Kedai Kopi Sean: Kedai Kopi Sederhana di Pelataran Pencucian Kendara

Pilihan kopi-kopi spesial Kedai Kopi Sean
Pilihan kopi-kopi spesial Kedai Kopi Sean | © Caesar Giovanni Simatupang

Di tengah mendung sebuah hari kerja yang terasa semakin panjang, sebuah kedai kecil yang terletak di pelataran pencucian kendara, di bilangan Pos Pengumben, Jakarta, jadi pilihan untuk berhenti sejenak. Menghindarkan diri dari basah hujan, sekaligus dari arus ganas jalan pulang kota Jakarta.

Mendung seketika gugur dan hujan hari itu lantas memastikan dirinya dengan suara jatuh, riuh ditambah dengan suara gemuruh laju kendaraan di jalan raya yang tersendat. Jalanan sesak. Pengendara sama deras dengan air hujan kala itu.

Adalah si barista, Sobrun Jamil, seorang pemuda kurus yang menyukai kopi tubruk. Ia memulai usaha Kedai Kopi sejak tahun 2016 di tempat pencucian kendaraan milik kakaknya. Kedai Kopi Sean yang jadi pilihan namanya ini, diambil dari nama keponakannya.

Tak disangka, lelaki berambut gondrong asal Pekalongan ini juga memiliki cinta akan sastra. Dirinya mengaku sebagai salah satu penggerak di salah satu gerakan apresiasi puisi di Jakarta. Dan lalu, berlarutlah bincang kami di tengah hujan hari itu. Waktu sedikit terlupakan.

“Teman-teman bilang aku ini sastrawan lah, apa lah! Saya mah cuma berpuisi dan semua orang pasti bisa berpuisi. Coba saja, kalau kamu tidak punya uang atau sedang susah setengah mati, pasti doamu nyastra” ujarnya dengan ramah dan rendah hati sambil lanjut menyeruput kopi tubruknya. Namun, tetiba obrolan lenyap tertelan bunyi knalpot motor yang terlalu menggelegar.

Meja Barista yang cukup sederhana
Meja Barista yang cukup sederhana | © Caesar Giovanni Simatupang
Barista, Sobrun Jamil menyukai kopi dan juga sastra
Barista, Sobrun Jamil menyukai kopi dan juga sastra | © Caesar Giovanni Simatupang

Secara tampilan, kedai ini terbangun dari sebuah bar kotak berukuran 1 x 2 x 1 meter, lengkap dengan kursi yang terbuat dari kayu jati belanda. Di atasnya, terdapat beberapa alat seduh manual, juga beberapa pilihan kopi Indonesia di dalam stoples kaca bertuliskan daerah asal kopi.

Pada bagian depan kotak tersebut, terdapat papan kayu yang memanjang dari ujung satu ke ujung lainnya, diperuntukkan sebagai meja saji. Tidak terlalu besar, tetapi pas untuk meletakkan kopi, asbak, dan barang bawaan berukuran kecil. Sederhana saja, secara desain, Kedai Kopi Sean ini adalah sebuah kedai yang terdiri hanya dari sebuah bar dan beberapa bangku.

Tanpa tembok dan atap khusus, serta larangan meletakkan papan promosi kedai di pinggir jalan, dibutuhkan kejelian dan kehendak semesta untuk menemukan kedai kopi satu ini. Lokasi yang berseberangan dengan apartemen Permata Eksekutif, tersempil di ujung kiri dalam pencucian kendara, jauh dari jangkauan mata.

“Tamu sih tergantung dengan tamu cuci mobil aja, paling sudah ada satu-dua yang datang karena tahu dari Instagram, teman-teman juga sering datang” kata Sobrun, di tengah suasana ribut klakson jalanan dan deru sepeda motor Jakarta dengan beragam nada yang kadang melenyapkan obrolan.

Blender Elektrik jadi senjata utama menggiling kopi di kedai ini
Blender Elektrik jadi senjata utama menggiling kopi di kedai ini | © Caesar Giovanni Simatupang

Cangkir pertama malam itu adalah Cappucino dengan biji kopi Toraja yang memiliki busa tebal sempurna. Uniknya, buih susu tebal itu dibuat dengan menggunakan blender elektrik. Teknik sederhana yang baru penulis temukan di tempat ini. Dengan bangga, hari itu, Sobrun mempresentasikan teknik tersebut.

Setelah siap saji, ia minta maaf karena belum bisa membuat tampilan kopi tersebut menarik dengan Latte art seperti kedai kopi akhir-akhir ini. Maafnya dapat diterima, mengingat kedai kopi waralaba berinisial S itu pun tak menyajikan kopi dengan hiasan gambar di atas kopinya. “Yang terpenting kopi, rasa dan nuansa kedainya, Mas, hehehe,” kata penulis, tanda memaafkan dengan tulus.

Lalu perbincangan berlanjut ditemani kopi Bali Kintamani yang dibuat dengan vietnam drip tanpa susu. Sajian kopi Arabika asal Bali, yang khas dengan body tipis dan rasa citrus malam itu menyadarkan malam sudah mulai larut, mengingat perjalanan pulang masih teramat jauh, berpamitan adalah langkah yang terpaksa dilakukan karena teringat akan kewajiban untuk bekerja esok hari.

Perbincangan belum selesai, kopi pun belum dicicipi semua, adanya kabar kalau akan ada kopi asal daerah lain akan hadir di waktu mendatang menjadi alasan untuk datang kembali ke kedai yang hampir tersembunyi ini.

Caesar Giovanni Simatupang

Peminum segala kopi yang percaya bahwa rasa tergantung pada kondisi, konteks dan konsekuensi.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405