Kepeleset Kopi

(Tanggapan atas Tanggapan Fundamentalis Kopi)

Senang rasanya tulisan saya tentang kaum fundamentalis kopi yang tidak perlu kita ikuti mendapatkan tanggapan. Ada yang setuju, ada yang tidak. Sungguh biasa saja. Kalau tidak mau ada pro-kontra, tidak usah menulis. Sruput saja kopi Anda terus tanpa menulis, niscaya tak akan ada yang pro-konta terhadap Anda. Aman bukan?

Tapi bolehlah saya menebalkan argumen, atau memperluas semesta perbincangan sehingga kita dapat cakrawala yang lebih membentang. Ada yang bilang, saya agen kopi saset. Sungguh saya ingin tertawa. Kadang kaum fundamentalis mesti gitu. Bagi Anda yang sempat belajar logika, ini adalah jenis sesat pikir ‘argumentum ad hominem’. Alih-alih menghadapi logika dan argumen saya, malah cuma pindah ke tuduhan. Di situ kadang saya ingin nyeruput kopi. Tapi ya wajar…

Baiklah. Walaupun hanya sekelas ‘argumentum ad hominem’, karena saya mencoba membangun produktivitas berpikir, saya coba beri lanjaran supaya kembali tegak cara pikirnya.

Di kehidupan sehari-hari kita ini sering menjumpai sindrom martir. Orang yang merasa dirinya penting menyatakan atau membela sesuatu dengan dalih ‘jalur penderitaan’ padahal itu tidak tepat atau tidak penting. Atau hanya untuk kebutuhan eksistesialnya belaka.

Pedagang kopi keliling
Sonny, pedagang kopi keliling asal Surabaya. Dia berkeliling dari kota satu ke kota lain mengikuti Kiai Kanjeng dan Emha Ainun Najib. Sambil mendengarkan ceramah, ia juga berjualan kopi. © Nody Arizona

Jadi begini. Kopi reguler, yang kadang dikemas dalam sasetan, itu bukan hanya kopi-kopi skala nasional. Kopi lokal juga banyak. Tapi apapun kopi itu, mau skala nasional maupun lokal, sudah jelas punya sumberdaya, mempekerjakan banyak orang, melibatkan sekian banyak petani kopi. Dalam konteks ekonomi nasional, hal seperti itu seyogianya diperhatikan. Bahwa memang ada orang yang petentang-petenteng, dengan sedikit ilmu tentang kopi tapi nihil ilmu tentang politik-ekonomi, kemudian meruyak dengan gagah bahwa problem kopi di Indonesia adalah kopi saset ya pasti tidak bisa ditolak.

Saya juga sudah menulis, pendidikan konsumen itu penting, yang tidak penting adalah perilaku tudang-tuding. Maka saya tulis juga, kalau sektor hilir dinamis, sektor hulu akan juga ikut dinamis. Kalau misalnya, walaupun ini sulit terjadi, ada pabrik kopi yang mengintegrasikan ribuan petani dan pekerja, lalu kukut karena ilmu tudang-tuding, siapa yang akan merawat sumberdaya manusia sebanyak itu? Apalagi sebagai sesama anak bangsa. Mungkin yang penting, kampanye yang masif untuk tetap setia kepada produk lokal (nasional) dibanding produk kopi pabrikan luar (yang kopinya diambil dari petani kita, tapi keuntungannya dibawa keluar negeri).

Silakan konsumsi Kapal Api, Rajawali, AAA, Kotamobagu, Banyu Atis, dan ratusan kopi lokal kita. Juga silakan konsumsi kopi-kopi arabika kita yang berkualitas itu. Sruput saja. Itu semua baik untuk Anda dan untuk bangsa ini.

Soal yang berpikir bahwa saya menyarankan kopi pakai gula, sepertinya perlu membaca lagi tulisan saya. Justru kebalikannya. Saya menyarankan, yang biasanya kampanye tidak pakai gula, jangan melakukannya lagi. Sebab kesehatan itu personal. Bukan googlingan.

Tak usahlah saya bercerita banyak. Sedikit saja. Ketika saya memperingati 15 tahun berkarya, saya mencetak ulang beberapa buku saya, kemudian saya bagi-bagikan ke beberapa teman. Salah satunya ke seorang dokter yang merupakan dokter anak saya. Ibu dokter tersebut kemudian meminta tolong kepada saya agar menuliskan pemikirannya betapa berbahaya kampanye anti gula dan anti garam. Kalau itu digebyah uyah, bisa menimbulkan dampak kesehatan yang tidak baik, untuk tidak menyatakan sebagai hal yang mengerikan.

Kalaupun toh tidak punya kesempatan menulis, saya diminta mengingatkan kepada orang-orang. Jangan sampai hal itu diterima begitu saja. Kaldu itu berbahaya. Tapi juga sangat penting. Demikian juga gula dan garam.

Jadi bukan saya menyuruh orang minum kopi pakai gula. Tapi saya mengingatkan kepada Anda yang suka mengkampanyekan tidak minum kopi pakai gula dengan alasan kesehatan. Padahal Anda tidak tahu apa-apa.

Begitu saja. Rileks dan tetap tersenyum. Sruput kopimu, mau sasetan boleh, mau yang premium juga boleh. Mau pakai gula silakan, tidak juga nggak apa-apa.

Menyeruput kopi dengan nyaman. Jangan sampai kepeleset kopi. Baik karena saking suka sehingga buta, atau dilakukan begitu saja tanpa ditinjau manfaat dan mudaratnya.

Puthut EA

Anak kesayangan Tuhan.

  • ah, mas Puthut :’)

    *sungkem* *salaman*

  • Cubung

    ibarat kata, udah dibayar, masih dimarahin :))

  • bagus

    logic dan sangat bisa di terima… *Nyruput_kopi_agak_pahit*

  • Nah, gini lho… Ada tulisan-tulisan yang menarik, terserah sih minum kopi nggak pake gula, ato warung kopinya nggak nyedian gula/susu tapi jika masih ada yang mengeluarkan opini bahwa “minum kopi dengan ditambah gula adalah pengkhianatan” sungguh itu terdengar menyakitkan dan ahistoris
    Btw, wisang kopinya mas Cubung menyediakan gula nggak ya?

  • bubutsejahtera

    sejauh yang saya ketahui mengenai kampanye kopi anti gula itu berdasar kepada kebiasaan masyarakat khususnya di indonesia yg mengkonsumsi gula berlebihan setiap harinya, dimana pola makan kita sering dianggap tidak sehat, salah satu nya pendapat tersebut pernah saya dengar dari dokter ahli diabetes, selain kelebihan kalori, masyarakat kita juga kelebihan gula. nasi sebagai sumber karbohidrat utama masyarakat sudah mengandung gula, kemudian camilan2 lainna juga banyak yg mengandung gula…

    dalam urusan kopi, kopi sachet menjadi tertuduh dari kampanye ini, karena saya meyakini bahwa mayoritas di kita peminum kopi adalah pengguna kopi sachet, ini saya yakini karena dari banyaknya produk kopi, yg paling banyak dikosumsi produknya yg sudah berbentuk kopi+gula. pun ketika kopi2 tanpa gula (baik produksi pabrik besar maupun lokal) sebagian besar digunakan untuk kepentingan usaha seperti warung kopi, restoran dll,itupun pada akhirnya disajikan dengan gula.

    barangkali karena hal itulah peminum kopi sachet kini digembar-gemborkan sebagai peminum yg tidak sehat.
    tidak saya pungkiri bahwa kampanye semacam ini menimbulkan kesan negatif bagi sebagian orang lainnya, bagi saya itu masalah individu yg meyakini bahwa kampanye ini penting tetapi karena kurangnya informasi sehingga bertindak kurang etis.

    saya sendiri berpendapat kopi tanpa gula sangat penting karena saya sadar saya belum mampu mengatur pola makan dengan baik, dan saya menduga masih sangat banyak orang yg sama dengan saya dalam hal
    mengatur pola makan. sehingga kabar baik dari kampanye ini harus disampaikan, walaupun tentunya dengan bahasa yg harus diperbaiki.

  • bubutsejahtera

    selanjutnya mengenai politik-ekonomi dalam kopi…
    lagi-lagi sejauh yg saya ketahui ketika ikut berkecimpung dihulu industri kopi dulu…
    ketika mas phutut menyatakan bahwa pendidikan konsumen dalam masalah kopi tidak diperkenankan untuk tudang-tuding, maka jika demikian berarti kita tidak diperkenankan untuk kritis terhadap kesemena-menaan industri kopi pabrikan dalam menentukan harga pembelian buah kopi dari petani.
    hari ini harga buah kopi pembelian dari petani berkisar 3500 hingga 8500. dulu sebelum datangnya investasi asing harga kopi berkisar dari 2000 hingga 5000.
    ini salah siapa?
    apakah tidak boleh disalahkan kemudian kita tuduh pabrik2 besar nasional tidak mampu menjadi solusi stagnansi kesejahteraan para petani kopi.
    juga apakah tidak boleh dipertanyakan (yang dalam pendapat saya tidak bisa diharapkan) peran regulator negara maupun daerah.
    jika bukan itu, berarti kita harus menyalahkan para investator asing yang telah membawa budaya baru dalam cara menikmati kopi hingga akhirnya membuat fundamentalis ini lahir, tetapi mereka telah membawa solusi kesejahteraan bagi petani kopi kita..

  • Ahmad Afrizal

    Itu yang pada komen kebanyakan punya problem tidak bisa membaca artikel. Gagasan penulisnya runtut dan clear. Komen-komennya ke mana-mana, kayak kagak pernah belajar mensistemisir gagasan.

  • mata kuliah Logika tu semester brapa y?..orang eksak dapet ga? ato cuma orang filasafat aja yg blajar logika?..hahaha

  • CangkirKopi

    Intinya minumlah kopi sesuai selera dan kebutuhan.
    *angkatcangkirkopi_sedikitmanis*

  • seruput kopi sambil berdo’a. semoga yang terlibat dalam kopi perkopian senantiasa bahagia.