KEIKO BAHABIA: Karena Kopi Membuat Bahagia

Keiko Bahabia
Di meja ini racikan kopi siap disajikan. © Eko Susanto

Saya mudik lebaran ke tanah kelahiran di Tanjungkarang, Lampung. Dan selama Ramadan aktivitas ngopi saya jadi agak acak untuk tidak mengatakan berkurang. Itu sebabnya, saya berencana untuk ngopi di luar rumah sambil mengajak seorang kawan. Namanya, Albi. Rumah Albi di Telukbetung, sementara saya di Tanjungkarang yang jarak keduanya sekitar 5 kilometer.

Kami janjian pukul 19.30 WIB. Kedai kopi yang kami tuju adalah Keiko Bahabia yang terletak di utara rumah kami, tepatnya di jalan Ryacudu, Way Halim. Cerita dari Albi, Keiko Bahabia didirikan oleh sekumpulan anak muda Lampung yang gemar berat akan kopi. Upaya mereka untuk menyajikan pengolahan kopi modern ke masyarakat bermula dari warung tenda kakilima hingga sekarang membuka gerai kopi. Mendengar cerita itu, saya semakin tertarik untuk datang ke Keiko Bahabia.

Saya menyiapkan sepeda motor setengah jam sebelum waktu yang disepakati. Saya datang lebih awal karena rasa penasaran, terlebih saya belum sempat menikmati suasana ngopi di kota kelahiran. Maklum saja, sejak remaja hingga saat ini saya belum pernah sekalipun minum kopi di kafe atau gerai khusus kopi di Lampung. Bukan karena malas tapi memang belum ada kedai khusus minum kopi masa itu.

Keiko Bahabia
Daftar menu ditulis manual menggunakan pulpen. © Eko Susanto

Saya tiba di Keiko Bahabia 10 menit kemudian. Meja kedai masih diisi oleh 2 pasangan anak muda yang asyik ngobrol.

Kedai ini terbilang mungil. Lebar bangunannya hanya sekira 2,5 meter dengan panjang kira-kira 10 meter. Di dalam ruangan ada 6 set meja ditata secara berjajar. 4 set meja kursi di dalam ruangan, termasuk yang 2 set diduduki oleh 2 pasangan tadi, sedangkan yang 2 set sisanya ada di teras.

Saya memilih duduk di dekat pintu. Dinding ruangannya dihiasi topeng kayu, serta beberapa bingkai gambar dan foto-foto panorama pantai. Di atas plafon ruangan terdapat lampu tungsten yang dibingkai mirip ornamen ukiran khas Jepara. Di sebelah lampu ornamen itu tergantung selembar kertas karton berwarna hitam bertuliskan: “Coffee is Hug in Mug.”

Dari tempat saya duduk, saya melihat pada meja barista, di atasnya deretan toples berisi bermacam jenis biji kopi sangrai. Toples-toples yang berjajar itu diberi tulisan nama jenis kopi dengan desain menarik, mulai dari kopi bajawa, aceh, hingga wamena.

Saya meminta daftar menu dan melihat kopi apa saja yang siap disajikan. Harganya antara 10 ribu rupiah hingga 45 ribu rupiah. Saya memesan kopi wamena sambil bertanya kepada seseorang yang ada di bar, tentang siapa pemilik kedai ini, karena saya ingin tahu cerita sesungguhnya tentang Keiko Bahabia.

Seorang lelaki muda berparas tampan datang menghampiri saya. Badannya berisi, agak gempal. Tatapan matanya tajam namun bersahabat, dan gesturnya berwibawa. Jenis anak muda progresif. Lalu ia menyebutkan namanya; Adi Cahyadi. Genggamannya saat berjabat tangan, mantab. Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Lampung ini merupakan salah satu pemilik Keiko Bahabia.

Keiko Bahabia
Adi Cahyadi, salah satu tokoh di balik suksesnya Keiko Bahabia. © Eko Susanto

Gagasan membuat kedai kopi karena awalnya ia sangat kesusahan bila hendak ngopi sambil nongkrong bareng teman-temannya, begitu kata Adi. Kemudian ia mengajak Novalim Purlasyanko untuk membuka warung tenda di tepi jalan Pagaralam. Walaupun warung tenda kakilima, Adi dan Novalim ingin warung kopinya mempunyai konsep komunitas dan menyediakan bermacam jenis kopi yang ada di Nusantara, mulai dari kopi aceh hingga kopi papua.

Bermodalkan 10 juta rupiah, Adi dan Novalim mulai mencicil beli perlengkapan, dan juga kopi dari supplier dari Jakarta. “Warung itu misbar, mas,” katanya. Kemudian ia melanjutkan sambil tertawa, “Kalo gerimis bubar.”

Selain itu, banyak tantangan yang dihadapi Adi dan Novalim, salah satunya komplain tentang harga yang mahal. Banyak yang bilang kok di sini ngopi aja 5 sampai 10 ribu rupiah padahal kalau di warung cuma 2 ribu rupiah? Nah, menjelaskan hal-hal seperti itu yang menjadi tantangan Adi dan kawannya. “Kami membuka warung kopi tidak hanya melulu memikirkan untung. Tapi juga melakukan edukasi kepada anak muda lampung tentang ngopi,” kata Adi.

Selang 8 bulan, warung tenda di jalan Pagaralam pindah ke jalan Malabar, Way halim. Di sini, formasi usaha berubah dengan masuknya Iwan, Dito, dan Apri. Di Jalan Malabar warung tenda ini bisa berjalan hingga setahun kemudian. Beberapa teman lain masuk saat pindah tempat. Sejak saat itu pengelola Keiko Bahabia berenam. Selain Adi, ada pula Novalim Purlasyanko, Ridwan Dwimeiyanto, Afri Supriadana, Wisnu Santoso Putro, dan Widya Wirawan. Keenamnya sahabat baik di kampus maupun di kelompok pecinta alam. Adi bertemu Wisnu malah saat mendaki gunung. Dalam formasi 6 ini Wisnu masuk menggantikan Dito yang keluar.

Keiko Bahabia
Sorry, no wifi. Talk to each other. © Eko Susanto
Keiko Bahabia
Punggawa Keiko Bahabia: Wisnu, Adi, Novalim, Ridwan, Afri, & Widya Wirawan. © Eko Susanto

Albi datang berserta rombongan komunitas vespa. Ada 9 orang dengan masing-masing membawa vespa. Kursi ditambah, kopi dipesan dan obrolan semakin ramai.

Nama ‘Bahabia’ merupakan plesetan dari kata bahagia. Sedangkan Keiko maksudnya kedai kopi. Kata Bahabia sering diucapkan Adi dan teman-temannya jika ada seorang teman yang sedang, ya senang atau berbahagia, maka teman lainnya akan menimpali sambil bercanda, wah dia nih sedang bahabia.

Keiko Bahabia sudah berjalan 4 tahun sejak dari kakilima hingga ditempatnya yang sekarang. Formasi 6 ini belajar bersama tentang segala hal mengenai kopi. Mulai dari roasting, mengunakan alat, dan membuka jaringan supplier kopi berkualitas. Hasilnya kini sudah mulai kelihatan baik. Keiko Bahabia ramai dikunjungi anak muda yang senang ngopi dan berencana akan membuka cabang di kota Metro, Lampung Tengah.

Di Keiko Babahia tak tersedia hotspot wifi seperti lazimnya kedai kopi di kota besar lainnya. Alasannya, kata Adi, karena Keiko Bahabia ingin agar pengunjung yang datang tidak hanya sibuk sendiri tetapi agar saling berinteraksi. Saling berkenalan dan bergabung membentuk komunitas ngopi. Cara ini cukup berhasil. Saya melihat pengunjung yang datang rata-rata saling toast dan berjabat tangan. Artinya, pengunjung yang datang merupakan pelanggan setia, penikmat kopi, dan senang ngobrol. Yang belum kenal menjadi saling kenal. Dan bisa saja seseorang akan menemukan cintanya di sini.

Adi dan teman-temannya sekarang sedang berupaya untuk menjalin kerjasama dengan petani kopi di Lampung. “Kebanyakan petani kopi di Lampung senang jual cepat. Padahal kalau mau sabar para petani kopi itu bisa mendapatkan harga yang tinggi. Misalnya dengan menyortir mana kopi yang berkualitas, serta bagaimana memasak kopi yang baik. Selama ini kopi di lampung di-roasting asal hitam. Sehingga rasanya hanya pahit dan aromanya kurang memikat,” katanya.

Keiko Bahabia sudah ramai pengunjung. Malam sudah pukul 23.00 WIB. Gelas saya dan teman-teman saya sudah kosong. Saya meminta Adi dan temannya untuk berpose di meja barista, untuk foto bersama. Wajah-wajah bahagia terlihat berseri.

Ini malam ketiga menjelang lebaran. Saya menikmati suasana ngopi malam ini. Teman yang banyak dan hangat, suasana yang menyenangkan, membuat hati dan pikiran tenteram. Benar-benar membuat saya bahabia, eh bahagia.

Eko Susanto

Fotografer partikelir, penikmat kopi robusta.

  • CangkirKopi

    Sepertinya tempat ngopi ini sangat hangat akan kebersamaan semoga diberi kesempatan jika menyambangi kota Lampung untuk sekedar ngopi di Keiko Bahabia biar ikut merasakan bahabia eh.. bahagia 😀

    begitu terasa Coffee is Hug in Mug 🙂

  • eko susanto

    Betul, mas…
    Dijamin hangat dan akrab hehehe…