Kesederhanaan Kopi Aroma Bandung

Bagi para pecinta kopi di Bandung, tentu saja tidak sah jika mereka tidak mengenal tempat jualan kopi legendaris ini. Faberijk Koffiea Aroma, atau lebih dikenal dengan nama Kopi Aroma sudah menjual kopi di daerah Banceuy, Bandung sejak tahun 1930-an. Dulunya tempat itu merupakan kawasan pecinan lama, namun hingga kini, toko kopi Aroma masih tetap bertahan. Toko yang semula didirikan oleh Tan Houw Sian ini kini sudah dikelola oleh generasi kedua.

Akan tetapi jangan salah sangka, toko ini bukanlah kafe atau tempat nongkrong. Ini adalah pabrik kopi yang sangat tradisional, orang yang datang ke sini membeli kopi dalam bentuk gilingan halus, gilingan kasar, atau bahkan dalam bentuk biji. Sebagai penikmat kopi low-budget, tentu saja saya membeli kopi giling halus yang tinggal seduh karena tidak punya alat roasting-nya.

Jika boleh saya katakan, justru ketradisionalannya inilah yang menjadi daya tarik dari kopi Aroma Bandung ini. Di tengah era online shop dan belanja dari rumah, Kopi Aroma Bandung konsisten dengan gaya jualannya yang old school, cash and carry. Anehnya lagi, meski dengan sistem seperti itu, toko ini tidak pernah kehabisan pelanggan. Ketika toko buka pada sekitar pukul sembilan, antrean sudah mengular panjang hingga ke trotoar. Saya butuh sekitar lima belas menit mengantre sebelum sampai di kasir.

Kopi Aroma
Tempat Pembungkusan Kopi

Pada tahun 2013 saya berkesempatan untuk masuk ke dapur kopi Aroma. Ketika itu saya tengah mengantar seorang tamu dari Jepang yang tengah mencari oleh-oleh. Saya berinisiatif mengajaknya ke tempat itu, dan untungnya, si pemilik toko dengan baik hati mengajak kami masuk untuk melihat-lihat. Di dalamnya, pegawai tidak terlalu banyak, saya sendiri cukup terpukau karena saya tidak pernah melihat bagaimana sebuah kopi diolah dari bijih sampai dapat dijual. Di sana ada mesin pembakar yang sangat besar dan tumpukan karung-karung berisi kopi yang sudah diolah. Si pemilik toko ini ikut bekerja di sana, ikut menyekop kopi ke mesin, ikut membakar dan mengangkut karung-karung kopi. Mereka yang di dalam dapur, berwajah cemong-cemong dan mandi keringat.

Ada dua jenis kopi yang dijual di tempat ini, yaitu kopi arabika dan robusta. Kopi arabika adalah kopi yang beraroma sangat wangi dan terasa ringan saat diminum, sementara robusta adalah kopi yang terasa lebih berat dan pahit. Kopi robusta menimbulkan efek jantung berdebar dan susah tidur bagi yang belum biasa. Menurut si pemilik toko, biji-biji kopi ini ia timbun selama setidaknya delapan tahun untuk Arabika, dan lima tahun untuk Robusta. Bukan waktu yang sebentar bukan!? Menurutnya, hal ini dilakukan untuk menurunkan kadar asam yang ada pada kopi, sehingga kopi bisa terasa lebih murni dan terasa nyaman di lambung.

Kopi ini dijual dalam bungkusan 250 gram, 500 gram, dan satu kilogram. Saya sendiri seringnya membeli bungkus kecil 250 gram baru kemudian beli lagi jika sudah habis. Harga kopi dalam bungkus paling kecil itu adalah dua puluh lima ribu rupiah. Meski dengan antrean mengular dan jam buka yang hanya sekitar tujuh jam, menunggu membeli kopi itu sendiri menjadi ajang perkenalan dan ngobrol sesama pelanggan. Kami biasanya berbincang tentang kopi sampai apa saja walau pun tidak ada kaitannya dengan kopi. Kami seolah punya kesamaan nuansa pada saat itu meski kami tidak saling mengenal. Bahkan meskipun bukan di kedai kopi, kami bisa bercengkrama dan menikmati waktu sampai giliran kami memesan.

Kopi Aroma
Antrean Pembeli Kopi Aroma

Keotentikan dan kesederhanaan Kopi Aroma ini sebetulnya juga memberi gambaran tentang gaya hidup yang menenangkan. Selain rasa kopinya itu, sikap Kopi Aroma yang tidak membuka cabang, agen, atau kafe itu menegaskan bahwa bagi mereka, kopi bukan hanya persoalan komersil. Saya merasa, mereka seolah ingin menyampaikan bahwa Kopi Aroma tidak perlu menjadi besar dengan memperbanyak cabang, atau mengikuti tren pasar sekarang. Mereka mungkin merasa bahwa hajat hidup mereka sudah cukup terpenuhi dengan cara seperti ini, mereka tidak perlu memonopoli pelanggan atau membuat kopi dengan gaya yang kekinian.

Dengan dedikasi yang penuh terhadap kopi dan usaha mempertahankan kualitas yang seperti itu, Kopi Aroma berhasil membuat pelanggan tetap bertahan bahkan bertambah. Hal ini tentu saja menentang hukum kemajuan perusahaan yang harus melebarkan sayap seluas-luasnya. Tapi komitmen Kopi Aroma menunjukkan bahwa di luar itu semua, kepuasan pelanggan terhadap kualitas kopi yang sama selama bertahun-tahun adalah prioritas utama. Seperti ahli kungfu yang menyempurnakan ilmunya, pemilik kopi aroma dan para pekerjanya menyendok kopi dan menyajikannya untuk pelanggan setiap hari. Kopi bukan lagi soal jualan, bagi mereka kopi adalah kehidupan itu sendiri.

Saya mungkin agak berlebihan, tetapi ketika saya menyeruput kopinya, saya bisa merasakan bahwa kopi yang saya minum itu telah melalui proses yang panjang. Proses yang tidak tergesa-gesa, proses yang penuh kesabaran dari para pengolahnya hingga tersaji di cangkir saya.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com