Kedai Tak Bernama

Kedai Kopi di Kebun Kopi Blawan
Kedai Kopi di Kebun Kopi Blawan

Secangkir kopi specialty barangkali hal yang mudah diraih dengan semakin menjamurnya kafe atau kedai kopi. Tapi, pernahkah Anda menikmati kopi specialty sambil berendam air hangat? Pernahkah Anda menikmati kopi specialty sambil membaca buku, dan di hadapan kita terhampar sungai yang mengalir deras, dengan suara gemuruh air? Bagaimana jika semua itu dihadirkan secara bersamaan?

Saya tidak bisa memberi Anda nama kedai yang menawarkan sensasi minum kopi semacam itu, karena kedai yang saya maksud tidaklah mempunyai nama. Kedai kopi yang saya maksud terletak di daerah sebelum Kawah Ijen. Persisnya, di pemandian air hangat Blawan. Sekitar 55 km dari pusat Kabupaten Bondowoso.

Lama perjalanan antara 1.5-2 jam jika memakai sepeda motor. Jika menggunakan mobil atau bus, bisa lebih lama lagi karena medan yang harus ditempuh cukup merepotkan dan jalannya cenderung sempit serta berbatu.

* * *

Lewat tengah malam, kami tiba di gerbang masuk kawasan wisata Kawah Ijen, Bondowoso. Sampai beberapa kilometer sebelum Kawah Ijen, ada pertigaan. Kami berbelok ke arah kiri, mengikuti plang penunjuk jalan bertuliskan Kebun Kopi Blawan. Di sana pula terdapat pemandian air hangat dan kedai kopi tersebut.

Di malam selarut itu perjalanan menuju kawasan ini sungguh menarik. Hawa dingin menembus jaket tebal. Jalanan sepi dan tiada lampu, bintang-bintang di langit semakin terlihat lebih terang. Bintang yang lebih terang memancing kami menengok ke atas. Tetapi kami terlalu sering menengok ke atas akan membahayakan, kami harus waspada lantaran jalan yang kami lalui di beberapa ruas rusak parah.

Sebenarnya, pemandian Blawan juga telah tutup. Waktu itu jam menunjukkan pukul 2 pagi. Tapi karena seorang kawan telah sering berkunjung ke sana, kami punya akses untuk pergi ke pemandian tersebut kapan saja. Kami menuju rumah Umar Faruk. Ia biasa dipanggil Pak Haji, penjaga pemandian sekaligus pengelola kedai kopi tak bernama itu.

Hawa dingin makin menusuk tak karuan. Tangan saya sampai berkerut dan gemetar. Kami mengetuk pintu. Tak lama kemudian Pak Haji mengantarkan kami ke pemandian dan menyalakan beberapa lampu di pemandian.

Ngopi di Pemandian Air Panas Blawan
Ngopi di Pemandian Air Panas Blawan

Kolam-kolam air hangat mengeluarkan asap-asap lembut. Kami tak tahan segera berselimutkan air hangat itu. Satu per satu dari kami membuka pakaian, berganti celana pendek, dan berendam. Saya pun menceburkan diri. Airnya panas. Masing-masing kami mesti melakukan penyesuain suhu dulu sebelum berhasil berendam penuh. Seorang kawan yang baru pertama kali ke sana mencoba langsung menceburkan diri. “Aduh, panas!” teriaknya sembari memegang bagian dari tubunya yang paling sensitif.

Pak Haji menyambut kami seperti keluarga sendiri. Dia menawarkan kami kopi dan mie instan, meskipun kedainya tutup dan dia semestinya sudah nyenyak. Saya memesan satu porsi mie instan kuah dan dua porsi mie instan goreng. Bukannya saya tidak paham kesehatan, tapi saya punya satu kelemahan, tidak bisa tidur dalam keadaan perut lapar. Jadi urusan kesehatan ditunda dulu, yang penting saya bisa tidur setelah ada tiga porsi mie instan di perut.

Kami berenam berendam air panas di malam hari. Saya ingat kartun buatan Jepang yang biasa ditonton anak-anak Indonesia di hari Minggu pagi, Crayon Sinchan. Bedanya, di pemandian tempat kami berendam tidak ada tante-tante seksi yang biasa digoda Sinchan. Kopi pun tersaji, meski tidak dihadirkan dengan cangkir khusus, hanya gelas belimbing, tak mengurangi rasa kopi yang istimewa.

Gelak tawa menemani kami dini hari 12 Oktober 2012 itu. Kami saling bercanda. Sialnya, saya lupa tak membawa celana dalam pengganti. Jadi sebelum terjun ke kolam, saya mesti melepas dulu celana paling berharga malam itu. “Oh, ada model celana dalam terbaru, panjangnya selutut,” kata seorang kawan. Gelak tawa pun berderai.

* * *

Cangkruk di Kebun Kopi Blawan
Cangkruk di Kebun Kopi Blawan
Kedai Kopi Siti Maimunah
Kedai Kopi Siti Maimunah

“Ini kopi Arabika bukan ‘Arabusta’,” kata Siti Maimunah, istri Pak Haji pagi harinya.

Dia mungkin mengira ada dua macam kopi, kopi Arabika dan kopi ‘Arabusta’. Saya menahan tawa yang nyaris meledak. Kemungkinan besar maksudnya adalah kopi Robusta, yang biasanya ditanam di dataran rendah di Indonesia. Sedangkan daerah ini adalah satu penghasil kopi Arabika terbaik di Indonesia. Para penikmat kopi menyebutnya Java Coffee.

Di kedai kopi ini Siti Maimunah juga menghidangkan kopi. Pastinya, ia mengambil langsung biji kopi langsung dari pohon yang berderet-deret di sekitar. Maka jangan heran jika tak ada menu kopi lain di sini, hanya ada kopi Arabika Ijen.

Di hari itu Siti Maimunah harus membuka kedainya lebih pagi dari biasanya karena kedatangan kami. Ia memang membuka kedai setiap hari, sembari menami suaminya yang bertugas menjaga pemandian air hangat. Dia sempatkan pula menanak nasi lebih banyak dari biasanya agar kami berenam bisa makan.

Pukul 6.30, matahari sudah meninggi. Saya kembali berendam supaya hawa dingin pegunungan segera terusir. Kopi lagi-lagi menemani. Tapi di pagi hari ini saya tak lama-lama berendam. Saya meski ke Kebun Kopi Blawan yang dikelola PTPN XII untuk menggali informasi seputar kopi Ijen ini.

Sayangnya, kami tidak berhasil mendapat banyak informasi karena belum mendapatkan surat ijin dari direksi PTPN XII. Maka kami kembali ke kedai.

Perut saya kembali keroncongan. Siti saya lihat baru selesai makan dengan ikan tongkol. Saya pun tergiur. Seorang kawan memesan nasi dengan lauk telur dadar. Saya memesan persis dengan yang Siti makan: sepiring nasi dan ikan tongkol goreng. Bonusnya adalah sambal segar ekstra pedas yang lombok dan tomatnya dipetik langsung dari pohon yang tumbuh di sebelah tempat kami makan.

Sepiring pertama secara kurang ajar dengan cepat tandas. Saya tak bisa mengelak, harus tambah lagi. Saya menengok ke tempat penyimpanan nasi, ada yang istimewa: nasi dengan campuran singkong.

Acara prasmanan pun selesai. Satu per satu dari kami tumbang oleh kenyang dan kantuk. Namun saya tidak terbiasa tidur lama di siang hari. Saya terbangun, kembali memesan kopi, dan menikmatinya di pinggir kolam air hangat. Kebetulan sekali pemandangan di depan saya adalah arus sungai yang deras. Di sana saya menikmati kopi ketiga hari itu sembari meneruskan membaca Caldas karya Gabriel Garcia Marquez. Peraih Nobel Sastra pada tahun 1982 lewat novelnya yang legendaris, Seratus Tahun Kesunyian.

* * *

Matahari mulai bergerak ke barat. Kami telah bersepakat akan pulang ke Jember di sore hari, agar terhindar dari sengatan matahari. Satu per satu kawan mulai terjaga dari tidurnya. Kami segera berkemas.

Sebelum pulang, kami berterima kasih pada Pak Haji dan istrinya, sembari tak lupa membayar semua makanan dan minuman yang sudah kami sikat bersih sebelumnya. Kami tak perlu banyak menguras isi kantong. Namun, yang membuat kami agak geleng-geleng kepala adalah harga kopinya. Segelas Java Coffe yang dibanderol mahal di kedai-kedai lain hanya dihargai seribu rupiah bila tanpa gula, dan seribu lima ratus bila dengan gula.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405