Kesalahpahaman tentang Kopi

Arabika Blue-Tamblingan
Arabika Blue-Tamblingan | © Puthut EA

Saya tidak banyak tahu soal kopi. Saya hanya suka berburu kopi dari berbagai daerah di Indonesia, punya situsweb kopi, pernah kursus cupping dan barista, punya kedai kopi kecil, dan pernah meneliti sejumlah lahan kopi di lebih-kurang 30-an daerah, dan saya tentu saja penikmat kopi.

Ada sedikit hal yang saya tangkap dari interaksi yang kurang intens itu antara petani, pedagang (dengan berbagai strata), dan penyuka kopi. Termasuk kesalahpahaman yang lazim terjadi. Apa saja itu?

1. Ketinggian

Kopi arabika utamanya, selalu diukur kastanya dari ketinggian lahan. Bisa jadi itu benar, bisa jadi itu keliru. Kopi bukan lomba tinggi-tinggian lahan. Ini bukan panjat pinang.

Secara natural, kopi arabika nisbi tumbuh baik di atas ketinggian 1.000 mdpl. Tapi itu bukan ukuran saklek. Di beberapa daerah, arabika bisa tumbuh dengan baik di 700 dan 800 mdpl.

Ada banyak faktor yang membuat arabika tumbuh baik selain ketinggian lahan: iklim, kesuburan tanah, dan tentu saja perawatan pohon kopi. Kopi yang tumbuh di ketinggian 1.500 mdpl, belum tentu bisa lebih baik dari ketinggian 1.000 mdpl. Semua tergantung beberapa faktor lain tersebut.

Cita rasa kopi arabika juga tidak selalu berhubungan dengan ketinggian. Jadi tidak perlu umuk: “Arabika kami tumbuh di 2.000 mdpl”. Sebab cita rasa, selain berhubungan dengan ketinggian lahan, juga ada hal lain: tanaman sela, termasuk yang paling penting: cara petik, model pengeringan, tata cara penyimpanan, hingga model sangrai.

Arabika yang hanya bermodal tinggi lahan belaka, hati-hati. Nanti kesampluk pesawat terbang.

2. Robusta dengan Arabika

Robusta dan arabika bukan balap-balapan enak. Enak itu soal selera. Ini lebih ke soal harga. Pernah suatu ketika saya diminta datang ke sebuah daerah. Meminta agar saya membantu menjual kopi dengan harga tinggi. Setelah saya datang, ternyata lahan itu ditanami robusta. Bagaimana bisa menjual tinggi? Aneh-aneh saja.

Memang robusta bisa dijual dengan harga sedikit tinggi di atas rata-rata. Tapi itu jauh lebih susah. Kenapa? Kebanyakan di berbagai daerah, robusta sudah diserap dengan baik oleh pabrikan setempat, dan dijual secara massal. Robusta bisa dipetik merah, tapi karakter dompolannya susah untuk dipetik satu per satu. Itu satu persoalan. Persoalan lain, andaikan dipetik merah, terus berapa perbedaan harga yang bisa diperlakukan? Siapa yang mau menyerap? Petani sudah susah memetiknya, harganya gak naik signifikan, lalu untuk apa? Kopi itu soal kehidupan petani. Jangan main-main ngajari petani kalau tidak jelas apa dampak buat mereka.

Fine Robusta Munduk dipetik rerata merah dan diproses dengan serius nan cermat
Fine Robusta Munduk dipetik rerata merah dan diproses dengan serius nan cermat. | © Puthut EA

Kesalahpahaman lain soal robusta dan arabika, adalah memaksakan ketinggian. Kalau sudah di atas 1200 mdpl, dan baru mau menanam, ya tanam saja arabika. Robusta tumbuh di ketinggian tersebut. Tapi tidak terlalu baik. Terus kenapa dipaksakan?

Sebaliknya, karena “demam arabika”, banyak pohon robusta ditebang dan digantikan arabika. Padahal di ketinggian lahan: 700-an. Ini juga tidak baik. Kecuali, memang dari sisi iklim, kesuburan lahan, dan kerajinan petani, bisa dimaksimalkan. Tapi kenapa sih harus dipaksakan?

Jadi sekali lagi, kopi enak dan tidak, itu urusan lidahmu. Jangan paksa: karena lidahmu merasa enak dengan robusta, maka robusta harus diberi harga mahal. Mahal ndasmu!

Urusan mahal dan tidak, itu lingkup bisnis, yang salah satunya kena hukum: persediaan dan permintaan. Produksi robusta ratusan kali lipat dibanding arabika. Faktor lain, misalnya: keunikan. Arabika unik karena cita rasanya kaya. Tiap lahan bisa sangat berbeda. Robusta tidak. Mau robusta Jember, Buleleng, Lampung, Jambi, hampir sama. Terima saja kenyataan ini. Gak usah diperumit. Kalau mau perumit, cat saja pohonnya. Kalau perlu kasih ukiran di pohonnya.

Suka robusta boleh. Tapi jangan maksa harganya lebih mahal. Kenyataan komoditasnya seperti itu. Suka arabika juga boleh. Tapi gak perlu mengejek lidah robusta sebagai lidah kampungan.

Jangan juga antikopi saset. Kopi saset juga ditanam oleh petani kita. Dijual oleh pebisnis kita. Kalau kamu antikopi saset, memangnya serapan bisnis kopimu bisa mengatasi serapan pabrikan?

Jual kopi ya jual kopi saja. Gak usah saling menjelekkan. Sudah terlalu banyak fasisme agama, fasisme aktivis, jangan ditambah lagi dengan fasisme kopi. Bikin hidup makin gak enak saja…

Kalau mau kopi terasa sangat enak dan istimewa, ngopilah dengan orang yang baik dan asyik, di saat kamu usai bekerja keras, dan rekeningmu sedang gendut-gendutnya, badanmu sedang sehat-sehatnya.

Simpel dan cespleng.

Ekspedisi Kopi Miko

Puthut EA

Anak kesayangan Tuhan.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com