Kembali ke Kampus, Kembali ke Kantin Sehat

Suasana Jam Makan Siang di Kantin Kesehatan FKM UI
Suasana Jam Makan Siang di Kantin Kesehatan FKM UI | © Katondio Bayumitra Wedya

Sudah hampir setahun rasanya saya banyak menghabiskan waktu di dunia kerja. Sebuah dunia yang tentunya jauh berbeda dengan dunia akademis atau perkuliahan. Sejak lulus kuliah 2015 lalu, saya amat merindukan suasana dunia akademis. Hingga kesempatan untuk kembali ke kampus datang pada suatu Sabtu pagi, ketika saya dan beberapa teman diundang oleh adik kelas untuk datang ke kampus tempat kami menimba ilmu dulu, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (FKM UI).

Kami diundang untuk menjadi semacam tim konsultan Stand Up Comedy kontingen FKM UI agar dapat tampil maksimal di kompetisi Stand Up Comedy antar fakultas. Sebenarnya pertemuan itu sudah beberapa kali diadakan, hanya saja saya baru sekali itu dapat menyempatkan diri untuk datang. Maklum, bekerja di bank telah menyita banyak waktu saya.

Pertemuan itu berlangsung dari jam 9 pagi, hingga jam 12 siang. Setelah pertemuan selesai dan mereka semua memutuskan untuk meninggalkan kampus, saya memilih tetap stay untuk sekadar melepas rindu dengan suasana kampus. Saya juga menyempatkan diri untuk makan siang di kantin kampus. Dari salah satu adik kelas, saya baru tahu kini kantin fakultas saya bernama “Kantin Kesehatan” atau disingkat “KanKes”. Padahal, dulu kantin itu lebih dikenal dengan nama KanCer (Kantin Ceria) atau sekedar “Kantin FKM”.

Saya pikir itu adalah nama yang layak diberikan untuk kantin yang juga biasa dikunjungi oleh mahasiswa dari fakultas rumpun ilmu kesehatan lainnya itu. Kenapa layak? Karena kantin tersebut memiliki konsep yang senada dengan disiplin ilmu-ilmu kesehatan yang dianut oleh fakultas tempatnya bernaung. Sekarang, FKM UI memiliki 4 jurusan: Kesehatan Masyarakat, Ilmu Gizi, Kesehatan Lingkungan, dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Keempatnya memiliki konsep yang sama, yaitu “preventif”.

Preventif dapat diartikan sebagai tindakan pencegahan, dalam hal ini pencegahan dari terjangkitnya penyakit, baik penyakit infeksi, maupun degeneratif. Lalu, bagaimana caranya Kantin Kesehatan FKM UI menerapkan konsep preventif itu? Mari kita bahas bersama.

Pertama, di KanKes pedagang tidak diperkenankan untuk menggoreng makanannya secara langsung. Jadi, jika ingin menjual makanan yang digoreng, maka makanan tersebut harus sudah digoreng dari rumah dan di KanKes hanya tinggal dihangatkan saja jika ada yang memesan. Apa alasannya? Karena proses menggoreng dapat meninggalkan minyak dan membuat lengket tempat persiapan dan pemasakan bahan makanan, sehingga memicu berkembangnya bakteri.

Bayangkan, tempat persiapan dan pemasakan bahan makanan yang lengket dengan minyak, serta masih terdapat sisa-sisa bahan makanan harus dilap dengan lap yang sama dari pagi hingga sore. Kadang, pisau dan alat masak lainnya juga dilap dengan lap yang sama. Padahal, dari lap tersebut juga dapat menyebabkan kontaminasi silang pada makanan. Dari segi ilmu gizi, para pelanggan juga diberikan pilihan untuk tidak selalu mengonsumsi makanan yang digoreng.

Kedua, di kantin yang biasanya sangat padat saat jam makan siang itu, juga melarang pedagangnya untuk kontak langsung dengan uang. Jadi, pelanggan memberikan uangnya pada kasir dan kasir akan memberikan struk, yang kemudian diberikan kepada pedagang, sehingga mereka tahu apa yang kalian pesan. Saat sore hari, barulah semua struk tersebut ditukarkan dengan uang kepada kasir. Peraturan ini ada karena uang juga merupakan sumber bakteri, sehingga dapat mengotori tangan pedagang saat bekerja.

Ketiga, fasilitas wastafel atau tempat cuci tangan, beserta sabunnya juga ada. Mereka juga memberikan petunjuk bagaimana cara mencuci tangan yang benar pada sisi wastafel. Jumlah wastafel ada tiga. Kekurangannya mungkin karena minus jumlah pegawai, maka terkadang jika sabun cuci tangan habis, tidak dapat di-refill dengan segera.

Wastafel beserta Sabun dan Petunjuk Mencuci Tangan
Wastafel beserta Sabun dan Petunjuk Mencuci Tangan | © Katondio Bayumitra Wedya
Empat Wastafel Terpisah
Empat Wastafel Terpisah | © Katondio Bayumitra Wedya

Selain itu, yang patut dipuji, bahkan mungkin ditiru tempat makan lain adalah wastafel khusus pencucian piring dan alat makan lainnya. Secara konsep, agar tingkat higienitas terjaga, alat makan juga harus dicuci dengan air mengalir, bukan air rendaman di ember. Idealnya pun, harus ada lebih dari satu wastafel untuk setiap jenis alat makan. KanKes, dalam hal ini, telah mengaplikasikannya dengan baik, seperti gambar di bawah ini.

Punya Tempatnya Masing-Masing
Punya Tempatnya Masing-masing | © Katondio Bayumitra Wedya

Tempat mencuci baki dan piring kotor pun dibedakan. Oh iya, yang menambah keunikan dari kantin KenKes adalah ada juga aturan untuk para pelanggan, yaitu kita harus membawa sendiri piring dan baki yang kita gunakan untuk makan ke tempat yang telah disediakan. Akses dengan tempat sampah juga cukup dekat. Jadi, tidak ada alasan bagi pelanggan meninggalkan sampah bukan pada tempatnya. Karena posisinya di outdoor, KanKes juga dilengkapi dengan alat yang berfungsi untuk mengusir lalat dan nyamuk yang mengganggu kita saat makan.

Dua Tempat Sampah dengan Contoh
Dua Tempat Sampah dengan Contoh | © Katondio Bayumitra Wedya
Alat Pengusir Serangga
Alat Pengusir Serangga | © Katondio Bayumitra Wedya

Kemudian, mari kita bahas perihal menu favorit! Di Kantin Kesehatan FKM UI, menu yang biasa menjadi favorit mahasiswa adalah nasi rames tuna, sate ayam, dan ayam goreng keprek. Saya memesan nasi rames tuna, yaitu sajian nasi yang dalam komposisi gizinya hampir memenuhi “Pola Makan Gizi Seimbang” (konsep gizi yang menggantikan istilah lama, 4 Sehat 5 Sempurna). Terdiri dari karbohidrat (nasi), protein hewani (tuna), protein nabati (tahu dan tempe), sayur (buncis). Hanya minus buah saja. Menu sayur ada pilihan lainnya loh, seperti capcay atau sayur sop.

Pada Sabtu siang itu, saya sebenarnya ingin memesan nasi dengan ayam goreng keprek, tetapi karena antrian yang panjang, saya mengurungkannya. Apa itu ayam goreng keprek? Itu adalah ayam goreng tepung yang cara penyajiannya diblender. Iya, diblender. Ayam goreng tepung itu diblender lalu disajikan dengan cabai yang juga diblender. Jumlah cabai yang diblender menandakan level-levelnya. Menu ini konon mulai muncul di Universitas Pancasila, kemudian salah satu pegiatnya membawa menu tersebut ke Universitas Indonesia, tepanya di Kantin Kesehatan ini.

Nasi Rames Tuna
Nasi Rames Tuna | © Katondio Bayumitra Wedya

Dan satu hal lagi, bahwa beberapa lapak pedagang menyediakan informasi kandungan gizi dan kalori untuk beberapa menu yang didagangkan. Jadi, buat kalian yang ingin mengatur pola makan dapat mengetahui, berapa kira-kira kalori yang terdapat pada menu yang kalian pesan.

Ketidaksempurnaan itu pasti ada, begitu juga dengan KanKes. Salah satunya adalah kucing yang berkeliaran. Hewan iseng yang satu itu juga tak jarang suka naik ke atas kursi, bahkan meja. Untungnya, pegawai di sana cepat tanggap untuk mengusir kucing yang sudah bertindak berlebihan itu. Meja-meja dan kursi sesegera mungkin dibersihkan kembali.

Sebagian pelanggan, yang makan sambil keasyikan ngobrol, kadang juga suka lupa (atau pura-pura lupa) membawa piring dan baki bekas makan mereka ke tempatnya. Hal ini menyebabkan piring, gelas, sendok, dan baki kotor terdiam lama di atas meja. Untungnya, sekali lagi, para pegawainya cukup cepat tanggap, walau mereka kadang suka kewalahan juga kalau kondisi kantin sedang ramai-ramainya.

Kantin model Kantin Kesehatan FKM UI ini mungkin masih jarang di Indonesia, tetapi saya pikir model kantin inilah yang ideal untuk diterapkan. Tak bisa dipungkiri bahwa tingkat higientias persiapan dan penyajian makanan adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan guna meminimalisir risiko penyakit infeksi akibat bakteri. Tentunya, hal ini masih terus menjadi PR bersama untuk para pedagang dan juga pelanggan. Intinya, harus ada kesadaran dan kerjasama yang baik dari kita semua untuk menciptakan lingkungan makan yang bersih.

Katondio Bayumitra Wedya

Muslim, Sarjana Gizi Anti-Mainstream, Pemilik Blog giziberkarya.blogspot.com.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405