dengan harga mulai dari Rp 75.000 hingga Rp 1 juta tersebut dapat dikonsumsi di tempat secara cuma-cuma alias gratis! Tak peduli seberapa banyak kopi yang diminum dan ragam kopi yang dicoba, pengunjung tidak perlu membayar dengan satuan harga tertentu. Pengunjung hanya perlu memberi sumbangsih dengan nominal rupiah se-ikhlas hati yang dimasukkan ke dalam kotak mirip kotak ‘sumbangan’. Sesuai dengan taglinenya, “Ngopi Suka-Suka, Bayar Suka-Suka”.

Arabika Peaberry, Arabika Spesial dan Arabika Luwak Liar
Varian arabica specialty yang selalu tersedia di Warung Kopi UD AKS: (dari kiri) Arabika Peaberry, Arabika Spesial dan Arabika Luwak Liar. Setelah ngopi suka-suka di warung kopi, pengunjung juga dapat membeli varian bubuk kopi ini dengan harga yang bervariasi, sesuai jenis dan massa kopi. | © Yuri Nasution
Tampak depan warung kopi milik UD AKS
Tampak depan warung kopi milik UD AKS. Terlihat dengan jelas tulisan ‘ngopi suka-suka, bayar suka-suka’ | © Yuri Nasution

Pemandangan di dalam warung kopi itu sendiri terlihat memiliki perpaduan yang tidak akan dijumpai di warung kopi tradisional atau coffeeshop lainnya. Mesin roasting yang canggih, french press dan tumpukan green bean berkualitas wahid terlihat begitu kontras berdekatan dengan para pengunjung yang sedang tertawa terbahak-bahak dan berbincang dengan suara yang keras dalam bahasa Batak Angkola; sembari menaikkan kaki ke atas bangku dan menghisap kretek.

Warung kopi tersebut dibuat senyaman mungkin, tanpa melupakan faktor pentingnya kualitas kopi yang baik. Kopi arabika yang biasa dikenal warga Sipirok dengan sebutan kopi ateng ternyata terlanjur mendapat stigma sebagai ‘kopi yang tidak dapat diminum’ karena biasanya diolah menjadi bahan mesiu. Sebagai petani kopi arabika, Sholi ingin membuang jauh stigma ini. Seperti yang dikatakan oleh bang Sholi sendiri, “Kami orang kampung ini mesti tahulah mana kopi bagus mana yang tidak. Masak kami yang tanam tapi yang minum orang-orang Korea itu saja. Gawatlah!”

Tujuan Sholi membuka warung kopi ini semata-mata adalah untuk kepentingan sosial. Segmentasi pengunjung yang ia bidik adalah warga desa Pasar Minggu, Sipirok yang kebanyakan berprofesi sebagai petani. Sholi menolak mendirikan coffeeshop dengan desain canggih dan trendi, karena adanya stigma bahwa sesuatu yang ‘mewah’ dan ‘kekotaan’ pasti berharga mahal dan ‘bukan kelasnya orang kampung’. Warung kopi tetap dibiarkan dengan desain sederhana sehingga para pengunjung yang kebanyakan merupakan warga sekitar tersebut merasa nyaman dan akrab.

Panjago lopo alias barista
Salah seorang panjago lopo (penjaga warung kopi) alias barista sedang mengolah greenbean kopi menjadi kopi siap minum dengan mesin grinder dan teknik french press. Meski ‘hanya’ mengurusi ‘warung kopi tradisional’ , beliau merupakan seorang barista profesional yang telah menjalani pelatihan dan proses sertifikasi barista. | © Yuri Nasution
Proses pengolahan greenbean hingga menjadi kopi yang siap diminum.
Proses pengolahan greenbean hingga menjadi kopi yang siap diminum dilakukan di kompleks warung kopi, Para pengunjung bisa mempelajari proses pengolahan kopi yang baik di warung kopi ini. Soli Pohan juga mengajak anak-anak setempat untuk belajar tentang kopi, mulai dari memilih greenbean, bahkan hingga proses cupping. “Daripada anak-anak itu main PS saja kerjanya,” ujar Soli. | © Yuri Nasution

Cita-cita Sholi untuk memasyarakatkan kopi arabika kualitas premium kepada warga sekitar perlahan mulai terwujud. Kini di Sipirok, seorang ibu tukang cuci bisa dengan mudah menikmati kopi arabika spesial. Kopi luwak liar yang biasanya identik dikonsumsi oleh professor ‘berdasi’ di universitas bergengsi di Inggris kini menjadi konsumsi rutin para petani desa di Sipirok —dengan celana terlipat dan tangan yang masih kotor setelah lelah mencangkul di sawah. Ajakan untuk minum kopi arabika dengan grade di atas 8,2 tidak lagi identik dengan seruan khas para eksekutif muda, “Let’s Have a Cup of Coffee” atau “Ngopi dulu, yuk!”

Warga desa Pining Nabaris jalan Simangambat, pasar Sipirok tersebut kini dapat dengan bangga mengajak tetangganya dengan seruan “Keta Ma Ngopi Jolo!” (“Ngopi dulu yuk!,” dalam bahasa Batak Angkola) untuk bersama minum kopi berkualitas internasional.

Karena kopi itu, tak lain tak bukan, adalah milik warga desa itu sendiri. Karena kopi itu, tumbuh dan dirawat bersama oleh tangan-tangan petani kopi. Karena kopi sebagai mahakarya Sipirok, adalah dari Sipirok dan untuk Sipirok juga.

Yuri Nasution

Perempuan Batak biasa